ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PETUNJUK MBAH ANWAR


Kondisi Ibu sangat tenang pagi ini, Pak Antok sedang membantu ku merapikan rumah yang kacau akibat kejadian tadi malam. Aku menyiapkan sarapan untuk Ibu, sebenarnya aku menaruh curiga kepada Pak Antok, tapi saat ini aku sangat membutuhkan bantuannya jadi aku harus menetralisir keadaan hati dan pikiran ku.


Aku mengantar sarapan ke kamar Ibu, Ibu terbangun. Aku mencium keningnya, Dia menatapku lemah. "Bagaimana keadaan Ibu? Apa sudah lebih baik?" Lalu Ibu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku ingin melakukan sesuatu, apa Ibu tidak masalah jika aku tinggal pergi sebentar di rumah?"


"Kamu mau kemana Sarah?" tanya Ibu.


"Pergi ke suatu tempat Bu." Lalu aku tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu tapi kamu hati-hati ya Sarah. "


"Iya Bu, oh iya ... kalungnya jangan di lepaskan ya Bu! Ingat pesanku ini." Ibu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.


Aku beranjak pergi ke rumah Mbah Anwar bersama Pak Antok. Menurut Pak Antok, rumahnya tidak terlalu jauh tapi sedikit melewati hutan.


Kami melakukan perjalanan singkat kami, semoga dengan ini semua bisa cepat di ketahui permasalahan yang sesungguhnya karena menurut pak Antok, Mbah Anwar ini termasuk orang pintar yang panten. jadi kemungkinan bisa membantu setidaknya untuk mengusir roh halus jahat yang mengganggu Ibu ku.


Kami tiba di rumah Mbah Anwar tengah hari, Mbah Anwar tambak sibuk melayani pasiennya yang lain. "Waduh, antriannya banyak Non. " ucap Pak Antok


"Iya Pak, banyak banget." sahut ku


"Kalau begitu, saya masuk duluan ya Non."


"Apa tidak masalah pak? Maksud saya, apa boleh pak?"


"Mau gimana lagi Non, kita genting urusannya dan kita tidak boleh meninggalkan Nyonya terlalu lama sendiri di rumah, yang kita hadapi ini halus Non." ucap Pak Antok dan itu benar jadi aku segera mengangguk-angguk kepalaku.


Tidak lama, setelah pasien keluar dari ruangan Mbah anwar, Pak Antok memanggilku untuk segera masuk dan aku pun masuk ke ruangan tersebut.


Mbah Anwar tampaknya mengingat aku dengan baik. "Ada apa Non?" tanya mbah Anwar dengan lembut.


Kemudin aku menceritakan semua kejadian yang menimpaku dan Ibu sejak tadi malam hingga tadi subuh. Aku berusaha menceritakannya perlahan dan sedetil mungkin.


"Iya Non, saya sudah mengerti." sahut mbah Anwar.


Mbah Anwar tampak memainkan jarinya di atas wadah yang terbuat dari batu, ada beberapa potongan arang dan api yang menyala kecil. Beliau memasukkan sesuatu yang berbau sangat menyengat. Mbah Anwar memejamkan matanya dan membaca sesuatu yang tidak aku ketauhui


Beberapa menit berlalu, Mbah Anwar membuka matanya dan membuang nafas panjang. " Roh ini sangat dekat Non." ucapnya kaku.


"Dekat bagaimana Mbah?"


"Apa maksudnya arwah itu ada di dalam rumah mbah?" tanya Pak Antok dan saat itu juga bulu kudukku mulai berdiri, ditambah lagi dengan anggukan dari Mbah Anwar.


"Iya menunggu saat pembalasan." ucap Mbah Anwar semakin membuat suasana menjadi tegang.


"Aku ngak ngerti, maksudnya Mbah? "


"Ada sebab ada akibat, tidak ada asap jika tidak ada api. Selama ini roh itu bisa tidak mengganggu karena tidak ingin mengganggu tapi sekarang sepertinya ada sesuatu yang harus Dia lakukan sehingga Iya mengganggu hingga menyakiti. " ucapnya.


"Apa seperti balas dendam? "


"Itu sangat jelas terlihat Non. "


"Aku sudah tidak bisa mengatakan apapun tentang perkara yang aku lihat, aku khawatir salah. Satu-satunya cara, kalian harus mencari tau sendiri, terutama kamu Non ... cari tau tentang Ibu mu, keluarganya, saudaranya, atau pun orang tuanya."


