ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
INDRA PENCIUMAN


Sarah tiba di rumah dan langsung mengambil air wudhu, lalu menjalankan kewajibannya untuk melaksanakan salat Maghrib walau tidak berjamaah.


Ketika posisi sujud hendak berdiri, Sarah dapat merasakan dadanya penuh dan berat begitu juga dengan tangannya. Bahkan Sarah hampir merasa tidak mampu untuk melaksanakan shalatnya secara sempurna. Namun ia terus berusaha, walau pun gerakannya terbilang sangat lambat.


Saat shalat, telinga Sarah tidak setajam ketika iya sedang memandang atau berkomunikasi dengan makhluk astral lainnya. Jadi kondisi ini bisa memberi sedikit ketenangan bagi Sarah, walaupun dia memiliki kelebihan.


Selesai salat Maghrib, Sarah langsung diajak makan oleh Ayah dan Ryan. Sementara Feli sedang merebahkan diri di dalam kamarnya. Sedangkan Pak Antok dan keluarganya, masih di luar sejak tadi sore.


Acara makan malam selesai, tidak ingin Ayah khawatir, Sarah berusaha untuk menutupi rasa sakitnya. Namun makhluk-makhluk yang bersama Sarah, dapat merasakan apa yang ia rasakan.


Pukul 22.00 WIB. Sarah semakin merasa bahwa dadanya tambah memanas. Semua rasa itu menyebabkan Sarah tidak bisa untuk memejamkan matanya. Sekarang Sarah tahu apa yang dirasakan oleh Paman saat luka dalam beberapa waktu yang lalu.


Jika dipikir-pikir, luka yang Sarah rasakan dan tahan saat ini mestinya belum seberapa jika dibandingkan dengan Paman. jadi Pantas aja jika saat itu, beliau terlihat begitu pucat bahkan tidak selera untuk makan maupun minum.


Dalam keheningan, Sarah mendengarkan suara bercakap-cakap dari Wiro dan Mbah Pecek. Saat itu Sarah mendengar mereka berdua menyebut-nyebut namanya berulang kali. Karena penasaran, Sarah pun berjalan ke arah luar.


"Belum tidur Ndok?" tanya Mbah Pecek yang tampaknya lebih perhatian malam ini kepada Sarah.


"Belum Mbah, dadaku terasa sakit," keluh ku sambil menatap Mbah Pecek dan Wiro yang tampak santai/senggang tanpa musuh.


"Kamu memang luka dalam, Sarah. Tapi tidak berat dan kamu akan menemukan obatnya sendiri karena ilmu kamu sama kami berbeda," sambung Wiro yang terlibat prihatin.


"Iya."


"Sarah dengar, tidak semua masalah di atas dunia ini bisa kamu atasi sendiri dan itulah gunanya kami. Selain itu ada beberapa makhluk yang memang cukup kuat karena mereka sudah hidup ratusan tahun atau sudah memakan korban tumbal atau merupakan makhluk yang sering mendapatkan sesajen dari manusia seperti kamu. Dan makhluk yang kamu hadapi tadi adalah makhluk seperti itu," jelas Mbah Pecek.


"Aku tidak mengerti apa jenis makhluk itu, Mbah. Yang aku tau, dia menculik anak manusia dan aku tidak mungkin membiarkan nya begitu saja."


"Iya, tapi lain kali kamu bisa memanggil kami. Jangan melakukannya sendiri."


"Aku mengerti, Mbah."


"Mereka itu banyak yang asalnya dari manusia. Untuk tau kalau mereka ada, kamu dan manusia lainnya sebenarnya bisa tau dari bebauan yang bercium di sekitar kalian."


"Gimana caranya membedakannya, Mbah?"


"Setahu ku, begini. Kamu bisa mengetahui tentang mereka, sebab mereka kerap mengeluarkan tanda berupa aroma menyengat yang bisa kamu cium di sekitar. Jadi kehadiran mereka tidak hanya diketahui melalui penampakan saja. Ada 10 jenis bau-bauan yang bisa menjadi pertanda kedatangan makhluk halus jenis tertentu."


