ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
LEAK


Aku sangat penasaran dengan sosok Leak. Tapi aku rasa, bukan aku saja. Itu sebabnya banyak sekali budayawan yang meneliti tentang kebenaran leak. Makhluk yang satu ini sangat mengejutkan.


"Aku pernah membaca, Barbara Lovric, peneliti Australia yang meneliti leak, mengutarakan ilmu sihir Bali dibedakan tingkatan dan jenisnya menurut kekuatan dan pengetahuan pemilik ilmu tersebut. Ada dua jalur ilmu di Bali, pengiwa (jalur kiri, black magic) dan penengen (jalur kanan, white magic)."


"Aku tidak mengerti maksudmu, yang penting kamu mengerti perkataan dariku, Sarah."


"Tentu saja aku mengerti. Aku hanya memadukannya dengan ilmu pengetahuan karena selama ini, banyak manusia yang mengatakan bahwa ilmu hitam seperti ini ataupun roh halus itu adalah omong kosong. Aku sedang membuka pikiran ku agar mampu menangkap apa yang kita bicarakan saat ini."


"Kalau menurut manusia yang masih hidup, seperti apa ilmu leak itu?" tanyanya yang sepertinya sangat paham perkataan dariku.


"Ilmu pangleyakan, menurut Karji, salah satu dari 5 cabang ilmu pengiwa, yakni pangasren, pangeger, pangasih-asih, panangkeb. Mereka yang menguasai ilmu pangasren, misalnya, akan tampak lebih cantik atau tampan."


"Di Jawa juga banyak yang seperti itu," tukasnya sambil terus berbicara dengan tenang.


"Lalu apakah leak ini memiliki tempat khusus?"


"Beberapa tempat di Bali seperti Sanur, Suwung, Sabha (Gianyar), Nusa Penida, atau Bangli, disebut sebagai tempat yang kekuatan leaknya ampuh, tapi sejauh ini tidak didapatkan keterangan tentang komunitas leak. Yang harus dipahami, kekuatan leak tidak terletak pada persatuan di antara mereka, melainkan bersifat individual. Kadang-kadang memang ada leak yang berkumpul, tapi itu dilakukan hanya untuk menguji kesaktian masing-masing," jelasnya agar aku benar-benar paham apa yang aku hadapi saat ini.


"Jika bertempur, bagaimana wujudnya?"


"Belang bilang, ia menyerupai bola api berwarna kuning kemerahan saat bertarung tadi."


"Jadi itu yang menyebabkan kaki belakang Datuk belang terkena luka bakar?"


"Benar," sahutnya, lalu aku memegang kaki ku yang terasa sakit dan panas.


"Kamu mulai menyatu dengan Belang. Padahal dia sudah berusaha untuk membatasi dirimu dan dirinya saat bertarung sehingga jika terjadi sesuatu padanya, kamu tidak merasakan akibatnya, Sarah."


"Iya ... apakah leak yang menyerang Feli ini sangat hebat?"


"Untuk soal itu, aku tidak tau karena leak juga terdiri atas berbagai tingkatan. Yang dibedakan atas kemampuannya bersalin rupa (mengganti wujud/menjelma) dan menyebarkan bencana penyakit atau guna-guna. Pada tingkat rendah, hanya bisa berubah menjadi satwa, dan biasanya berwarna putih. Binatang hasil perubahan ini disebut kadaden (jejadian). Tingkat itu disebut pamuronan (dari kata buron yang berarti hewan)."


"Begitu?"


"Selain mampu mengubah diri menjadi binatang, juga dapat mengirim guna-guna yang mengakibatkan sakit pada orang-orang dekat, seperti keluarga atau tetangganya. Pada leak tingkat rendah, untuk ngeleyak dibutuhkan sabuk pangleyakan berupa ikat pinggang dari kain putih atau kain poleng hitam-putih, diberi gambar rerajahan dan dimanterai. Lalu bagian dalam sabuk itu biasanya juga diberi potongan logam tipis, sepanjang satu ruas jari anak-anak. Biasanya berupa emas, perak, atau tembaga, yang digurati huruf-huruf sakti. Ada sejumlah dukun yang menjual sabuk semacam itu. Untuk bisa jadi monyet, misalnya, harga sabuknya sekitar Rp 40.000,- zaman dulu," jelasnya tanpa henti.


"Tapi jika dilihat dari sudut pandang Feli, ia melihat makhluk itu seperti Rian, bukan hewan."