"Sarah, kamu harus berhati-hati, Mbah melihat sesuatu yang buruk sedang mengintai keluarga mu. Jangan percaya kepada siapapun, kamu harus teliti dan cerdas jika ingin selamat. "


"Cahaya hitam yang kelam membuntuti mu. untuk sementara bawa dan taburkan garam ini disekeliling rumah mu!" Perintah Mbah Anwar.


"Apa ada sesuatu yang Mbah sembunyikan dari aku?" tanyaku penasaran.


"Aku tidak berani berkata-kata karena tidak memiliki bukti apapun, kamulah yang harus mencari tahunya sendiri Non. Cari tau semua tentang Ibu mu, paham ?"


Tanpa menjawab perkataan dari Mbah Anwar aku terus terdiam. Mbah Anwar memberikan kalung kepadaku dan pak Antok, selain itu Mbah Anwar juga memberikanku sebuah belati kecil. "Simpan di kantung dan bawa kemanapun Non Sarah pergi!" Dengan ekspresi tegang, akupun mengangguk- anggukkan kepalaku.


"Jika sudah mendapatkan sesuatu tentang Ibu Non Sarah, segera ke sini! Jangan di tunda-tunda lagi, dan tetaplah waspada!"


Kamipun meninggalkan rumah Mbah Anwar, saat Pak Antok memutar mobilnya, aku melihat seseorang yang perawakannya mirip sekali dengan Ibu. Tapi di dalam hati ku berkata mana mungkin ... Ibu saja terbaring lemah tak berdaya di kasurnya. Lalu kami pun meninggalkan rumah Mbah Anwar.


Mengingat pesan Mbah Anwar, akupun segera menelpon Paman dan Bibik menggunakan telpon genggam milik Pak Antok. Aku menanyakan tempat Ibu lahir, rumah Ibu, dan Nenek. Paman pun menjawab dengan jelas dan ringkas dan kami mendapatkan alamat Nenek.


Paman menanyakan padaku tentang ada apa? Karena baru kali ini aku mempertanyakan hal-hal tersebut. Aku pun menjawab dengan cara yang biasa saja agar Paman tidak menaruh curiga padaku, aku tidak ingin melibatkan Paman dan Bibik dalam masalah ini, pikirku.


Aku dan Pak Antok menuju rumah jompo. "Pak, kenapa nenek di tinggalkan di sini ya Pak? Kan kasian sendirian." tanyaku pada Pak Antok yang tampaknya juga merasa bingung


"Maaf Non, saya juga ndak tau Non."


Kamipun segera menuju ke ruang kepala panti untuk mencari tau nenek berdasarkan identitas nenek ya walaupun yang kami tau hanya namanya saja.


Kami masuk ke ruangan kepala dan mengatakanniat kami untuk mengunjungi nenek. Ibu kepala bilang sudah lama sekali sejak saat itu nenek mendapatkan kunjungan ataupun tamu, sekitar 15 tahun yang lalu. sekarang ini ingatan nenek sudah sangat lemah apa lagi selama ini tidak pernah ada keluarga yang mengunjungi sehingga daya ingatnya menurun.


Aku dan Pak Antok pun diantar menuju kamar Nenek. Kami masuk ke dalam ruangan tersebut, ruangannya kecil tapi sangat rapi. "Itu neneknya." kata perawat yang mengantarkan kami.


Ini pertama kalinya aku melihat Nenek, aku langsung memeluk beliau dan mengatakan kalau aku rindu padanya. Dari raut wajahnya, aku tau kalau Nenek sangat kebingungan melihat aku tiba-tiba datang dan memeluknya.


Nenek melihatku dengan fokus, keriput di wajahnya sangat jelas terlihat saat nenek menekukkan kedua matanya. "Siapa? " ujarnya sembari tersenyum. Tapi aku malah hanya terdiam. Lalu Nenek melanjutkan ucapannya, "Rina? Bukan Rima?"


"Heeeem, aku Sarah Nek...."


" Sarah?" Nenek tampak bingung


"Dan ini Pak Antok Nek." ucapku mencoba ramah dan akrab.


"Sarah? " Nenek mengulang namaku sambil mengerutkan keningnya, "Sarah .... " ucapnya sembari berusaha mengingat sesuatu. "Siapa Sarah? " Nenek tampak mulai bingung.


"Aku anaknya Ibu Rina dan ayahku bernama Ardy. "


"Rina ...." Tiba-tuba air matanya mengalir deras dan terus-menerus memanggil-manggil nama Ibu ku seakan nenek sangat rindu sekali pada Ibu. "Rina ... rina ... Rinaaaaaaa ...." Dengan suara yang lirih dan pandangannya pun berbelok, tidak lagi memandangku, kali ini nenek memandang ke langit yang tinggi.


