ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KENAPA?


Pagi menjelang aku dapat merasakan sinar matahari yang hangat menyapa kulitku dari sela-sela ventilasi kamar dan jendela yang ternyata tidak tertutup semalaman. Aku mengangkat kepalaku dibantu dengan kedua tangan lalu aku memegang kedua bagian telingaku seakan rasa sakitnya masih kuat dan aku tiba-tiba bisa mendengarkan suara yang tidak aku kenali.


"Sakit .... " ucapku lirih sembari menahan kedua sisi telinga (kiri dan kanan) dengan kedua tanganku.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


Aku membuka pintu yang sudah agak lama diketuk. "Sarah, sudah siang. Kamu ngak kuliah? " tanya Ayah sambil melipat kedua ujung lengan bajunya secara bergantian.


"Iya Yah .... " ucapku dengan suara yang serak dan lemas.


Ayah menatapku seketika setelah mendengar suaraku yang tak biasa. Beliau juga menatap wajahku dengan teliti, lalu Ayah menyentuh dahiku yang terluka dan tampak memar. "Ini kenapa Sarah? " tanya Ayah sambil memajukan kedua alis dan menyipitkan matanya.


"Itu yah. Kemarin, aku jatuh saat berlarian di kampus lalu tersungkur sehingga kepalaku membentur lantai kemudian terluka. Tapi Ayah tenang saja ...! Luka ini sudah diobati sepulang dari kampus. Kak Rio membawaku ke klinik dan ini sudah tidak terlalu terasa sakit lagi yah. "


"Syukurlah ... berarti Rio bisa Ayah andalkan untuk menjagamu selama di kampus. Sarah, bagaimana keadaanmu beberapa hari ini?


"Aku bisa melewatinya dengan baik ayah. " ucap ku karena tidak ingin Ayah khawatir padahal aku sangat ketakutan dan tidak nyaman.


"Malam ini Ayah akan pulang terlambat. Tapi Ayah janji, ini untuk yang terakhir kalinya. Karena Ayah harus menyelesaikan satu proyek penting ini. Jika proyek ini beres, Ayah tidak akan mengambil proyek berikutnya dan bekerja secara normal saja agar bisa menjaga dan menemanimu untuk melewati masa-masa sulit. "


"Terima Kasih Ayah dan aku sangat beruntung karena memilikimu. Ayah, aku sangat takut. Tapi ketika Ayah bersamaku, aku menjadi sangat berani."


"Begitu juga dengan Ayah nak, kamu adalah kekuatan Ayah dan satu-satunya alasan Ayah untuk bisa menjalani hidup dan berdiri tegak hingga sampai saat ini. Makanya Ayah bilang, jaga diri kamu baik-baik!! Karena jika terjadi sesuatu padamu mungkin Ayah akan tiada. "


"Iya Ayah, aku mengerti. "


"Sekarang bersihkan dan rapikan dirimu, kemudian sarapan ...! Ayah yakin, sebentar lagi Rio pasti menjemputmu. "


"Baik yah .... "


*****


Selesai dengan membersihkan diri dan mengganti pakaian, aku segera sarapan bersama Ayah. Baru habis setengah porsi makan, aku mendengar suara Kak Rio memanggil namaku sembari mengetuk pintu rumah dengan lembut. Tidak ingin ditunggu lama, aku langsung meminta izin kepada Ayah untuk berangkat ke kampus bersama Kak Rio.


Karena sangat menghargai Kak Rio, Ayah pun menghentikan sarapannya dan keluar untuk menghantarkan aku. Ayah mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Kak Rio dan Ayah juga menitipkanku kepadanya sekali lagi. Dengan senyum, Kak Rio mengatakan siap menjagaku dan ia juga merasa sangat senang dalam melakukannya.


Aku dan Kak Rio pun langsung berangkat ke kampus. Setibanya di kampus aku langsung diantar ke dalam kelas. Disana aku melihat Feli tengah membaca buku dan aku mendekatinya. "Baca buku apa Fel?" tanyaku sambil memegang bahu kanannya.


