ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG


Ini sudah lewat dari jam tidur malam ku. Tapi tidak ada rasa kantuk sedikit pun, yang ada hanya ketegangan. Mata batinku memang tajam, tapi firasat ku, tidak setajam Feli. Tadinya aku merasa semua ini akan berakhir karena kesadaran Mira, tapi ternyata aku salah. Iblis sebenarnya baru saja muncul di hadapanku.


Saat mataku menatap mata Mira, aku dapat melihat dirinya yang tidak berdaya. Ternyata selama ini aksi balas dendam yang dilakukan Mira, tidaklah murni ia yang melakukannya karena ada campur tangan lihat lain yang sangat pandai memanfaatkan situasi dan keadaan untuk menyesatkan umat manusia.


Entah apa yang ada di dalam hatiku saat ini, rasanya ... tidak sedikit pun ada rasa gentar. Padahal aku tau persis dengan apa yang aku hadapi saat ini. Mungkin makhluk itu juga sengaja menampakkan wujudnya untuk melemahkan dan menurunkan kekuatan serta keyakinan di dalam hatiku.


Mira membalik tubuhnya dengan sangat cepat, lalu wajah iblis tersebut menatapku tajam, seakan-akan ia ingin menghisap darah dan mencabik daging muda ku saat ini. Tak lama, ia tersenyum dengan menyunggingkan bibir kirinya.


"Sarah ... lari, Nak! Pergi dari sini," ucap Ayah yang sudah bergelimang darah dan gemetaran di lantai yang sudah terasa sangat dingin ini.


Braaaak ...


Tubuh lemah Ayah terdorong ke arah meja kayu tua dan aku berusaha berlari dengan cepat untuk memeluk Ayahku, tapi satu hal yang menahan ku. Tampaknya jika aku mendekati Ayah, dia akan semakin menyakiti Ayah.


"Ha ha ha ha ha ha ha .... " Suara laki-laki yang berat terdengar sangat kuat dan menggema di dalam ruangan tanpa pintu ini. "Bisa apa kamu anak kecil?" ucapnya sambil melaju ke arah ku dengan sangat amat cepat, bahkan secepat satu kali tarikan nafasku.


Dari mata bengisnya sudah sangat jelas terlihat bahwa ia ingin menghabisi ku. Tapi ternyata bukan aku orang yang pertama diincar nya, melainkan Rido. Hal ini menunjukkan kebenaran yang sangat jelas karena tidak mungkin Mira yang melakukannya.


Seakan mampu membaca gerakannya yang sangat cepat, aku langsung berlari mundur ke arah Rido dan Papanya untuk memegang mereka berdua. Sadar dengan aksi ku, iblis tersebut melemparkan meja kayu tepat di punggungku. Satu hal yang aku rasakan, sakitnya luar biasa.


Aku tergeletak di atas lantai dengan darah yang mulai mengucur dari dalam lubang hidungku. "Ha ha ha ha ha ha ha ... perbedaan kekuatan yang sangat jauh bukan? bahkan aku bisa membunuh tanpa menyentuh."


"Bahkan Allah mampu membunuh tanpa mengatakannya," ucapku seakan menantang iblis tersebut dan dia terlihat sangat marah dan geram mendengar perkataan ku.


Mungkin dia pikir saat ini aku sangat ketakutan dan menganggap dirinya lah yang terhebat dan dia ingin aku memohon kepadanya agar bisa terus hidup.


Dia mengangkat tubuhku dengan kemampuan gaib nya (tanpa menyentuh tubuhku) hingga punggungku menyentuh langit-langit ruangan dan menjatuhkan kembali ke lantai hingga wajah dan perutku membentur lantai sangat kuat. Aku pun kembali meraung kesakitan.


"Saraaahhh ... pergilah, Nak!!" ucap Ayah yang menangis melihat ke arahku tanpa bisa menggerakkan tubuhnya. Mungkin Ayah seperti itu karena merasa tidak lagi mampu membantu ataupun menyelamatkan aku.


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum semuanya usai, Ayah," ucapku dengan suara yang kecil dan menatap Ayahku.


"Kalau begitu, lawan dia Sarah! Binasakan dia dengan kalam Ilahi! Ayah merestui dan mendoakan setiap ikhtiar yang kamu lakukan dan Ayah ikhlas jika kita harus mati di jalan Allah," ujar Ayah dengan suaranya yang kuat, namun bergetar hebat. Sambil menarik air hidungnya, Ayah meneriaki aku seperti bocah nakal, "Berdiri ... !!"