"Termasuk yang aku lihat tadi, Mbah?"


"Mungkin, coba kamu yang menilai sendiri, Sarah."


"Pertama. Bau kabel gosong, bau ini tidak berarti pertanda ada yang korslet dengan listrik atau barang elektronik kamu. Bisa jadi ini adalah pertanda datangnya Banaspati. Hantu ini memiliki wujud seperti api dan suka melayang-layang di udara. Sampai sekarang aku sendiri masih bingung, sebenarnya Banaspati itu makhluk atau ilmu hitam."


"Ilmu hitam seperti apa maksdnya, Mbak?" tanya ku yang mulai penasaran karena aku punya sedikit pengalaman ketika Bu Marisa terkena santet.


"Diyakini banyak orang sebagai salah satu ilmu santet tingkat tinggi, kematian mendadak akan menimpa orang yang dikenai santet ini. Sulit untuk melawan kesaktian santet Banaspati. Bahkan kabarnya hanya orang yang menguasai santet ini jugalah yang bisa bertahan oleh serangan hebatnya. Dikatakan bahwa santet ini tidak bisa ditangkal dengan doa spiritual dengan muatan yang standart. Bahkan katanya, jimat sakti tolak balak pun dengan mudah bisa ditembus oleh keganasan Santet Raja Banaspati."


"Itu yang pake boneka ya, Mbah?"


"Bukan, tapi telur ayam perawan."


"Ha?" tanya ku heran dengan ekspresi wajah yang bingung. "Telur perawan?"


"Telur ayam kampung yang keluar pertama kali dari induknya, diyakini sebagai media untuk menciptakan santet Banaspati. Menurut cerita, telur akan dimantrai sesuai orang yang akan dituju. Setelahnya diadakan ritual di atas bara api hingga telur tersebut meletus dan mengeluarkan bara api yang menyala-nyala. Bara api ini kemudian akan secara otomatis melayang terbang menuju sasaran yang telah ditetapkan."


"Oooh. Ternyata ada telur ayam perawan?"


"Setahuku, antet banaspati dimiliki orang yang katanya harus melalui 9 tingkatan dengan tahapan ritual yang berat. Karenanya, di zaman dulu saja hanya sedikit orang yang mampu menguasai ilmu ini. Selain dengan ritual, konon santet Banaspati bisa dimiliki oleh keturunan orang yang menguasainya dengan catatan keturunan dengan silsilah yang jelas."


"Ilmu turunan yang menakutkan. Untuk apa ilmu membunuh? Terus gimana cara mengalahkan nya, Mbah?"


"Katanya si Mbok, santet Banaspati yang menyala-nyala terlihat seperti api akan bisa ditangkal dengan air," sambung Wiro.


"Gampang banget? Nggak bisa gitu, Le. Air tidak mempan untuk menangkal santet Banaspati. Karena pada hakikatnya, api yang menyala bukanlah api biasa yang bisa padam oleh air. Benda yang diyakini bisa menangkal santet Banaspati adalah kapur sirih. Kapur sirih sendiri dapat dibuat dengan merendam batu kapur atau gamping di dalam air selama minimal satu minggu. Itulah santet Banaspati yang konon ditakuti dan keganasannya bisa bikin korbannya mendadak kehilangan nyawa."


"Mungkin karena yang punya juga sudah sedikit sekali. Nggak mudah loh itu, Sarah. Bayangkan saja, pemilik ilmu hitam tinggi itu bisa membunuh tanpa menyentuh."


"Iya, seperti Putri Nawang Sari. Bahkan dia bisa membunuh satu pasukan dengan ilmu santet seperti itu, sebelum berhasil menyerang tanahnya," sambung Mbah Pecek sambil menatap ke langit. Saat aku melihat matanya, aku dapat menyimpulkan sebuah kerinduan.