Feli mengangkat buku yang sangat tebal tersebut dan menutupnya, lalu ia menunjuk judul buku tersebut dengan jari telunjuk kanannya kemudian aku membacanya perlahan, "Cara menaklukkan iblis." ucapku dengan menelan air liurku yang berat sambil membaca tulisan bercetak merah tebal besar pada cover buku tersebut.


Aku menatap Feli dan Feli juga menatapku, ia mengatakan padaku bahwa, " Jika kita tidak bisa menghindarinya (takdir yang telah digariskan Tuhan untuk kita), maka kita harus berdamai dengannya dan menaklukkan rasa takut agar dapat hidup dengan layak seperti orang-orang di sekeliling kita. Paham? "


"Em .... " sahut ku dengan sedikit suara dan mulut yang tertutup.


"Itu apa yang kamu pegang Sarah? " tanya Feli yang memperhatikan kotak kecil yang ada ditangan kiri ku.


"Aduh, ini milik Kak Rio. " ucapku sambil mengangkat dan memperhentikan kotak kacamata berwarna hitam milik Kak Rio. "Aku antar ke ini dulu ke kelas Kak Rio ya. Soalnya ini kacamata, takut nanti dia nggak bisa belajar dengan baik." ucapku lalu aku meninggalkan Feli di dalam kelas


"Hati-hati." sahut Feli sembari kembali membuka buku besar tersebut.


*****


Aku tiba di dalam kelas Kak Rio. Aku melihat ia tengah mengobrol dengan tiga orang teman laki-lakinya dan aku segera menyapanya. "Kak, ini kacamatanya. Tadi tidak sengaja terbawa oleh ku. "


"Ya ampun ... makasih ya Sarah. Ayo aku antar kembali ke kelasmu. "


"Tidak perlu Kak, aku bisa sendiri kok. "


"Yakin? "


"Iya .... "


Aku segera meninggalkan kelas Kak Rio dan berjalan lamban menuju ke arah kelasku. Awalnya semua terasa normal dan biasa-biasa saja. Tapi ketika aku menuruni anak tangga, tiba-tiba aku melihat dengan ujung mataku bahwa ada seorang gadis yang duduk di sudut kelas, di atas kursi yang tersusun panjang.


Tidak ingin mengganggu perasaanku, aku memutuskan untuk segera meninggalkan gadis tersebut. Tapi pada saat yang bersamaan, secara tidak sengaja aku menabrak seseorang cukup kuat.


"Sory sory .... " ucapku tanpa melihat ke arah lawan tabrakan ku.


"Lo ngak papa Lin?" tanya salah satu teman Kak Linda.


"Ngak papa Mer. " jawab Kak Linda dengan suara yang agak kesal.


Saat mengetahui bahwa orang yang aku tabrak adalah Kak Linda, Aku cukup merasa cemas dan aku menolehkan wajah kepada mereka dengan sedikit rasa takut. Tapi pada saat mataku bertemu dengan mata mereka, hal kebalikannya terjadi. Aku melihat mata mereka menyiratkan rasa khawatir dan takut terhadap diriku tapi aku tidak tahu apa penyebabnya?


Aku memperhatikan setiap wajah mereka satu persatu dan ada yang janggal di sana. Aku melihat wajah yang biasa tampak mulus saat ini tengah terluka seperti tercakar oleh kuku yang panjang dan tajam sehingga meninggalkan bekas. Ada yang di daerah pipi kiri, ada yang di pipi kanan, ada yang di dagu, ada yang di leher, dan ada yang di dahi.


Sebenarnya aku sangat ingin bertanya tentang apa yang telah terjadi kepada mereka tapi aku ragu dan seketika Kak Linda mengatakan kepada teman-temannya agar segera menjauhiku karena aku aku bukanlah manusia melainkan iblis.


Aku sangat jelas mendengarkan ucapan Kak Linda tersebut, tapi aku tidak bisa bertanya secara langsung kepadanya saat ini. Saat geng Kak Linda sudah meninggalkan aku, aku kembali melangkahkan kaki menuju ke arah kelas sembari berpikir tentang arti dari ucapan dari Kak Linda tersebut.


