ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
REKAMAN


Suasana yang ramai terasa sunyi sepi. Ini sangat mencekam, seperti sedang duduk sendiri di tengah kuburan saat tengah malam. Aku terdiam, Feli terdiam, Ayah tak berkata apa-apa, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya ada suara tangisan kecil dari mulut Mamanya Azura yang tampak bilang akal dan semangat akibat melihat kondisi buah hatinya.


"Apa ada petunjuk, Ndan?" tanyaku mulai memecah keheningan dalam duduk cukup banyak orang.


"Ini," ucapnya sambil memberikan kami ponsel milik Azura.


Aku mengambil ponsel tersebut dan mulai melihat 10 deretan rekaman, mulai dari yang pertama. Saat itu kami melihat rekaman perjalanan mereka semua dalam balutan canda tawa yang seru khas anak remaja.


"Perjalanan malam," ucap Feli saat melihat rekaman kedua yang menampakkan nuansa hari yang sudah gelap.


Tak lama, tampak pemuda pemudi ini menghentikan laju kendaraannya di sebuah tempat yang sepertinya merupakan destinasi wisata yang sangat ramai pengunjungnya. "Ini pasar malam?" tanya Feli yang sangat antusiasme memperhatikan rekaman tersebut.


Awalnya mereka merekan kebersamaan saat main panahan, komedi putar, pacu kuda, dan roda-roda gila. Terakhir, salah satu dari mereka mengajak ke tempat yang menurutnya seru dan asik.


Mereka pun pergi ke wahana rumah hantu yang dimodifikasi sangat horor sehingga beberapa orang diantara mereka tampak ketakutan, tapi sangat penasaran. "Kita mau uji nyali duluuu," teriak mereka beramai-ramai sambil menghadap ke kamera HP.


"Wahana permainan yang satu ini terlihat sangat cocok bagi yang ingin memacu adrenalin, ya?" kata Azura sambil menatap camera cukup lama.


"Gadis yang cantik," celetuk Feli.


"Perhatian guys! permainan dengan horor experience seperti ini memang sudah populer dan banyak ditemui. Umumnya, rumah hantu memberikan sensasi di mana peserta diharuskan berjalan kaki di dalam wahana horor dan mengerikan tersebut. Ada yang berani?" tanya salah satu dari mereka yang direkam dari belakang.


"Meskipun menyeramkan, permainan ini sangat menarik wisatawan yang ingin mencobanya loh. Berbagai tema dan cerita yang ditawarkan selalu berbeda sehingga membuat pengunjung tidak bosan dan penasaran untuk merasakan sensasi yang berbeda-beda dari tiap wahana rumah hantu," sambung remaja lainnya.


"Dalam pasar malam ini berisikan lima wahana permainan yang bertemakan horor yang ada di Jawa Timur. Segera siapkan mental kamunya guys! Wuhuuu .... " ucapnya sambil terlihat merinding.


"Perhatikan guys! Tempat ini namanya Ke-ra-ton Han-tu," ucap Azura dengan suara setengah berbisik.


Mereka mulai memasuki wahana tersebut beramai-ramai dan terdengar teriakan histeris dari mereka yang saling bersahutan karena kaget dan takut.


"Bisa dibilang, Keraton Hantu sangat memberikan suasana yang mencekam dan sangat bisa memacu adrenalin kalian semua. Jika mendengar wahana permain rumah hantu saja, pastinya sudah sangat horor dan menyeramkan apalagi ditambah dengan dekorasi yang mendukung," ucap salah satu pemuda yang ternyata Rido.


"Lihat ini! Sama seperti rumah hantu lainnya, kita diharuskan untuk berjalan kaki menelusuri rumah hantu ini. Tetapi yang membuatnya lebih mencekam, kita tidak diperbolehkan untuk masuk beramai-ramai. Dalam sekali permainan hanya diperbolehkan satu tim saja yang masuk. Ayo ikuti kita!"


"Betapa orang sih?" tanya teman yang lainnya.


