
Ketakutan hanya akan membawa pada kepasrahan yang tidak disukai Allah. Tidak, ini bukan pasrah, melainkan menyerah. Aku tidak ingin mati sia-sia. Tania, aku harus apa? jawab, Kak! ucapku tanpa suara sembari terus mundur berusaha menjauhkan tubuh dari kemungkinan tertangkap.
Tanpa aku sadari, tubuhku terlindungi oleh gelap, di bawah anak tangga. Sepertinya mereka benar-benar belum menyadari kehadiran ku disini.
Aku duduk jongkok di dalam gelap sambil terus memandang dan menghitung mereka yang lewat di hadapanku. 1, 2, 3, ucapku di dalam hati.
Aku sangat bingung dengan apa yang aku lihat. Ini seperti kelompok aliran sesat dalam kelompok kecil. Apa tujuan mereka yang sesungguhnya?
Belum selesai pertanyaan dari hati ku, aku melihat salah seorang dari mereka yang tampak tidak asing bagiku. Aku terus menatapnya dari kejauhan, apalagi saat ia menurunkan jubah hitam yang ia kenakan.
Aaaahhh ... tidak mungkin!? ucapku di dalam hati sembari memfokuskan penglihatanku. Dia adalah laki-laki itu, yang berfoto bersama Sinta. Aku yakin, dia adalah Ayahnya Sinta. Namun bagaimana mungkin? bukannya beliau sudah mati? ini sangat aneh. Aku terus berdiskusi di dalam hatiku.
"Mereka semua masih segar, tinggal satu lagi. Dimana dia?" tanya Ayahnya Sinta dengan suara yang bergema seolah bukan dia yang berbicara.
"Dia masih ingin bermain-main, Mas," sahut seorang wanita yang ternyata adalah Ibunya Sinta."
"Mangsa yang liar ya?"
"Tapi sepertinya dia tidak biasa," sahut satu orang lainnya yang tidak aku kenali suaranya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Bukankah mereka semua anak-anak yang tidak biasa?" ujarnya sambil tertawa lepas, seolah baru saja memenangkan lotre milyaran rupiah.
Apa maksudnya? tanyaku tanpa suara.
"Coba lihat, anak-anak indigo ini! sekarang mereka semua tidak ada apa-apanya dan akan segera menjadi santapan Wengi. Tinggal tunggu yang kelima, keenam, dan ketujuh yang memiliki ikatan batin kuat tanpa ikatan darah. Mereka akan membangkitkan Wengi menjadi abadi. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
Tidak ... apa jangan-jangan aku, Feli, dan ... dan Kak Rio? tanyaku di dalam hati.
"Rencana yang sempurna, bukan? dengan begini, kita sudah melangkah satu arah namun dapat banyak keuntungan. Kita bisa membangkitkan raja diraja, sekaligus memusnahkan para manusia istimewa yang akan menjadi penghambat kaum kita untuk berkembang di muka bumi ini," ujarnya tampak sangat puas.
"Setelah ini, kita tinggal menyebarkan ajaran kita pada orang- orang yang berhati lemah agar mudah tergoda. Mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya termasuk menjadi pengikut kita dan melupakan Tuhan mereka."
"Lalu bagaimana dengan anakku, Mas? bukankah kamu sudah berjanji untuk menghidupkan putriku kembali?"
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, tentu saja. Tapi setelah junjunganku bangkit."
"Tapi, Mas ... bukan begitu perjanjian kita. Aku sudah melakukan apa saja untuk menghidupkan putriku kembali, hanya Sinta satu-satunya milikku yang berharga," berkata sambil menangis dan menggenggam kedua tangannya di depan dada.
"Dengar Pujiati! kamu tidak bisa memerintah raja. Lagipula jika kamu macam-macam, aku bisa saja menghabisimu."
"Mas, jangan bilang kalau selama ini kamu sudah membohongi dan hanya memanfaatkan aku!?" ujar Bu Pujiati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku ini adikmu, Mas. Sinta itu keponakan mu."
