ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
NAFAS TERAKHIR


"Ibu ... Ibu ... Ibu ... Kak Tania ... Kak Tania .... "


"Dia sudah sadarkan diri, pasang alatnya! bantu pacu denyut nadinya! Kontrol oksigennya! Dia berhasil ... iya... syukurlah. Dia masih sangat muda." Kalimat itu samar-samar yang aku dengarkan.


"Si Mbok ... Mbokkk .... " ucapku dengan air mata yang menetes.


Situaai ayah:


Ayah berjalan kesana kemari dengan luka yang sudah diobati.


"Permisi Pak, anak anda sudah sadarkan diri tapi kondisinya masih sangat amat lemah. Dia memanggil Ibu dan Kakaknya, kalau bisa segera hadirkan mereka untuk membantu menyetabilkan emosi dan psikologi pasien." ucap dokter tegas


"Baik Dok. " sahut Ayah.


"Ada apa Pak?" Bertanya karena merasa heran dengan sikap Ayah.


"Saya tidak tau dimana Ibu dan Kakaknya." ucap Ayah lirih.


Doktet tampak mengerutkan keningnya karena bingung. "Baiklah kalau begitu Pak, anda saja yang masuk ke dalam, anak anda sudah boleh dilihat."


"Makasih Dok. " ucap Ayah lirih. Dokter pun pergi meninggalkan ruangan dan Ayah seorang diri dengan ekspresi yang sangat bingung.


Ayah masuk ke dalam ruangan, memegang kepalaku dan menangis, Ayah tampak kusut dan berantakan begitu juga denganku. "Suhu tubuh Sarah sangat tinggi, itu membuat Sarah mengigau." ucap salah satu perawat


Pukul 14.30 wib, ayah berbaring di kursi sebelah ranjang Sarah. Tangan Ayah memegang tangan Sarah dengan erat. Rasa lelah tidak kuasa lagi Iya tahan hingga ayah pun terlelap di sisi ku.


Aku membuka mataku perlahan, aku menoleh ke kiri, tampak Ayah di sisiku sedang terlelap. selain Ayah samar-samar aku juga melihat beberapa orang di dalam ruangan ini tengah berbaring dengan alat bantu kedokteran yang lengkap.


Aku meluruskan pandangan mataku ke depan, ada beberapa dokter tengah lalu lalang, mereka memperhatikan aku. "Sadar ... gadis itu sudah sadar. " Beberapa dokter menuju ke arah ku, apa yang terjadi padaku? Bertanya di dalam hati. Tubuhku terasa sangat sakit dan berat sampai-sampai aku tidak bisa menggerakkannya lagi.


Salah satu perawat membangunkan Ayah yang terlelap. " Bapak ... anaknya sudah sadar, kita mau melakukan observasi mohon Bapak berdiri sebentar ...!" Kata seorang perawat dengan bahasa yang sopan dan lembut.


Mataku terus memandang ke atas, sesekali aku memejamkan mataku. Rasanya aku masih bisa melihat wajah Tante Rima dan karena takut, seketika air mataku jatuh menetes.


Ada lima 4 orang perawat yang mengelilingi ku dan seorang dokter, mereka sangat cekatan dan profesional. Jari-jari mereka sangat lincah tapi terdapat satu orang perawat yang hanya berdiri di bawah kakiku dan memperhatikan ku, dia tidak membantu perawat lainnya.


Seorang dokter mendekati ayahku, entah apa yang mereka sedang perbincangkan. Wajah ayah tampak tegang, sesekali jemari ayah memegang kakiku yang di tutupi selimut putih bergaris biru.


Ayah mendengarkan perkataan dokter tersebut, sesekali ayah memegang dan menutup mulutnya seolah-olah menahan sesuatu yang berat, sesekali Ayah menatapku penuh khawatir.


"Lakukanlah yang terbaik Dokter ... saat ini hanya Dia yang saya miliki. " Nada suara Ayah cukup keras kali ini hingga bisa aku dengarkan.


Ayah membalik badan dan menunduk ke arah wajahku. " Kuat ya Sarah.... " Bisik Ayah sambil meneteskan air mata. Ayah kenapa? Tanyaku di dalam hati.


Selang beberapa menit aku merasa tubuhku bergoyang-goyang sehingga membuat aku pusing, sesekali aku memejamkan mataku. Ternyata para perawat membawaku ke suatu tempat yang aku belum tau pasti kemana, Ayah pun ikut mendampingi ku.


Sepanjang perjalanan aku melihat banyak sekali kerumunan orang di pinggir-pinggir jalan rumah sakit, banyak dari mereka yang berwajah pucat pasi dengan tatapan yang dingin, tidak ada senyuman seolah mereka tidak menyukaiku.


Ada diantara mereka yang tampak terluka, tapi kenapa tidak di rawat dan di obati? Ada juga beberapa yang tampangnya tampak kusut, mereka tidak merapikan dirinya, ada juga anak-anak kecil yang tertawa dan berlari dengan sangat cepat.


Di sisi kananku ada perawat Isabela yang tampak kaku dan melangkah hanya untuk satu arah. Dia tidak lagi melihat ke arah ku. tapi untuk beberapa saat aku selalu melihatnya.


Tubuhku yang bergoncangan kini diam terhenti, langkah Ayah dan para perawat pun berhenti. "Maaf, Bapak silahkan tunggu di luar! Operasi segera di laksanakan." Kata salah satu perawat.


Operasi? Ucapku di dalam hati.


Aku memasuki ruangan yang tampak begitu terang, lampu besar berada di atas kepalaku. Tiga orang dokter mengelilingiku dengan pakaian serba hijau dan masker penutup mulut.


Mereka memulai segalanya dengan isyarat. Sejak itu, aku sudah tidak sadarkan diri tapi sebelum mataku benar-benar terpejam, dari sudut ruangan aku melihat ibu berdiri dengan wajah yang cantik dan rapi. Ibu ... apakah Ibu datang untuk menjemputku? Tanyaku di dalam hati.


Bersambung...


Bagaimana keadaan Sarah seusai operasi ?


Apakah Sarah akan selamat atau malah meninggalkan ayahnya sendirian seperti yang dikhawatirkan para Dokter?


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