Kepalanya bergerak-gerak dengan cepat, bibirnya bergetar seperti menahan sesuatu. "Rina ... Rina .... " Nenek terlihat tertekan dan tiba-tiba sesak, perawat pun langsung membawa nenek ke ranjangnya dan meminta kami untuk meninggalkan nenek.


Kami meninggalkan ruangan nenek perlahan, yang aku dengar dengan pelan tapi jelas, nenek selalu memanggil-manggil nama Rina, Rina dan Rina sambil menangis tersedu-sedu, aku merasa iba melihatnya.


"Tunggu! " Nenek menghentikan langkah ku dan pak Anton, "Rina ... tunggu!"


Aku berlari masuk ke kamar nenek duduk di ranjang sambil memegang jarinya yang keriput dan lemah. "Aku Sarah Nek ... bukan Rina. "


Nenek terus menangis, sesekali jemarinya menekan-nekan tanganku. Kemudian nenek melepaskan tangan kanannya, dan langsung mengambil sesuatu di bawah bantalnya.


"Rina...." Hanya itu yang diucapkannya.


Nenek memberikan aku sebuah foto lama, di dalamnya terdapat gambar dua anak gadis yang sangat mirip, wajah ini tak asing bagiku, aku memikirkannya, tapi aku tidak tau siapa dan dimana bertemu kedua anak gadis ini.


"Ini Rina .... " Jari telunjuk nenek menunjuk salah satu foto tersebut, Tapi nenek semakin melemah, tidak bisa bernafas dengan baik, oleh sebab itu perawat meminta kami dengan keras untuk meninggalkan nenek dan kamipun pergi dari panti tersebut.


Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memandangi foto tersebut. Kami melewati taman bermain anak, tiba-tiba ingatanku menguat. " Oooh ... Pak, aku ingat... aku pernah melihat kedua anak gadis ini." ucapku dan Pak Antok terlihat bingung.


"Di mana Non?" ucap Pak Antok bertanya dengan nada penasaran.


"Di dalam mimpi Pak." Aku berbicara dengan lantang


"Waduhhhh Non, kok ya sempat-sempatnya bercanda?" ujarnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku serius Pak .... " Tapi pak Antok tidak menganggap serius perkataanku.


Kamipun pulang ke rumah, hari sudah pukul 16.00 wib. Setibanya di rumah, Pak Antok langsung menaburkan garam yang diberikan oleh Mbah Anwar di sekeliling rumah. Pak Antok juga mengingatkan ku untuk tidak lupa memakai kalung ku.


Aku langsung masuk dan mencari Ibu. "Ibu ... Bu .... " tapi sepertinya Ibu tidak ada di kamar. Aku mencari Ibu di dapur, sesampainya di dapur aku melihat Ibu sedang memakan sesuatu. Itu sepertinya obat tapi aku tidak ingin mengganggu Ibu dengan bertanya, aku juga tidak ingin menceritakan dari mana saja aku hari ini.


"Ibu, aku susah pulang."


"Iya Sarah." Lalu aku mengantarkan Ibu ke kamarnya


Hari sudah larut malam, pak Antok juga sudah izin untuk pulang ke rumah. Aku segera menutup pintu rumah dan kembali ke kamar Ibu.


Aku membelai rambut Ibu agar Ibu dapat tidur pulas malam ini.Tidak lama, pesan masuk ke hp Ibu, ini pesan dari ayah, "Ayah bilang tidak bisa pulang besok malam, Ayah pulang lusa karena pekerjaan yang sangat banyak." Itulah isi pesan Ayah.


Ibu membuka matanya, aku bilang pada Ibu kalau Ayah mengirimkan pesan dan aku menyampaikan pesan Ayah dengan perlahan kepada Ibu lalu Ibu hanya tersenyum.


Tidurlah Bu, hari mulai larut malam, aku akan tidur di sini menjaga Ibu. Tak lama kemudian, Ibu pun tampaknya mulai tertidur pulas.


Malam ini terasa sangat tenang, sudah pukul 23.00 wib tapi tidak ada gangguan apapun. Pikiranku, mungkin karena taburan dari Mbah Anwar dan kalung ini.


Aku melihat Ibu tertidur dengan nyenyak aku pun merasa sangat mengantuk dan aku putuskan untuk berbaring di sebelah Ibu.


Bersambung ....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