Dengan menyandarkan tubuhku di tembok, aku berusaha berdiri tegap. Walau begitu, kedua kakiku tetap saja gemetaran. Bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu sakit dan terlalu lelah.


"Ha ha ha ha ha ha ha ... aku sangat suka menikmati kematian manusia seperti dirimu. Pertama, aku akan masuk ke dalam tubuhmu itu dan menghabisi semua yang ada di rumah ini. Lalu aku akan membiarkan kamu sadar agar kamu dapat melihat lumuran darah di kedua telapak tanganmu itu. Ha ha ha ha ha ha .... "


Ya Allah ... berikan aku kekuatan dan suara seperti Nabi Daud ... berikan aku ketengan hati dan keberanian seperti Nabi Muhammad SAW. Do'aku di dalam hati dengan sungguh-sungguh. Tiba-tiba perasaan dan hatiku yang dingin menjadi hangat. Dari situ aku yakin bahwa aku tidak sendiri.


"Masuk kamu bilang? ha ha ha ha ha ha ... aku yang sekarang, bukanlah Sarah yang dulu. Jangan pernah bermimpi!" ucapku sambil menyunggingkan senyumku. "Aku yang sekarang, jauh lebih kuat dari pada baja, jauh lebih panas dari pada api, jauh lebih halus dari pada angin, jauh lebih tebal dari pada badai."


"Bocah bodoooooh!!" teriaknya hingga air liur pekat di dalam mulutnya berceceran di lantai.


"Allaaaaaaah Hu Akbar .... "


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


Latin: A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim


Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ


Latin: qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.


Artinya: Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."


Iblis itu terbang sangat cepat mendekati tubuhku, tapi saat wajahnya sangat dekat dengan wajahku dan jari-jari tangan dengan kuku yang tajam hendak mengoyak perutku, tiba-tiba rohnya terhenti. Seperti ada penghalang tak kasat mata yang membatasi antara tubuhku dengan tubuh roh fasik tersebut.


"Lihat!! Ini adalah kalam Ilahi yang mampu membentengi tubuhku dari iblis seperti dirimu," ucapku dengan suara yang tipis dan pelan kemudian dari mulutmu keluar darah segar. "Aku akan membinasakan kamu atas izin Allaaaaaaaaah!!" teriak ku dan tiba-tiba roh tersebut seperti terlempar oleh kumpulan angin yang sangat kuat hingga rohnya berputar-putar di tembok yang berseberangan denganku.


Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, hingga tiba-tiba aku mengingat senjata dari sapu lidi yang aku jalin dan aku bacakan do'a. Aku menatap Ayah yang tersenyum kepadaku dan aku menuju ke arahnya sambil memegang dadaku yang rasanya sangat penuh dan sesak.


Dari sini, aku mengambil potongan meja kayu yang patah saat dilemparkan ke tubuhku. Aku memilih potongan kayu ini karena dari kejauhan aku dapat melihat kilauan yang ternyata berasal dari ujung paku yang tertancap di bagian kayu tersebut.


"Aku jadikan kamu senjata bagiku untuk memusnahkan iblis terlemah hingga iblis terkuat yang berada di hadapanku, atas izin Allah." Lalu aku meniup kayu usang yang rapuh dan banyak bubukan tersebut, kemudian aku maju tanpa gentar sedikit pun sambil berteriak hebat serta memohon kepada Allah.


أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُ هُنَّ بَرُّ وَلاَ فَا جِرُ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذّرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُ قُ بِخَيْرٍ يَا رَححْمَنُ


"Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân……..…” [Doa mengusir setan jahat, HR. Ahmad]


Peperangan terjadi, seakan-akan kayu lapuk yang aku pegang berubah menjadi senjata sakti bercahaya. Aku dapat melihatnya dengan jelas dan hal itu membuat aku semakin yakin dan percaya diri.


Beberapa kali aku berhasil memukul tubuh iblis tersebut dan bagian tubuhnya itu tampak hancur berderai dan tertiup angin kemudian menghilang, bahkan seperti robot atau lempengan baja yang terkena rendaman lahar yang sangat panas hingga tubuhnya meleleh dan bentuknya tidak lagi seperti semula.


Iblis tersebut terus menyerang ku, tapi tubuhku seakan mengeluarkan cahaya putih (bertindak sebagai perisai), sehingga ia tidak mampu menyentuh ujung kuku ataupun kulit tubuh ku.


Teriakan demi teriakan tidak lagi keluar dari mulutmu, melainkan dari mulut toh fasik tersebut. Sementara aku hanya berteriak semakin kuat sambil menyebut nama Allah.


