
Aku kembali berjalan ke arah bambu kuning tersebut dan mengatakan kepadanya bahwa aku menginginkan Amanda. Saat itu, aku melihat mata gadis itu menatap kosong lurus ke depan.
"Jangan macam-macam dengan ku!"
"Tidak. Aku hanya minta satu macam saja dan itu adalah Amanda," tukas ku sambil menatap wanita yang terlihat menakutkan tersebut.
"Kamu takut?"
"Tidak."
"Oya?"
"Tentu saja. Di rumahku masih banyak yang lebih menyeramkan lagi."
Sedang bercakap-cakap, tiba-tiba tangan perempuan tersebut menjulur panjang ke depan dan mencengkram Leherku sembari mendorong sehingga tubuhku mundur beberapa langkah ke belakang.
Aku memegang tangan itu dan mulai membacakan ayat yang biasa aku gunakan untuk melindungi orang-orang yang berada di sekeliling ku. Karena bisa saja ia juga menyerang yang lain atau merasuki tubuh yang lain, sehingga perjalanan waktu magrib saat ini akan lebih panjang.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir."
"Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu."
Asap mulai keluar dari tangannya yang dilapisi kain putih seperti kain kafan yang sudah usang. Saat itu, makhluk tersebut melepaskan tangannya dari mulut Amanda dan mengarahkan jari-jari tangannya yang dipenuhi kuku-kuku yang hitam, panjang serta tajam ke arah mataku. Namun kali ini, aku dapat menangkapnya dengan tangkas.
Fokus ku terpecah karena saat itu aku melihat Amanda tidak bereaksi. Gadis kecil itu hanya berdiri terpaku, tanpa bisa merasakan apapun dan aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Seharusnya ia berlari ke arah orang tuanya karena tubuhnya tidak lagi disekap oleh sosok yang menakutkan tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Ibunya Amanda yang melihat aku seperti terdesak dan sesak nafas. Namun aku tidak menjawabnya karena memang tidak bisa.
Perlahan, aku mengumpulkan tenaga dan memfokuskan diri pada musuh astral yang berada di hadapan ku. Dengan tangan kanan, aku menahan tangan wanita misterius dan menggerakkannya ke atas sehingga aku bisa kembali berbicara.
بِسْــــــــمِ اللَّــــــــهِ الرَّحْمَــــــــنِ الرَّحِيــــــــمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}
"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukanlah kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"Berani-beraninya kamu menggangguku," ucapnya dengan separuh tubuh sudah terbakar api. Mulai dari tangan, bagian dada, dan kedua kakinya.
"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " Lalu aku melanjutkannya dengan surat an-nas dan terakhir Surah An-Naml.
بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْمِ , اَلَّا تَعْلُوا عَلَىَّ وَاْتُونِى مُسْلِمِيْنَ
Bismillahirrahmanirrahiim, allaa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin
Artinya:
Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. (QS An-Naml: 30-31)
"Tidak ada sedikitpun ketakutan di dalam hatiku saat menghadapi makhluk seperti mu. Namun tidak semua dari kalian harus terbakar seperti saat sekarang ini, jika kalian mau memahami artinya. Arti bahwa Allah Sang Penguasa jagat raya termasuk dirimu. BagiNya, kamu hanyalah sosok yang lemah."
"Panggil namanya sesering mungkin!" kata ku sambil menatap Ibunya Amanda.
"Amanda ... Amanda ... Amandaaa .... "
Teriakan dari keluarga Amanda, sama kencangnya dengan suara teriakan sosok astral tersebut. Tak lama, Amanda berteriak dari bambu kuning dan seketika keluarganya dapat melihat Amanda yang sejak tadi seperti bersembunyi.
Selesai memusnahkan makhluk tersebut, tiba-tiba tangan kanan ku gemetar hebat. Aku tidak tahu mengapa? Yang jelas bukan karena rasa takut atau pun lapar.
Seluruh anggota keluarga Amanda berlari mendekati dan memeluk tubuh mungil yang tampak menangis histeris tersebut, kecuali ayahnya. "Mama ...." teriak Amanda, sama seperti gadis kecil lainnya, ketika dalam kebingungan maupun ketakutan. Iya, hanya ibu orang pertama kali kita ingat.
"Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin," kata Ayahnya Amanda saat melihat putrinya memang ada di dekat bambu kuning tersebut.
Sementara aku yang merasa seluruh tubuhku melemah langsung terdiam sambil terus memperhatikan keluarga tersebut menangisi Amanda. Tak lama, aku melihat ayahnya Amanda mendekati gadis kecil itu lalu ia memeluknya sangat erat.
Setelah melihat pemandangan tersebut, aku berpikir kembali. Mungkin selama ini Ayahnya Amanda tidak menyangka bahwa apa yang ia perbuat, bisa sangat berakibat fatal kepada putrinya. Selain itu mungkin juga jika selama ini, dia tidak mengetahui bahwa dunia astral itu memang ada dan selalu mencari celah serta peluang untuk mengambil sisi dari diri kita yang berharga.
"Kamu ndak apa-apa, Sarah?" tanya Wiro yang tampak tergesa-gesa ke arah ku dan kau hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Bau darah, wewe gombel to?"
"Aku ingin pulang."
"Ayo."
"Sebentar, siapa namamu?" tanya Ayahnya Amanda yang tampak mulai perduli.
"Sarah." Lalu aku meninggalkan mereka semua sambil memeluk tubuhku sendiri yang sudah gemetaran.
"Izinkan kami untuk mengantarkan kamu pulang."
"Tidak, Terima kasih dan sebaiknya kalian semua juga pulang! Sebelum yang lainnya datang."
"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Ibunya Amanda. Aku sama sekali tidak menolehkan wajahku ke belakang karena aku tidak ingin masuk ke dalam urusan keluarga mereka jauh lebih dalam. Ini saja, rasanya sudah sangat menyakitkan.
"Kamu yakin kuat, Sarah?"
"Iya, aku hanya bergetar," ucap ku ketika sudah cukup jauh meninggalkan keluarga tersebut.
"Dia itu mesti makhluk lama, maksud ku penunggu yang sudah lama berada di sana. Itu makanya dia cukup kuat. Seharusnya, kamu memanggilku, Sarah. Jadi kamu nggak perlu turun tangan langsung seperti ini. Sekarang, coba lihat dirimu!"
"Aku hanya sedikit gemetaran, Wiro."
"Sarah, kamu sedang luka dalam dan pemulihannya tidak mudah. Jangan anggap remeh, dasar bocah polos."
"Jangan lagi menggerutu, Wiro! Sekarang aku tanya, apa aku bisa meniti jalanan ini hingga ke mobil dengan tenang?" tanya ku karena melihat sudah banyak makhluk-makhluk astral yang berserakan di hadapanku. Wajar saja karena suara adzan magrib sudah mulai terdengar dari masjid di sekitar lokasi di mana aku bergerak.
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.