"Satu tim berisikan maksimal lima orang. Tim berikutnya diharuskan untuk menunggu tim sebelumnya keluar dari Keraton Hantu. Bayangkan saja! Jadi kita hanya akan bersama empat orang lainnya dalam satu wahana rumah hantu ini. Seram gays," ucap Rido menutup kata pembukaan darinya lalu mereka mulai menyusuri bagian terdalam dari rumah hantu keraton tersebut.


"Gila, seram banget ... rasanya aku mau pipis."


"Iiiih ... dasar jorok."


"Bagaimana tidak, semua ini layaknya escape room. Di sini, diharuskan untuk berjalan kaki dan menemukan jalan keluar dari rumah hantu ini yang pastinya butuh keberanian. Jangan sampai terjebak dan tersesat, alih-alih menemukan jalan keluar, kita malah bisa menemukan jalan buntu dan bertemu dengan kawanan hantu."


"Iuuuh ... kenapa aku **** sekali sih, ikutan yang beginian," sambung yang lainnya.


"Seru tau," ucap Azura.


"Itu di sana ada cahaya, pasti jalan keluarnya," ucap Rido sangat yakin dan yang lain terus mengikuti langkah kakinya.


Tak sesuai ekspektasi, mereka malah terjebak pada ruangan yang lain dengan nuansa yang berbeda. "Rumah Sakit Hantu," mereka membaca judul ruangan tersebut yang berada di atas bertengger pada gapura.


Tiba-tiba lampu padam, dan saat menyala kembali, aku dan Feli melihat sesuatu yang bergerak sangat cepat dan kami yakin itu bukan hantu bohongan atau artis hantu.


"Stop! Ulang lagi, Sarah."


"Iya .... " Lalu kami memperhatikan bayangan tersebut dengan seksama dan kami saling menatap. "Mereka bermain di tempat yang salah," ucap ku saat menatap Feli dan ia menganggukkan kepalanya.


"Gimana dong ini gays? mendengar kata rumah sakit saja sudah pasti horor, karena selalu dikaitkan dengan hal-hal mistis dan flim-film horor, apalagi dengan embel-embel Rumah Sakit Hantu," tanya salah seorang teman pria berambut keriting. "Apa sebaiknya kita mundur aja dan keluar lewat pintu pertama?"


"Pengecut lho ... cemen!" ejek yang lainnya termasuk Azura. "Ayo masuk!" kata Azura melangkah paling depan.


"Sesuai dengan namanya guys, di sini kita akan merasakan sensasi berada di rumah sakit angker yang dipenuhi oleh para hantu. Banyak sekali patung-patung dan dekorasi yang menambah kesan horor dan mencekam yang pastinya akan memompa adrenalin kita semua."


"Gila, Di sini kengerian akan terasa lebih nyata, karena bukanlah dekorasi, patung atau manusia yang dirias untuk menakut-nakuti, melainkan sebuah teknologi canggih dengan sensor yang akan mendeteksi seseorang yang sedang berjalan sehingga menghasilkan suara-suara yang menyeramkan. Jadi kita tidak tahu dari manakah arah suara itu yang pastinya sangat menganggu pikiran kita" kata Rido melanjutkan rekamannya.


Setelah perjalanan panjang penuh ketakutan, akhirnya kelompok Azura keluar dari rumah hantu tersebut. Heboh, Kira-kira begitulah gambaran obrolan dan ekspresi semua remaja tersebut. Sekarang mereka tinggal menunggu 3 orang temannya lagi yang masuk ke dalam rumah hantu tersebut.


Sekitar satu jam, semuanya sudah keluar lalu berkumpul dan saling berbagi rasa serta cerita. "Ayo makan malam dulu! Disana ada pondok makan tuh."


"Setujuuuu .... "


Mereka terlihat merekam aksi makan mereka yang sangat seru walaupun tampak sederhana. Sambil makan, mereka menceritakan tentang perasaan mereka selama di dalam wahana rumah hantu.


"Itu aja gue sudah merinding disko, Mang," jawab salah satu teman wanita Azura.


"Memangnya di sekitar sini ada rumah hantu beneran gitu, Mang?" tanya Rido penasaran sambil merekam dan mengunyah makannya.