Tiba-tiba aku terbayang dan teringat sesuatu yang berhubungan dengan Feli ketika ia melihatku terluka dan menderita. Walaupun aku tidak menceritakan kejadian sesungguhnya kepada Feli, tapi ia tampak mengetahui hal tersebut dan dia sangat marah.


Flashback


"Ya ampun Sarah kamu nggak papa?" tanya Kak Rio yang datang menghampiriku dan Feli bersama seorang satpam yang bertugas jaga malam kemarin. " Kamu dari mana saja Sarah? Kami semua mencarimu dan khawatir. Coba lihat kepalamu terluka seperti ini. Ya ampun ... apa yang harus aku katakan kepada ayahmu?" tanya kata Kak Rio sambil menghapus darah yang ada di dahi ku dengan baju jaket miliknya.


"Pasti ada yang mengerjai Sarah, aku yakin itu." ucap Feli dengan wajah yang tampak geram. "Awas ya .... " sambung Feli sambil mengepalkan tangan kanannya dengan kuat dan aku hanya memperhatikan tanpa menjawabnya.


"Apa itu benar Sarah? " tanya Kak Rio.


"Kak, bawa aku pulang. Aku hanya ingin pulang. " ucapku sambil mengatur nafas yang sudah tersendat-sendat. "Feli, sebaiknya kamu juga segera pulang! Tidak baik untukmu disini berlama-lama. "


Back


Dengan langkah cepat aku segera menuju ke dalam kelas dan menghampiri Feli sekali lagi. Aku bertanya dengan suara yang pelan kepadanya karena tidak ingin menyinggung perasaan Feli karena bisa saja apa yang aku pikirkan ini salah.


"Ada yang ingin aku tanyakan dan aku katakan padamu Feli !?"


"Apa? " jawabnya ringkas seperti biasa jika memang tidak terlalu penting.


"Apa yang kamu lakukan dengan Kak Linda dan antek-anteknya? " ujarku bertanya sambil menatap Feli untuk mengetahui ekspresi dan gelagatnya.


"Apa yang mereka terima adalah buah dari hasil perbuatannya terhadap orang lain. Mereka yang zalim dan berbuat semena-mena memang harus diberi sedikit kejutan dan pelajaran agar tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang dapat merugikan dan menyakiti orang lain." ucap Feli dengan tatapan matanya yang kejam.


"Aku tau, tapi Fel ... yang hanya boleh memberikan balas kepada manusia adalah Tuhan, bukan kita. Jadi aku berharap kamu tidak melakukan hal seperti ini lagi, karena ini akan membuat kamu semakin jauh dari manusia yang lainnya."


"Jangan sok tahu kamu Sarah ...! Orang-orang seperti mereka tidak akan pernah berhenti menyakiti orang lain sebelum mereka disakiti, sebelum mereka tahu bagaimana rasanya sakit karena terluka, karena terhina, karena terpojok dan karena sendiri. "


"Jangan kamu isi hatimu dengan kegelapan dan kebencian Feli ! Aku tidak ingin kamu masuk ke dalam lubang yang dalam karena itu akan hanya membuatmu semakin sendiri dan terluka."


"Asal kamu tahu Sarah, aku tidak melakukan apapun kepada siapapun. Hanya saja di saat aku merasa terluka dan sakit hati, maka apa yang ada di sekitarku akan bereaksi dengan sendirinya, tanpa perintah. Hal inilah yang membuat aku selalu ingin dan berusaha belajar karena aku harus mampu mengendalikan mereka semua, sebelum mereka mencabik-cabik semua orang yang menyakitiku. "


Aku sama sekali belum mengerti apa yang dimaksud oleh Feli dan saat ini, ia tampak kesal dan marah kepadaku. Mungkin karena Ia berpikir bahwa aku tidak mendukung apa yang ia lakukan kali ini, padahal bukan begitu. Aku hanya khawatir padanya dan aku ingin ia memiliki perasaan bahagia.


"Feli, aku hanya ingin kamu mengerti maksud baikku. "


"Kalau begitu, kamu juga harus mengerti aku."


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