"Bisa dikatakan, dia leak tingkat tinggi," ucapnya menduga tentang hal yang terjadi.


"Aku ingin tau tingkatannya? Tolong jelaskan?"


"Ada juga tingkatan yang namanya tingkatan penestyan atau pendestyan. Ini lebih sakti lagi, dapat membuat orang sakit atau mati dari jarak jauh. Caranya, yang disebut ndesti atau nesti, adalah dengan menusuk atau membakar "gambar" calon korban yang dibuat di atas kertas atau kain. Leak tingkat tinggi dapat mengubah diri menjadi garuda atau rangda. Namun selain itu konon juga dapat menghilang. Mereka dapat meninggalkan badannya dan melayang hanya dengan, kepala dan isi perutnya."


"Tapi mereka itu manusia?" tanya ku heran. Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan hal-hal tersebut.


"Dulu, pada masa ku. Sepasang suami-istri bercerai gara-gara sang istri yang dituduh ngeleyak. Ketika terbangun di malam hari, sang suami melihat badan istrinya ada dalam rumah, tanpa kepala. Agaknya, malam itu kepala dan "jeroan" sang istri sedang berjalan-jalan menghirup angin malam. Si suami jelas menjadi ketakutan dan besoknya segera minta cerai."


"Tidak terbayang olehku," ucap ku sambil menghela nafas panjang. "Tapi, apa hubungannya leak itu dengan Feli?"


"Naik tingkat butuh korban, Sarah."


"Apa?"


"Untuk mencapai kemampuan yang semakin tinggi atau naik tingkat, leak bisa menempuh cara yang disebut ngisep sari. Pada tingkat leak yang rendah, seperti pamuronan, memelihara ilmu dan naik tingkat membutuhkan korban. Korban hanya dibutuhkan sampai tingkat Calonarang. Sesudah itu tidak dibutuhkan korban lagi. Tingkatan leak sesudah Calonarang adalah Mpu Bharadah, Surya Gading, Brahma Kaya, I Wangkas Gading Api, I Ratna Pajajaran, Garuda Mas, I Siwer, I Baligodawa. Sedangkan yang tertinggi tingkatannya adalah leak Surya Mas."


"Aku tidak bisa mengingatnya dengan baik," keluh ku dengan rasa kesal.


"Semua leak menyembah kepada perwujudan Batari Durga. Orang yang menerapkan ilmu pangleyakan memang harus berhubungan dengannya. Barang siapa yang mau belajar pengiwa harus minta izin dulu, serta meminta pertolongan (nunas ica) dari batari tersebut."


"Untuk menerapkan ajaran ini, pertama-tama orang harus menyerahkan diri kepada Batari Durga, sang penguasa dunia gelap. Pada malam hari, ia harus pergi ke kuburan dan mendirikan sanggah cucuk, tempat persembahan yang terbuat dari bambu dan ditancapkan di tanah. Sesudah itu, dimulailah sebuah "upacara". Yang mau jadi leak berdiri di atas kaki kiri sambil membengkokkan kaki kanan sekitar 90°. Sesudah itu menari berkeliling sanggah cucuk sambil mengulangi terus posisi tersebut. Putaran semacam itu diulangi beberapa kali, menurut petunjuk dari gurunya."


"Waktu dan jadwal menari untuk para calon leak ini berlainan,untuk setiap orang, tergantung pada otonan (hari pasaran kelahirannya). Proses ini juga dilakukan setiap kali  akan berubah bentuk, namun tidak harus di kuburan.Bisa di sawah atau di tepi kali, di tempat-tempat yang tenget atau angker (mengandung kekuatan supranatural yang negatif). Menurut Ngurah Harta, leak tingkat tinggi biasanya tidak harus mendirikan sanggah cucuk  lagi, cukup dengan banten (persembahan atau sesajen) dan dupa," sambungannya kembali.


"Aku pusing, tidak mengerti," sahut ku pada Wiro sambil memijat kepala ku, tapi ia malah tertawa. "Tidak ada yang lucu, jangan tertawa! Kamu tau banyak tentang leak, jangan-jangan kamu pernah berhubungan dengan mereka? Atau mungkin wanita yang kamu ceritakan tadi adalah istrimu."


"Ha ha ha ha ha ha, tidak seperti itu. Aku suka kamu memanggilku Wiro karena memang usiaku masih sangat muda."


"Berapa?"


"27 tahun."


"Manusia."


