
Hari ini aku, Feli, Bu Marisa dan Kak Rio, berkumpul di rumah Bu Marisa untuk memandikan dan menyolatkan Kanaya. Bu Marisa tampaknya mulai bersedia iklas dan melepaskan Kanaya dengan senyuman.
Beliau menyentuh dan membersihkan tiap bagian tubuh Kanaya. Terkadang beliau mencium jasad Kanaya, terutama di bagian yang luka, lebam dan tampak memar. "Istirahat yang tenang ya, Nak!"
"Sabar ya, Bu .... " ucap Feli sambil mengguyur air perlahan di dada Kanaya yang membiru.
Pukul 10.00 WIB, kami memakamkan Kanaya dengan layak dan saat ini aku melihat tidak ada lagi air mata di wajah Bu Marisa. "Aku memang bukan wanita yang melahirkan kamu, Kanaya. Namun aku tetaplah Ibumu. Tunggu Ibu ya, Kanaya!" ucap Bu Marisa sambil mengusap-usap batu nisan yang terukir nama Kanaya, tepat di samping ayahnya, Brian.
Aku dan Feli tidak ingin menangis kali ini. Dengan senyum, kami menaburkan bunga warna-warni yang indah di atas makan Kanaya. "Bagaimana dia menurutmu, Sarah?" tanya Feli.
"Sangat cantik, rambutnya panjang, bibirnya bervolume dan matanya bulat."
"Wow ... aku jadi iri."
"Jangan iri! Jalan hidup kita jauh lebih baik daripada Kanaya. Jujur saja, walaupun aku sangat menderita dengan mataku ini, tapi disini lain aku juga sangat merasa bahagia karena bisa menolong orang lain. Bagaimana dengan kamu, Fel?"
"Kalau aku ... jujur saja, aku bahagia bisa hidup sampai saat ini dan tidak lagi menyesali jari-jari tanganku karena aku bisa bertemu denganmu, Sarah."
"Benarkah?"
"Kamu merubahku, membuka pintu hatiku yang lama terkunci dari dalam, kamu juga memberikan aku kepercayaan dan kasih sayang. Selain itu, kamu juga memberikan aku tempat untuk berlindung dari panas dan hujan, serta kamu memberikan aku Ayah."
"Feli, berjanjilah ...! apapun yang terjadi, kita akan selalu menjaga hati kita satu dengan yang lainnya! Jangan menyimpan rasa iri hati, apalagi dendam."
"Apa kamu meragukan aku?"
"Tidak. Mana pantas aku meragukan orang yang berkali-kali rela mati dan menanggung rasa sakit untukku. Hanya saja, aku juga tidak mungkin sanggup kalau harus menerima penghianatan sekecil apapun darimu."
"Kalau begitu begini saja. Saat kita tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya atau marah, sebaiknya kita menulis surat dan kita letakkan di bawah bantal. Setiap pagi kita akan melihatnya, supaya bisa memahami isi hati sahabat kita."
"Itu ide yang sangat bagus, Feli."
"Sekarang tersenyumlah! Kalau kamu mengunci bibir terus seperti ini, yang ada kamu malah tampak sangat jelek. Kasian Kak Rio."
"Dasar nyebelin. Sepertinya kamu sudah tertular virus Rian. Kamu tau, masak malam itu Rian menjawab pertanyaan Kak Rio dengan gurauan. Padahal kita sedang menghadapi api."
"Memangnya apa yang dia katakan?"
"Aku bilang iblis itu di hadapan kita, terus Kak Rio tanya, kita harus baca apa? Eh dijawab sama Rian katanya, apa saja asal jangan ucapan selamat datang. Gila ngak tuh? emang dia pikir kita panitia penyambut tamu di acara kondangan?" ujar ku tanpa henti sambil terus melangkah meninggalkan pemakaman persama Feli, Kak Rio dan Bu Marisa yang berjalan di depan kami.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... bagaiamana dia bisa berkelakar saat keadaan genting tersebut?"
"Ngak tau ... kurang makan lemak kali thu anak," kataku lalu tertawa yang disambut dengan tawa Bu Marisa, Feli dan juga Kak Rio.
Kami hampir meninggalkan pemakaman umum, tapi pada saat aku sedang tertawa menghadap Feli, tiba-tiba kaki kiri ku tersandung sesuatu dan aku hampir terjatuh. Syukurnya Feli sigap dan menangkap tubuhku dengan sangat cepat.