"Ada. Noh ... dari sini lurus aja. Ada perempatan jalan, Masnya ke kiri. Disana ada ada rumah besar bertingkat."


"Wah seru tuh," ucap yang lainnya seakan menantang keadaan.


"Beneran seru itu gays, nanti kita buat rekaman amatir selama di sana. Sebentar aja! Setelah itu baru kita cari penginapan."


"Ngak usah aja deh, serem tau ... "


"Ngak apa-apa, sebentar aja. 10 menit aja cukup, kita cuma ambil bagian depan dan sedikit bagian dalamnya saja."


"Ngak ah ... aku ngak mau masuk. Takut," tolak yang lainnya.


"Dasar penakut! Bucin sih lho .... "


"Bodo amat."


Terlihat perdebatan yang cukup panjang diantara mereka semua dan akhirnya mereka tetap memutuskan untuk datang ke rumah tersebut. "Yang takut, tetap stay di dlam mobil aja! Ngak usah manja!" kata Rido. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya.


"Itu gays, rumahnya."


"Yakin?"


"Yakin banget. Ini kan sudah sesuai petunjuk arah."


"Pukul berapa ini?"


"Baru pukul 22.00 WIB. Bencong aja pulang subuh. Ayo masuk!"


Lima orang teman laki-laki Azura mulai menapakkan kakinya di atas halaman rumah angker tersebut, yang tampak sangat kotor dengan daun-daun kering yang menumpuk dan menutupi tanah.


"Halo gays. Alkisah, di daerah sini terdapat sebuah rumah tak berpenghuni yang sangat ditakuti penduduk sekitar. Menurut mitos yang beredar, dahulu pernah ada lima orang remaja yang nekat memasuki rumah tersebut dan tidak pernah keluar lagi. Yakin? coba aja dulu biar tau," ucap Rido sambil kembali merekam dirinya sendiri.


Setelah merekam dirinya sendiri, Rido dan keempat kawan lainnya mulai memasuki rumah yang tidak dikunci tersebut. Saat mulai mendorong pintu utama, teman-teman wanita yang lainnya berteriak dan berlari ke arah teman-teman laki-laki lainnya serta berkata jika mereka ingin ikut saja, lebih seram di dalam mobil.


Jika dilihat sekilas, rumah itu tidak berbeda dengan rumah-rumah penduduk lainnya, dengan satu buah pintu kayu dan dua buah jendela di sampingnya. Namun, ketika menginjakkan kaki di bagian dalam rumah, suasana mencekam langsung terlihat.


"Ruangannya gelap gulita guys. Hidupkan lampu senter HP kalian!" perintah Rido.


"Gila, udaranya pengap dan lembab. Sampai-sampai langsung membuat bulu kuduk setiap orang yang masuk, berdiri," sambung Azura.


Ketika mereka mulai menjelajah lebih dalam, kejadian-kejadian aneh pun terjadi. Mulai dari meja yang bergeser sendiri, tirai berkibar padahal tidak ada angin, hingga suara-suara aneh memekakan ttelinga


"Seram gays ... ****** kita."


"Sebentar aja! Ayo kita ke belakang dan langsung merekam bagian pekarangan rumah bagian belakang!" ucap yang lainnya.


Menurutku, bagian pekarangan belakang rumah pun tak kalah mencekam, lengkap dengan bau busuk menerpa hidung. Bercak-bercak darah, yang lengket ketika diinjak, tampak memenuhi jalan setapak di pekarangan.


Sementara di kanan kirinya penuh dengan barang rusak berserakan dan berbagai tanaman yang tumbuh liar tak terawat.


Di antara lebatnya tanaman tersebut sayup-sayup terdengar suara tawa wanita tanpa wujud. Suasana makin mencekam dengan kemunculan sosok tuyul, pocong, dan kuntilanak di hampir setiap sudut rumah, menebar teror dan ketakutan pada siapa saja yang masuk ke dalamnya.


Itulah gambaran suasana rumah hantu tersebut berdasarkan penglihatanku. Walaupun di dalam kegelapan malam, aku tetap dapat melihat semua rekaman dengan baik.


 


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