
Semua sudah dipersiapkan dengan matang. Walaupun pernikahan Rian dan Feli dalam kondisi membingungkan dan sedikit dipaksakan, tapi aku sangat yakin Feli dapat menerimanya dengan baik. Semua ini demi kebaikan bersama dan memang mungkin sudah jodohnya.
Aku hanya berharap Feli selamat, begitu juga dengan Rian. Jangan sampai ada pengorbanan yang menyakitkan diantara mereka. Untuk itu, aku harus kuat menahan dan melawan makhluk tersebut sekuat tenaga ku, minimal sampai roh Feli, Rian dan Azura bebas. Ucapku sambil mengepal kedua tanganku.
Saat ini, bisa saja menjadi saat terakhir bagiku menyentuh Feli dan Ayah. Untuk itu sebisa mungkin kau harus memanfaatkan kesempatan ini dan memuaskan hatiku. Sementara yang lain sedang menyiapkan segalanya, aku meminta izin kepada Pak Ahmad untuk menjenguk Ayah dan beliau bersedia mengantarku, tapi saat ini aku ingin sendiri dan beliau tampak mengerti.
Jarak dari kamar perawatan Feli ke kamar perawatan Ayah lumayan jauh. Selain itu, aku juga merasa lapar. Untuk itu, aku berniat untuk ke kantin terlebih dahulu. Ini mungkin nasi terakhir untukku.
Tidak punya waktu banyak, sekitar lima menit untuk makan dan menyelesaikannya, aku segera ke kamar Ayah. Aku menyusuri lorong yang gelap dan saat itu aku mendengar suara isak tangis yang sangat memilukan di ujung lorong tersebut.
Siapa pun dia, apapun dia, tampaknya dia sangat menderita dan kesakitan. Aku ingin membantu, iya ... aku selalu ingin dan suka membantu. aku mencari asal suara tersebut dan ternyata ada sosok wanita tua berkebaya kusam sedang terduduk di pinggir lorong dengan kedua kakinya yang terhimpit papan lebar yang tegak menahan gerakan kakinya.
Rasa iba mengantarkan aku padanya dan saat aku melihat matanya, sama sekali tidak ada kejahatan di sana, walaupun mata itu hanya memilikimu bagian putihnya saja (mata orang mati).
Aku melihat pada pergelangan kakinya berwarna hitam. Mungkin kayu ini sudah menyakitinya. "Aku akan membantu, Nek."
"Terimakasih," sahutnya dengan suara bergetar. Tampaknya sudah lama ia menanggung rasa sakit ini.
Aku mengangkat kayu yang lumayan berat dan nenek misterius tersebut menarik kedua kakinya. Saat ia berdiri, tubuhnya yang semula tampak normal dan kurus kecil, berubah menjadi sangat tinggi.
Seperti pohon kacang polong di dalam dongeng yang terus tumbuh hingga kepalanya menyentuh langit-langit lorong rumah sakit tersebut. Dalam kebingungan, aku menatap sosok tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Terimakasih sudah menolongku. Aku sudah sangat lama terperangkap disini, mungkin sekitar 10 tahun. Namaku Nawang Wulan."
"A-aku Sarah, Nek."
"Kamu sudah menolongku, izinkan aku menolong mu. Aku tau, kamu dalam masalah yang sangat berat."
"Tidak usah, Nek. Aku ikhlas membantu Nenek." Lalu sosok misterius tersebut langsung tersenyum sambil menatapku yang sama sekali tidak tersenyum karena masih bingung.
"Izinkan aku menjadi pendamping mu!?"
"Pendamping?" ucapku dengan suara yang kecil sembari berpikir. "Apa Nenek seorang muslim?" tanyaku sambil menatap matanya yang tampak sungguh-sungguh ingin bersamamu.
"Apa itu muslim?"
"Muslim adalah makhluk yang mengenal dan hanya menyembah Allah."
"Siapa itu Allah?"
"Allah adalah Sang Pencipta langit bumi beserta isinya, termasuk aku dan juga Nenek."
"Aku tidak tau soal itu. Di zaman ku, tidak ada yang seperti itu. Lalu jika aku menyembah Allah, aku bisa dapat hadiah apa?" makanan lezat seperti apa? atau pakaian yang bagaimana?"
"Surga."
"Seperti apa Surga itu?"
"Menurut Pak Ustadz, Surga itu sangat terang, sangat wangi dan indah, airnya sangat bening dan menyegarkan, di sana banyak makanan yang enak-enak, tidak ada peperangan, tepatnya hanya ada kedamaian, banyak kasih sayang dan semua yang terbaik yang tidak mampu kita bayangkan."
"Terdengar seperti rumah yang sempurna."
"Hem ... tepat sekali, Nek."
"Tapi apa syaratnya untuk mendapatkan Surga? atau apa sajen serta tumbalnya?"
"Tidak-tidak, bukan seperti itu, Nek."
"Lalu? biasanya yang terdengar menggiurkan seperti itu, tumbalnya selalu kambing kendit, ayam hitam, kerbau pilihan atau darah perawan."
"Allah memiliki semua itu, jadi Allah tidak membutuhkannya dari makhluk seperti kita ini."
"Wah ... hebat sekali," ucapnya tampak mulai mengagumi.