"Kamu ngak apa-apa, Sarah?" tanya Feli dan saat itu Kak Rio dan Bu Marisa membalik arah menghadap kepadaku. Keemudian Kak Rio membantuku untuk kembali berdiri dan berjalan, tapi di saat yang bersamaan aku merasa kaki kiriku ditarik oleh sesuatu yang sangat kuat.
"Sepertinya ada yang menarik kakiku dengan kuat," ucapku dengan suara yang sangat pelan karena aku merasa ini bukan hal yang baik.
"Ya ampun Sarah, tidak lagi. Jangan dulu!Ketakutan ku saja belum berakhir dan bekas memar di tanganku belum lagi pudar," ujar Feli mengeluh sambil memperlihatkan tangannya yang cidera.
"Sayang, ikutin aku!" ucap Kak Rio sambil menatapku dalam-dalam, lalu kami membaca Surah al-fatihah, surat an-nas, surat al-ikhlas, surat al-lahab, dan ayat kursi. Terakhir Kak Rio memandu ku untuk membaca Surat Fushshilat (ayat 36).
"Wa immā yanzagannaka minasy-syaiṭāni nazgun fasta'iż billāh, innahụ huwas-samī'ul-'alīm." Lalu aku mengikutinya dan setelah itu kakiku bisa diangkat dan ditarik dengan leluasa.
"Baik, Bu." Kami pun melangkah pergi meninggalkan pemakaman umum tersebut.
"Seingat saya, itu kuburan seorang gadis yang diperkosa lalu di bunuh oleh pacarnya sendiri. Kebetulan waktu itu dimakamkan serentak dengan suami saya, makanya saya bisa tau," kata Bu Marisa saat berada di dalam mobil.
"Terus penjahatnya sudah ditangkap, Bu," tanyaku ingin tau.
"Itu yang saya tidak tau, saya tidak menanyakannya. Tapi yang menyedihkan adalah, menurut pihak keluarga, ada bagian dari dirinya yang hilang dan itu merupakan bagian yang paling berharga."
"Apa itu, Bu?" tanyaku semakin penasaran.
"Kepala, Sarah."
"Apa? maksud Ibu kepala gadis itu hilang atau belum ditemukan? berarti dia dikubur tanpa kepala, begitu?"
"Ya amuuuuunnn ... aku ingin istirahat dan kuliah seperti anak-anak gadis pada umumnya," ujar Feli sembari memegang kepala dengan kedua tangannya dan dia memang tampak ingin melakukan aktivitas normal seperti gadis lainnya.
Aku ingin memecah pikiran buruk Feli agar dia lebih tenang. "Kak Rio, apa arti ayat terakhir yang Kakak bacakan tadi?"
"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui," ucap Kak Rio sambil menyetir mobil.
"Oh itu artinya. Kalau boleh tau, dari mana Kakak belajar semua ayat-ayat itu?"
"Dari Papa dan guru ngaji. Aku kan anak laki-laki, jadi harus paham walaupun sedikit karena pada ujungnya, laki-laki akan menjadi imam, meskipun hanya sebatas di rumahnya sendiri. Setidaknya, aku bisa mengajari putra putriku nanti. Itu kata Papa," tugas Kak Rio sambil tersenyum dan mengintipku dari kaca.
"Itu benar, saya pun ingin mencari guru spiritual untuk menenangkan hati saya, rasanya kosong sekali. Selain itu, saya tidak ingin kejadian serupa terulang lagi. Saya harus mampu menjaga diri saya sendiri."
"Itu pemikiran yang hebat, Bu," ujarku untuk membesarkan hatinya.
"Sekarang kita mau kemana, Bu?"
"Kalau kalian semua tidak keberatan, tolong antar saya ke rumah sakit ya. Saya ingin bertemu Mbok Yani dan juga Rian. Saya belum melihat keadaan mereka."
"Baiklah, Bu. Kami juga mau kesana."
"Apa kita perlu bawakan roti atau buah?" tanya Bu Marisa.
"Bagaimana kalau makanan berat, Bu? Aku lapar sekali," ucap Feli tanpa malu-malu lagi.
"Baiklah ... kita cari nasi dan dibungkus saja. Kemudian roti dan buah. Semuanya ada di dekat simpang empat sebelum rumah sakit, Rio."
"Iya, Bu. Baiklah .... "
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