"Sarah, kamu harus segera waspada jika mencium bau-bauan seperti minyak mistik dan harum menyerbak. Jika bau ini tercium sangat kuat tanpa sebab, maka itu pertanda ada hantu pocong berada di dekat kamu," sambung Wiro yang tampaknya sedang memecahkan lamunan Mbah Pecek. "Sama seperti jika ada bau pandan menyengat. Bau ini juga menjadi pertanda adanya hantu keblek yang hadir di sekitar kamu. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, hantu ini biasanya banyak dipanggil untuk ritual pesugihan."


"Seperti yang kita hadapi kemarin?"


"Iya, benar. Terus kalau bau harum yang kamu cium bersamaan dengan anyir darah segar, itu pertanda ada sundel bolong yang singgah di dekat kamu. 


"Begitu ya? Kalau bau singkong bakar?"


"Yo jangan senang dulu kalau ada bau singkong bakar. Jika tidak ada orang yang sedang membakar singkong, bau ini bisa jadi pertanda kalau ada mahluk halus sejenis genderuwo di sekitar kamu. Hantu ini menyerupai kera raksasa dan masuk dalam golongan bangsa jin yang terkenal di Indonesia."


"Iya, dia lebih terkenal dari pada artis. Tapi kenapa sosok makhluk yang aku temui belum ada di daftar itu?"


"Hantu wewe gombel sering menunjukkan keberadaannya dengan menebarkan semerbak bau darah yang tak jelas sumbernya. Hantu ini terkenal sebagai hantu yang suka menculik anak-anak kecil yang suka bermain di waktu matahari terbenam."


"Itu dia," ucap ku setengah berteriak dan saat itu Mbah Pecek langsung menatap ku. "Maaf, terus kalau bau kemenyan? Ini sering banget aku cium kalau mau masuk waktu magrib."


"Bau kemenyan ini yang patut paling diwaspadai. Pasalnya, bau ini merupakan serangan sihir dari jin. Biasanya bau ini akan muncul ketika seseorang melakukan santet atau guna-guna kepada orang lain."


"Oh, bukan tanda ada jin?"


"Bukan. Hanya saja orang-orang pada salah kaprah. Terus selanjutnya bau buah sawo.


Jika kita tidak punya pohon sawo, tapi tiba-tiba ada aroma sawo menyengat. Itu harus waspada karena itu adalah pertanda ada jin sejenis memedi sawah (hantu sawah) yang sedang singgah."


"Yang itu baunya enak, he he he he he. Apa ada lagi, Mbah?"


"Bau yang lebih mengerikan ada lagi, Sarah. Ini aroma kuntilanak yang tidak hanya semerbak bunga melati saja, tapi juga disertai bau bangkai yang sangat menyengat. Perhatikan sekitar kamu dan mulailah waspada jika bau ini semakin mendekat."


"Katanya kalau kuntilanak ketawa dan suaranya terdengar jauh berarti dia sedang berada di dekat kita dan begitu juga sebaliknya. Apa benar?"


"Konon katanya begitu, Sarah. Terus yang sering tercium juga seperti bau bunga melati."


"Bener, itu sering banget Wiro. Apalagi kalau kliwonan. Tanda apa itu?"


"Bau melati adalah pertanda munculnya hantu perempuan. Jika kamu mencium aroma ini, padahal tidak ada bunga melati di dekat kamu, artinya ada kuntilanak atau hantu-hantu perempuan lainnya yang sedang mendekatimu."


"Berarti banyak jenis hantu perempuan lainnya?"


"Begitulah, termasuk roh-roh yang menjadi tumbal atau roh sesat."


"Hemh .... "


"Oh iya, Sarah. Apa yang kamu lakukan di tempat itu tadi sore? Apa penghuni sungai itu mengajakmu melakukan sesuatu?"


"Tidak, tapi aku melihat Mbah Siji dan langsung menyapanya."


"Siji?" tanya Mbah Pecek dan Wiro bersamaan.


"Iya, tapi dia tidak mengenaliku."


"Nggak mungkin itu, Sarah," kata Mbah Pecek.


"Ngelindur koyo e," sambung Wiro.


Bersambung.


Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.