
Gadis manis yang yang hidupnya tak biasa menjadi saksi kehidupan yang berbeda. Bagi orang lain, mungkin semua yang ia lihat adalah makhluk atau manusia yang sudah mati karena tidak terlihat oleh pandangan mata manusia normal pada umumnya.
Tubuhnya yang kecil tergeletak tidak berdaya diantara debu hitam yang sudah hampir menghilang terbawa angin. Bukan hanya pukulan dan hentakan saja yang membuat gadis ini melemah, tapi lebih kepada bayangan sebuah pengorbanan seorang manusia yang memiliki kehidupan kelam, namun berhati bersih.
Nenek Nanang Wulan, ia membawa cerita baru di dalam kehidupan ku yang unik ini. Beliau datang dengan senyuman yang indah dan pikiran yang sederhana. Kemudian Beliau pergi dengan air matanya yang bening, walaupun tak mampu lagi tersenyum ataupun bertanya.
Dari dirinya aku belajar, bagaimana hidup ini akan membawa hati yang luhur hingga pada titik diri kita berada di dimensi lain. Tidak ada penyesalan baginya sedikit pun, kecuali saat ia tidak mengenal Allah.
Biarlah semuanya menjadi rahasia Allah karena sejatinya, suka, duka, surga, dan negara. Sesungguhnya semua itu adalah haknya Allah dan aku percaya Allah akan melihat hingga ke dasar hati Nenek Nawang Wulan yang paling dalam.
*****
Sisi Feli dan Rian pukul 02.00 WIB.
"Dimana Sarah? Aku sangat khawatir. Kenapa aku tidak mampu merasakan kehadirannya? Apa ada yang salah?" tanya Feli terus menerus dan hal itu membuat Rian ikut bingung.
"Tenanglah! Dia tidak bodoh dan lemah. Aku yakin saat ini dia sedang melakukan sesuatu yang terbaik."
"Iya, tapi apa dan dimana?" tanya Feli sekali lagi sembari memegang dahinya.
"Sayang, sebaiknya kita membantu Senior untuk mengeluarkan mereka dari dalam gedung ini. Entahlah ... tapi aku sangat yakin kalau hal itu bisa membantu meringankan beban Sarah," kata Rian yang sebenarnya tengah berusaha mengalihkan pikiran dan kecemasan Feli terhadap Sarah.
"Benarkah? Kalau gitu, ayo kita turun!" sahut Feli yang percaya pada perkataan Suaminya tersebut.
"Iya .... "
Feli, maafin aku karena aku berbohong. Aku hanya tidak ingin kamu terlalu cemas. Di sisi lain, aku sangat yakin bahwa Allah akan melindungi saudara kita itu, ujar Rian di dalam hatinya sembari berjalan dengan cepat ke lantai bawah beriringan dengan Feli.
"Astagfirullah hal azim .... " ucap Feli dan Rian saat sosok astral bergerak lurus ke depan dengan langkah yang sangat lambat.
"Kita jangan mencari masalah, Feli."
"Apa yang ia lakukan?" tanya Feli sambil menatap wajah wanita muda tersebut. "Aku yakin, dia bukan makhluk jahat."
"Mungkin dia juga korban."
"Korban?" tanya Feli sekali lagi. Namun ia jadi sangat hafal sekali wajah tersebut.
"Pelan-pelan dan jangan menyentuhnya!" bisik Rian sambil memegang tangan Feli.
Feli dan Rian bergerak cepat. Di lantai dua, Rian dan Feli melihat Kak Rio sedang kualahan (dari jarak jauh). Dengan sigap, mereka langsung membantu untuk mengurangi beban Kak Rio.
Kak Rio sudah terlihat sangat lelah sekali. Wajar saja, dua laki-laki bertubuh besar sedang kerasukan dan menyerang Kak Rio secara bersamaan. Salah satunya adalah mahasiswa berbaju merah dan Pak Handoyo.
Saat Pak Handoyo memukul Kak Rio, Rian dengan cepat menangkis nya. Secara keterampilan, Rian memang lebih paham dan terbiasa karena selama hidup dan tinggal di pondok, ia diajari ilmu bela diri bersama anak-anak pondok pesantren lainnya.
"Makasih, Rian," ucap Kak Rio sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Maaf kami terlambat, Senior."
"Sebaiknya, kunci dulu mahasiswa yang di sana! Supaya dia nggak ikut terperangkap."
"Baik, Senior," sahut Rian yang langsung mengunci laki-laki muda yang wajahnya asing bagi Feli. Mungkin dia kakak tingkat kelas atas.
"Gue mau diapain, Bro?"
"Diam aja!! Aku nggak punya waktu untuk menjawab."
Selesai mengunci mahasiswa tersebut, Rian berdiri dan membantu Kak Rio yang tampaknya sudah sangat pucat. sementara Feli membantu mereka berdua dengan membacakan ayat-ayat suci Alquran dengan suara yang cukup terdengar.
Lebih kurang 30 menit, Kak Rio dan Rian berusaha menenangkan lawannya yang kerasukan atau hilang kesadaran hingga akhirnya mereka berdua mampu menyekap kedua tubuh korban dan mengeluarkan roh fasik atau jin yang merasuki tubuh mereka.
Kak Rio dan Rian tampak lemas, hingga mereka memutuskan untuk bersandar beberapa menit di tembok terowongan arah keluar dari lantai dua sambil mengatur nafas mereka
Tak lama, terdengar suara teriakan dari laki-laki yang berbeda. Suara itu terdengar sangat kuat dari lantai dasar. Tanpa memperdulikan keadaan mereka, Kak Rio dan Rian langsung berdiri dan berlari ke arah sumber suara.
Feli menghentikan langkah Kak Rio dan Rian. Ia meminta agar semuanya bisa ikut karena pada saat yang bersamaan, Pak Handoyo sudah sadarkan diri. Dari penglihatan Feli, sebaiknya mereka bergerak bersama-sama jadi jika memungkinkan, yang lainnya bisa keluar dari gedung dan mereka kembali mencari Sarah. Saat itu, Kak Rio dan Rian tampaknya setuju dengan saran yang Feli berikan.
Mereka hampir menuruni anak tangga dan saat berada di depan ruang kelas ujung, mereka semua dikejutkan oleh sesuatu yang terlihat misterius. Seseorang bergerak lambat dari dalam ruang kelas dengan wajahnya yang tertunduk.
Feli yang melihat hal tersebut, langsung berdiri di depan sekali dan saat ia hendak melakukan sesuatu, seseorang tersebut mengangkat wajahnya dan ternyata sosok itu adalah Mia.
"Mia?"
"Feli?"
Feli dan Mia saling berpelukan dan menangis. "Aku takut sekali Feli," kata Mia sambil membenamkan wajahnya di pundak kiri Feli.
"Sudahlah, Mia! Tidak apa. Kami semua kesini untuk menyelamatkan kamu," ujar Feli berusaha menenangkan Mia yang sudah menangis sesegukan.
"Iya," ujar Mia sembari menghapus air matanya.
"Coba lihat! Kamu tidak sendiri dan mereka semua adalah korban yang sama dengan kamu."
"Sebaiknya kita segera bergerak ke bawah. Waktu kita tidak banyak dan masih banyak hal yang harus kita kerjakan," kata Rian memotong air mata Feli dan Mia. Tapi apa yang Rian katakan itu adalah hal yang benar dan mereka harus terus bergerak.
*****
Sisi Kang Selamet dan Mas Yuga.
Diantara wajah pucat pasi yang selalu menatap lurus ke depan. Jika dihitung, jumlah mereka berkisar antara 13 sampai 15 orang dan wajahnya tampak sangat muda. Hingga Kang Selamet memperhatikan satu wajah yang tak asing baginya.
"Mbak Atun?" ujar Kang Selamet lalu Mas Yuga menutup mulutnya agar suara tersebut tidak mencuat.
"Katrok banget kamu, Kang," kata Mas Yuga sembari menyundul kepala Kang Selamet dengan tangan kanannya.
"Tapi itu Mbak Atun, ngapain dia disini?" ucap Kang Selamet sekali lagi dengan suaranya yang berbisik sambil menatap Mas Yuga.
"Ya aku nggak tau. Emangnya dia siapa?"
"Lah itu ... pemilik kantin nomor 5 yang meninggal saat jatuh di kamar mandi, 3 bulan yang lalu."
"Apa iya?" sahut Mas Yuga yang sama berbisik nya dengan Kang Selamet sembari menatap tajam ke arah Mbak Atun. "Ya ampun ... kamu bener Kang. Kok masih disini ya? Apa jangan-jangan dia itu tumbalnya juga?"
"Ora ngerti aku, yang jelas aku semakin nggak kuat disini, Ga."
"Ayo jalan terus, Kang. Mana badan ni orang berat banget lagi."
"Bangun dong, Le! Atau kita bisa dijadikan santapan tengah malam ini," celoteh Kang Selamat yang memang sudah tidak mampu lagi menahan ketakutannya.
Setelah berjalan siput selama 10 menit, akhirnya Kang Selamet, Mas Yuga dan salah satu mahasiswa yang selamat tiba di ujung tangan tak jauh dari pintu keluar utama gedung kampus.
"Alhamdulillah, Kang ... kita sampe di ujung juga," ujar Mas Yuga yang kali ini dapat tersenyum agak lega. Saat itu, posisi beberapa roh berada di belakang tubuh mereka. Dengan senyum lebar, mereka melanjutkan langkah manisnya.
"Alhamdulillah, Ga. Hayooo kita bergerak lebih cepat! Sebentar lagi kita akan menemukan pintu utama," perintah Kang Selamet dengan suara yang agak girang.
Namun pada saat yang bersamaan pula, tanpa disengaja, Kang Selamet membuang gas asam dari lubang knalpot pribadinya dengan suara yang sangat keras dan hal itu mengganggu ketenangan roh yang tadinya sudah tidak dapat mendeteksi kehadiran mereka bertiga.
"*** .... " ucap Mas Yuga tanpa sengaja saat melihat roh yang semula tersusun rapi dan tenang di belakang mereka, tiba-tiba menatap tajam ke arah mereka dan kini sudah bergerak sangat cepat ke arah ketiganya.
"Kabooor ...!!" teriak Kang Selamet yang melepaskan papahan tangannya pada mahasiswa yang tidak sadarkan diri tersebut, begitu juga dengan Mas Yuga.
Saat mahasiswa tersebut terjatuh dan tergeletak di lantai, kedua satpam ini kembali mundur dan masing-masing di antara mereka menarik tangan mahasiswa tersebut. Kang Selamet menarik tangan kirinya dan Mas Yuga menarik tangan kanannya sehingga tubuh itu terseret cukup kuat.
"Aaakkk .... " teriak kedua satpam tersebut dan suara itulah yang di dengarkan oleh kelompok Kak Rio, Rian dan Feli serta keempat orang lainnya.
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.