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Apa hubungannya semua ini dengan darah keluarga? bagiku, semuanya hanya tentang Raja dan Abdi setianya."
"Jadi selama ini kamu bohongin aku, Mas? ternyata kamu sama sekali tidak berilmu."
Pack
(Suara tamparan yang sangat keras hingga Bu Puji mengeluarkan darah dari bibir kirinya)
"Tega kamu, Mas. Aku benar-benar tidak menyangka. Aku sangat menyesal sudah mendengar setiap ucapanku dari awal. Kamu keji, Mas. Aku hanya ingin bersama putriku."
"Jika kamu mau, kamu bisa segera berkumpul bersama Sinta, anakmu dan juga suamimu, di Liang lahat!"
"Ternyata selama ini Mas Seno benar tentang kamu, Mas. Kamu itu jahat, kamu adalah orang yang suka memanfaatkan orang lain. Aku tidak sudi memiliki saudara kandung seperti kamu!" kata Bu Puji sembari melempar air ludahnya, tepat di wajah laki-laki tersebut.
"Habisi dia sebelum anggota kelompok lainnya berkumpul dan mengetahui semua rahasia ini!" perintahnya kepada laki-laki satu lagi yang tidak aku kenali.
Dari sini, aku melihat Bu Puji di pukul, di tendang, di seret, dijambak dan diinjak-injak.
Ia berusaha melawan, tapi kekuatan di dalam tubuhnya yang menua sudah tidak lagi sempurna.
Tapi, dari setiap adegan kekerasan tersebut, satu hal yang aku lihat dengan jelas. Bu Puji sama sekali tidak menangis saat menerima setiap pukulan tersebut. Mungkin baginya, hal yang paling menyakitkan dan bisa membuat dirinya menangis adalah kehilangan Sinta.
Hatinya melemah saat kehilangan satu-satunya pelita di dalam hidup, setelah suaminya juga tiada. Dia dimanfaatkan, oleh orang terdekatnya. Aku pernah merasakan bagaimana jadi dirinya, hanya saja aku masih memiliki Ayah.
Aku tidak bisa membantunya, ini bukan waktu yang tepat. Sambil terus melihatnya dianiaya, aku terus menahan mulutku yang bergetar diiringi air mata yang mengalir deras.
Saat Bu Puji tidak lagi mampu untuk bangkit, laki-laki muda tersebut menyeret Bu Puji ke atas melalui anak tangga dimana aku bersembunyi. Aku pikir, dia akan membawa Bu Puji ke atas untuk dieksekusi, tapi ternyata aku salah.
Brakkk
"Ak."
Saat aku mulai tenang karena berpikir tidak lagi melihat penganiayaan tersebut di depan mataku, tiba-tiba tubuh Bu Puji jatuh dan terletak tepat di hadapanku. Dari mulutnya menyembur darah segar, begitu juga dari hidungnya.
Aku semakin erat mengunci mulutku. Tiba-tiba, Bu Puji menengadahkan kepalanya dan menatap diriku yang tengah gemetaran di dalam kegelapan.
Saat mata kami bertemu, aku melihat matanya seperti mata ingin membunuh. Perlahan, ia mengambil sesuatu di dalam saku jubahnya. Sebuah pisau kecil yang panjang dan tampak mengkilat.
Craaat
Darah segar mengalir seperti kran besar yang bocor. Semakin lama semakin banyak dan besar pancuran nya. Mataku membesar dan nafasku terkunci.
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
CINTA DAN DOSA, kisah seorang gadis hasil broken home yang dijual hidup-hidup namun ia mampu melewati masa suram dengan mengayun langkah walau terseok, sekarang ia menjadi cahaya bagi orang-orang di sekelilingnya.
PERFECTION OF LOVE, merupakan sambungan dari novel Cinta dan Dosa.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