"Ya itu benar sekali. Makanya kita mengatakan bahwa Allah itu Maha .... "
"Maha?"
"Maha Kaya, Maha Memberi, Maha Mendengarkan, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemaaf, Maha ...."
"Maha sempurna," sambungnya seakan mengerti setiap kalimat yang aku ucapkan.
"Nenek benar," jawabku sambil tersenyum.
"Nenek pernah melihat matahari? bulan? bintang? awan, lautan, gunung, hutan? itu semua hanya ciptaan Allah, Nek."
"Hoh .... "
"Apa Nenek pernah melihat pelangi setelah turun hujan?" Tiba-tiba sang Nenek terdiam seolah mengenang sesuatu saat aku mengatakan soal pelangi. Mungkinkah hatinya tergetar? aku tidak tau, aku tidak mampu membaca isi hatinya.
"Apa makhluk seperti diriku ini masih bisa dimaafkan? masih dapat pengampunan? aku ini tidak muslim, aku juga biasa membunuh dan meminum darah, aku juga sangat kotor."
"Aku tidak tau, Nek. Hanya satu yang aku tau, Allah itu selalu memberikan pengampunan bagi seluruh umat yang ingin bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha)."
"Kalau begitu, bawa aku kepada Allah."
"Eeemmh .... " ucapku sambil mengunci mulutku karena kali ini aku tidak tau bagaimana cara menjawabnya.
"Jangan pelit!"
"Baiklah ... aku akan membawa Nenek ke jalan yang Allah ridoi, tapi jika aku berhasil menyelesaikan urusanku dan kembali dengan selamat."
"Kemari lah!" ucapnya sambil menundukkan wajahnya ke bawah, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu kepadaku.
Aku melakukan apa yang hatiku katakan. Dengan cepat, aku menundukkan kepalaku dan mendekat kepadanya, lalu saat itu ia mengatakan sesuatu kepadaku dengan sangat jelas.
"Ini hanya akan menjadi rahasia diantara kita. Janji?"
"Janji, Nek. Terima kasih banyak."
"Jangan lupa kembali dan menjemput ku."
"Iya .... " ucapku sambil berjalan cepat menuju ke kamar perawatan Ayah.
Sebenarnya aku bisa saja memanfaatkan Nenek Nawang, tapi saat aku melihat matanya, entah mengapa aku merasa tidak tega. Tapi ia membisikkan sesuatu yang berharga untuk ku dan aku yakin ia tidak berbohong.
*****
Setibanya di dekat Ayah, aku melihat beliau sedang tertidur pulas. Aku tidak berniat untuk membangunkan apalagi mengganggu beliau. Aku juga tidak berbicara apapun, hanya hatiku yang mengatakan bahwa aku memohon izin kepadanya untuk menyelesaikan urusanku.
Ayah, jika kita masih di izinkan saling bersentuhan setelah ini, aku sangat ingin memeluk Ayah yang lamaaaaa sekali. Tapi jika tidak, mohon maafkan semua kesalahanku ya Yah. Ucapku tanpa suara, lalu aku mencium dahi dan telapak kaki Ayah (di dalam plastik bening), tanpa menangis.
Tidak ingin Ayah terusik, aku kembali ke kamar perawatan Feli dengan langkah cepat. Setibanya di sana, semua sudah siap. "Sarah, semua sudah disiapkan. Kita mulai sekarang saja ya?!" tanya Komandan dan aku hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalaku.
Proses ijab kabul di laksanakan dengan hikmat walau hanya dihadiri beberapa orang saksi dari pihak kepolisian. Seandainya Ayah sadar, pasti Ayah yang akan menjadi saksi di pernikahan Feli. Tapi kondisi Ayah juga sangat tidak baik setelah dilakukan amputasi pada kedua kakinya dan itu membuat kami semua berpikir untuk membiarkan Ayah beristirahat agar cepat pulih.
Sesaat setelah proses ijab kabul di laksanakan dan Rian sudah menjadi imam bagi Feli. Kami langsung bergerak untuk menjemput dan membebaskan roh Feli. Berbeda dengan pengantin lainnya yang bahagia dan menghabiskan waktu bersama dalam cinta dan leburan hasrat, Rian dan Feli malah harus berjuang hebat.
Aku menatap Rian dalam-dalam dan mengatakan padanya bahwa ia harus berjuang sangat keras untuk membawa Feli dan Azura. Tidak bukan hanya mereka berdua, tapi Rian juga harus selamat.
"Kita berjuang bersama-sama," sahut Rian dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ambil air wudhu, Sarah!! Suci Kan dirimu dan lapang kan hatimu! Berusahalah dan terus berjuang sampai kamu tidak mampu lagi."
"Baik, Pak."
"Panggil aku Paman!!"
"Baik, Paman."
Aku segera membersihkan diri dengan berwudhu dan siap untuk berperang. "Paman, apa tidak jadi membawaku ke pesantren?"
"Tidak, jarak kalian harus dekat, tapi Paman sudah meminta para santri untuk bersiap. Saat kamu dan Rian siap, mereka juga siap. Kemari lah!!, Paman akan merajah kalian berdua.
Selesai dengan semua persiapan, aku langsung berbaring agak jauh dari Feli, sedangkan Rian berbaring tepat di sisi Feli sembari menggenggam tangan kanan Feli dengan erat.
Bersambung....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