"Tapi jika dilihat saat ini, kamu sama sekali tidak seperti manusia," ejek ku dan hal itu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Dari sini, aku dapat mengetahui bahwa Wiro memiliki jiwa khas muda yang kuat.


"Aku mati karena racun, aku terlalu muda dan sombong. Lalu rohku di ikat pada sebuah pohon besar selama puluhan tahun hingga akhirnya aku bertemu dengan putri dan ia membebaskan aku."


"Wiro, bagaimana cara melawan kekasihmu itu?"


"Ha ha ha ha ha ... jangan mengejek ku, Sarah."


"Berisik!" kata Mbah Pecek yang tiba-tiba memunculkan wajahnya yang menyeramkan tidak jauh dari Wiro.


"Kaget aku, nyebelin," ucap ku sambil memegang dadaku.


"Dasar manusia," gerutunya, lalu ia kembali pada posisinya.


"Bagaimana rasanya menjadi korban leak, Wiro?"


"Ini cerita dari zaman ku. Namanya Siti, dia melihat kain putih terbang mengelilingi rumahnya di Denpasar. Sesudah itu beberapa kali dia merasa, antara mimpi dan tidak, masuk ke hutan yang terbakar. Menurut keluarganya, saat mengalami hal itu dia seperti kerasukan setan, menjerit dan meronta-ronta."


"Korban lain, Risa namanya, juga sempat menjerit dan meronta, tetapi dalam keadaan sadar. "Leher saya ke atas, sepenuhnya sadar, namun dia tidak bisa menguasai anggota tubuhnya sendiri. Lalu ia merasa seolah-olah kepalanya menempel pada badan orang lain, karena dia tidak tahu ke mana tangan dan kakinya akan bergerak."


"Seperti kerasukan?"


"Menurut penjelasan yang ada, cara memindahkan kesadaran korban atau korban histeris seperti ini (dalam bahasa Bali sering disebut bebainan) adalah dengan mengirim mantera pangleyakan melalui makanan. Umpan semacam ini disebut cutik. Namun cutik ini tidak selalu sukses. Dulu, aku pernah bertamu ke rumah tetanggaku dan disuguhi teh."


"Lalu, apa yang terjadi? Apa itu yang membuat dirimu tewas?"


"Tidak semudah itu. Persis ketika akan meminumnya, gelasnya pecah berkeping-keping. Dia berniat mengguna-gunai aku," tukas Wiro, lalu ia tertawa lepas.


"Ayo, bagaimana cara melawannya?"


"Leak memang bisa dilawan oleh manusia awam. Menurut guruku, yang penting adalah keyakinan pada diri sendiri. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, kita otomatis memanggil kekuatan kanda pat, untuk mengalahkan unsur pengganggu kehidupan kita. Kanda pat adalah istilah Bali untuk empat unsur yang lahir bersama manusia, yakni ari-ari, darah, lendir, dan air."


"Begitu ya?"


"Menurut kepercayaan Bali, semua unsur itu mendampingi manusia setelah kelahiran dalam bentuk makhluk niskala (tidak kelihatan) yang dapat membantu manusia. Cara paling mudah untuk melawan adalah tidak takut, dengan keyakinan bila Anda berani, leak malah takut. Waktu zaman perang kemerdekaan dulu, banyak yang punya ilmu leak takut pada peluru. Jadi intinya, kalau si korban berani dan menguatkan kemauannya, leak akan kehilangan keampuhannya."


"Terdengar tidak terlalu sulit untuk membantainya."


"Oh iya, mantra yang kamu bacakan saat itu, sangat bagus dan manjur untuk membinasakan leak."


"Mantra?"


"Iya."


"Aku tidak punya hafalan mantra," jawab ku sambil memikirkan sesuatu.


"Allah ... Allah begitu. Lalu ada kursinya juga," katanya yang sepertinya memang tidak tau tentang ayat-ayat Al-Qur'an, tapi dia mempunyai pendengaran dan ingatan yang kuat.


"Itu namanya ayat kursi."


"Jangan bacakan padaku!" ucapnya sangat cepat karena khawatir aku akan membacakan ayat ampuh untuk menghancurkan lelambut tersebut.


"Hampir saja aku membacakannya. Huh ...."


"Apa istimewanya mantra itu?"


"Bukan mantra, tapi surat atau ayat."


"Iya," ucapnya sekali lagi sambil mengangguk- menganggukkan kepalanya. "Surat atau ayat. Namanya surat atau ayat, aku tidak akan salah lagi kedepannya."


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca