ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KELOMPOK


Aku sangat penasaran tentang perkataan semuanya. Mereka seperti kejutan di dalam hidupku. Walaupun mereka bukan muslim, tapi mereka semua sudah menjadi bagian dari diriku. Mau tidak mau, suka tidak suka dan aku berniat untuk membawa mereka ke dalam arah ku.


Ya Allah, Engkau yang maha tau akan segalanya. Apakah memang ini keinginan dan niat Nenek Nawang Wulan, sehingga ia menyerahkan semuanya padaku? Iya, agar mereka tidak tersesat dan menjadi kaum muslim yang hanya menyembah Allah dan berkesempatan mendapatkan surganya Allah, walaupun hanya di bagian paling dasar.


Bagiku saat ini, hitam mereka adalah hitam ku. Kotor mereka adalah kotor ku. Busuk mereka adalah busuk ku. Jijik mereka adalah jijik ku. Aku akan berusaha dengan keras untuk merangkul mereka semua, walaupun aku tidak tau, apa yang akan aku hadapi kedepannya.


Anggap saja semua ini adalah tanda kasih ku kepada sosok asing yang tiba-tiba mengisi hatiku dan menjadi guru serta sosok tauladan di dalam kehidupan ku. Nenek Nawang Wulan, dia memang bukan seorang muslim yang baik. Tapi bagiku, dia adalah Nenek dan leluhur yang baik.


"Aku ingin melihatnya," ucap ku sambil berdiri perlahan dengan langkah yang sempoyongan.


"Sarah, sebenarnya kami cukup ramai. Mungkin kita akan bertemu satu persatu," ucap Datuk Belang yang rasanya jauh lebih akrab daripada yang lainnya. Mungkin karena kami pernah bertarung bersama.


"Kenapa begitu, Datuk?"


"Karena kamu belum kuat betul."


"Kenapa yang lainnya bersembunyi?"


"Karena mereka dalam keadaan yang sangat lemah. Beratus tahun tidak makan dan sebagian memang ada yang terluka akibat pertempuran terakhir sebelum Putri Nawang Wulan tewas."


"Datuk, apa yang terjadi pada adiknya Nenek Nawang Wulan. Dia pasti sangat bangga saat melihat kakaknya bertempur di barisan paling depan?" tanya ku sambil tersenyum karena kembali terbayang akan penglihatan ku pada peperangan dimasa lalu.


"Kami terlambat, dia diperkosa dan dibakar hidup-hidup," jawab Datuk Belang.


"Bukan hanya dia, tapi juga Romo dan Ibunya," sambung Kakek Singgih.


"Subhanallah ...." ucap ku sambil terdiam dan seakan aku tidak lagi mampu mengangkat kedua kakiku untuk berjalan.


"Sejak saat itu, Putri mempelajari ilmu membunuh tanpa menyentuh."


Hatiku langsung bergetar saat mendengar ucapan Datuk belang tersebut. Menurutku, itu adalah kata-kata yang sangat mengerikan. "Membunuh tanpa menyentuh," ucap ku sekali lagi sembari berpegangan pada ujung pintu kamar.


"Sarah, mau kemana?" tanya Feli yang langsung berlari ke arah ku.


"Ingin duduk di luar."


"Tapikan masih panas dan ayunannya belum dibersihkan."


"Nggak papa, di teras aja. Capek baring terus."


"Ya sudah."


Kami tiba di depan teras rumah. Ya, kami karena aku tidak hanya bersama Feli. Setibanya di kursi dan pada duduk, aku melihat seperti ada deretan drum ukuran besar mengelilingi rumah ku.


"Feli, ada jeruk?"


"Ada."


"Buatkan jus jeruk yang manis ya!"


"Pakai es cream?"


"Enak ...."


"Baiklah ...."


Setelah Feli meninggalkan aku, aku langsung berdiri dibantu oleh Datuk Belang. Aku mendekati susunan drum berwarna hitam mengkilat tersebut. Aku menyentuhnya perlahan dan ia bergerak sambil berdesis.


"Apa ini?" tanya ku heran.


"Lihat ke atas sana!" ucap Kakek Singgih menunjuk dengan pasti ke arah atap rumah ku.


Mataku mengikuti arah tunjuk Kakek Singgih dan aku merasa sangat terkejut saat melihat kepala ular yang sangat besar sedang menjadi payung, tepat di atap rumahku yang paling tinggi.


"Ular?" Aku langsung melihat sekeliling dan ternyata tubuhnya lah yang tampak seperti drum dan memagari rumahku.


"Namaku, Pecek. Aku adalah raja di wilayah ku. Tapi sekarang, aku hanyalah abdi gadis kecil yang tidak berilmu."


"Peceeek!!" teriak Datuk Belang sambil menegakkan pundaknya. Datuk tampak marah dan tidak suka dengan sikap serta perkataan Mbak Pecek tersebut.


"Maaf." Lalu Mbah Pecek menundukkan kepalanya, sama seperti diriku yang sadar diri tentang kemampuan ku yang bukan apa-apa.


"Ayo kita duduk!"


"Terimakasih, Datuk."


Aku kembali ke teras rumah sambil berpikir tentang apa yang harus aku lakukan sekarang. Rambutku yang tergerai dan menyapa kulit wajahku, tak mampu mengusik kebingungan dan pertanyaan yang penuh di dalam hatiku.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