"Allaaaah Hu Akbar ... Allaaaah Hu Akbar ... Allaaaah Hu Akbar .... " Teriakku sambil terus mengeluarkan air mata dan walaupun sesekali aku terjatuh karena kelihaian iblis tersebut, tapi aku kembali bangkit dan menyerangnya tanpa menghiraukan rasa sakit ku.


Sadar bahwa dia memanfaatkan roh Mira, dengan cepat aku menarik bagian tangan kanannya yang masih pada wujud Mira untuk melepaskan Mira dari dirinya ketika ia terpojok di dinding ujung ruangan yang berbentuk segitiga.


"Allah Hu Akbar ... atas izin Allah, aku memisahkan antara dua roh yang saling berhimpitan untuk dikembalikan kepadaNya. Mira, bantu aku!" ucapku sambil melihat bagian mata kanan makhluk tersebut yang merupakan mata Mira dan saat itu aku dapat melihat air matanya yang merah. "Sekaraaaaaaaaang!!" teriakku sambil melotot dan menarik roh Mira dari roh fasik tersebut.


Saat roh Mira sudah berpisah dari roh fasik tersebut, aku langsung membacakan Surat An Nas dan Surat Al Lahab untuk membakarnya. "Aaaaaaaggghhhh ...." Suara erangan nya kuat terdengar dan ia bergerak berputar-putar untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya.


Tak lama, ia mengeluarkan sesuatu yang tidak terlalu besar dari dalam mulutnya, berwarna hitam mengkilat dan bergerak sangat cepat. Aku tidak tau apa itu, yang jelas dia sudah pergi meninggalkan aku karena aku memang tidak mampu untuk mengejarnya.


Saat semua sudah terbakar habis, tubuhku tiba-tiba menjadi lunglai. Aku terjatuh dan tergeletak di lantai sambil menatap Mira (ke arah atas). "Aku sudah tidak berdaya, jika kamu masih ingin menuntaskan dendam mu, lakukanlah ...! Tapi ingat, putramu membutuhkan Papanya dan yang paling utama, azab Allah sangatlah perih."


Mira berdiri di tengah-tengah antara aku dan Rido serta Papanya. Tak lama, sebuah keajaiban terjadi, Rido dapat bicara dan mengatakan, "Ibu .... " katanya sembari menangis.


Setelah mendengarkan ucapan Rido, Mira langsung menangis tergugah-guguh sambil berdiri dan aku mengerti maksudnya walau ia tidak bicara. Tak lama, roh Mira menghilang tanpa paksaan.


*****


Islam mengajarkan umatnya untuk mempercayai adanya bangsa jin dan setan. Agar diwaspadai godaannya, bukan untuk ditakuti madharratnya, sebab tidak ada yang kuasa memberikan manfaat atau madharrat selain dengan izin Allah Azza wa Jalla.


Gangguan dan godaan setan mungkin datang kapan saja, namun seorang Mukmin dapat menghadapi dengan kekuatan tauhidnya yaitu berlindung kepada Rabb Azza wa Jalla Yang Maha segalanya.


Tidak dibenarkan takut kepada setan, apalagi meminta perlindungan kepada setan dari gangguannya. Karena yang demikian adalah syirik. Ketakutan itu justru akan menambah kejahatan dan kecongkakan setan terhadap manusia, setan akan menyiksa manusia dan membuat mereka semakin gelisah serta ketakutan.


Aku masih tergeletak tidak berdaya. Dari jarak yang cukup jauh, aku dan Ayah saling memandang. Saat ini hari mulai subuh dan semua teriakan terakhir yang bertubi-tubi keluar dari mulutku, sepertinya memancing warga sekitar untuk mendatangi rumah angker ini, sehingga aku dapat mendengarkan suara riuh dari beberapa orang.


"Tolooooong ... tolooooooong .... " teriak Ayah yang masih memiliki tenaga.


"Ada orang di dalam ... ada itu ... masih hidup," ucap beberapa warga yang langsung masuk ke dalam rumah tersebut.


Dengan bantuan warga, kami semua di keluarkan dari rumah Mira. Begitu juga dengan Komandan dan Azura yang ditemukan di lantai atas dalam keadaan baik-baik saja. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menemukan Feli ku.


Dalam kebingungan aku terus menatap rumah iblis tersebut yang dibakar oleh warga agar tidak lagi menimbulkan keresahan di dalam masyarakat. Feli, kamu dimana? tanyaku tanpa suara dan aku tidak tau apa-apa lagi (pingsan).


Bersambung ....


Para reader, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