ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG 7


Ada masa dimana manusia dan makhluk tak kasat mata bisa bekerjasama dan saling mengasihi. Bagi mereka, mungkin Nenek Nawang Wulan adalah manusia yang sesat. Tapi bagiku, ia adalah manusia yang baru saja menemukan jalan yang terang diantara gelap.


Aku teringat bagaimana diriku dulu, ketika aku begitu bodoh dan tidak tau apapun tentang agama. Rasanya tidak adil bagiku jika dicap sebagai manusia sesat karena memang aku tidak pernah diajarkan perihal akhirat.


*****


Suasana semakin memanas, aku melihat Nenek Nawang Wulan begitu marah. Terlihat dari tangannya yang digenggam erat pada bagian kepala tongkat putih miliknya. Sementara makhluk besar tersebut masih sibuk menyeimbangkan tubuh besarnya yang masih berputar-putar akibat pukulan dari Nenek.


"Kurang ajar. Siapa kamu? Kenapa kamu ikut campur pada urusan ku?" tanyanya dengan suara yang sangat marah, saat punggungnya menempel pada tembok ujung ruangan yang gelap. Namun Nenek Nawang Wulan sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut.


Tak lama, bersamaan bangkitnya makhluk besar tersebut, bergeraklah bagian pohon menyerupai akar yang panjang berwarna coklat segar berbiji-biji dan terus menjalar ke arah Nenek Nawang Wulan. Akar itu mengikat kedua kaki Nenek dan menyeretnya ke depan dengan sangat cepat, sehingga tubuhku tertinggal jauh dari Nenek.


Nenek berusaha bertahan dengan tetap menegakkan tubuhnya. Ia terlihat sangat kuat, bahkan di dalam keadaan seperti itu, ia tetap saja mampu berdiri tegak. Aku terus memandangi Nenek yang jaraknya tidak terlalu jauh dariku, sambil menyandarkan tubuh ku di tembok belakang dan memegang bagian tubuhku yang paling sakit.


"Ternyata kamu, Putri," ucap seseorang yang tampak tidak terlalu besar dengan wajah yang menyerupai manusia, namun tubuh hingga kakinya berbentuk kuda. Telinganya besar dan lebar, dihiasi dengan anting-anting bulat besar berlonceng emas. Kemudian ia memegang tombak yang sepertinya terbuat dari campuran besi emas.


"Banyu Sewu?" sahut Nenek dengan suara yang keras dan tampaknya Nenek sangat tidak asing dengan makhluk tersebut.


Makhluk tersebut maju dan memperhatikan Nenek Nawang Wulan yang berdiri tepat di hadapannya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu terlihat berbeda putri, tidak segarang biasanya." Lalu makhluk setengah kuda tersebut menatapku tajam. "Apa karena tuan mu masih muda dan tidak berilmu?"


"Hah, dia memang masih muda dan bodoh, tapi dia lumayan bisa bekerja. Lihat saja budak mu yang ukuran tubuhnya 5 kali lebih besar dari pada dirinya! Yang pengalaman bertarung 1000 kali lebih banyak dari pada dirinya dan usianya 500.000 tahun lebih tua dari pada dirinya," ujar Nenek Nawang Wulan sambil tertawa kecil setengah mengejek sembari menatap makhluk besar yang sudah kehilangan bagian dari tubuhnya.


Makhluk setengah kuda tersebut memperhatikan pengawalnya dan kembali menatapku tajam. "Ilmu apa yang kamu gunakan?" bertanya dari jarak jauh. Namun aku tidak menjawabnya karena aku sudah merasa sangat lemah dan lebih baik aku tidak membuang-buang energi ku hingga batas subuh.


"Dia tidak akan menjawab pertanyaan dari makhluk seperti kamu, Banyu!" ejek Nenek Nawang Wulan. Kemudian tiba-tiba rasanya tubuhku bergetar saat makhluk setengah kuda tersebut menghentak salah satu kakinya.


"Allahu Akbar," ucap ku sambil memegang lantai yang rasanya bergoyang.


"***Putri, jika kamu bersedia. Kamu bisa tinggal di sini bersama ku dan berbagi apapun, termasuk makanan serta budak."


"Sayangnya aku lebih memilih rumah yang bersih saat ini***."


"Apa kurangnya tempat ini, Putri? Kita hanya tinggal menghabisi satu nyawa lagi, setelah itu kita akan kekal dan menguasai semua ini. Dulu, manusia mengusir ku dari tempat ini, sekarang, setelah mereka membangun istana megah ini, aku lah yang akan mengusir mereka. Jika kita berdua bersama, kita tidak akan pernah terkalahkan. Seperti dulu!"


"Seperti dulu?" sahut Nenek seakan kembali mengingat kenangan semasa hidupnya.


"Coba lihat dirimu, Putri! Kamu begitu tampak lemah, bahkan kulitmu saja retak-retak dan hanya dengan satu kali tendangan dariku saja, kamu bisa hancur menjadi abu hitam," ancam mahkluk setengah kuda tersebut.


"Kamu jangan mengancam ku!! Saat ini, aku memang sangat lemah. Tapi ... kamu jangan lupa satu hal." Makhluk setengah kuda tersebut menatap tajam ke arah Nenek Nawang Wulan. "Aku tau kelemahan mu, Banyu Sewu." ujar Nenek kali ini dengan suara yang lantang dan tinggi.


"***Itu artinya, saat ini kita adalah musuh."


"Ya***."


"Habisi mereka!!" perintahnya, kemudian keluarlah beberapa makhluk yang beraneka rupa, namun bentuknya tidak sempurna seperti manusia. Jika aku hitung, jumlah mereka sekitar 10 dan mereka tampak ganas.


Lima diantara mereka terbang, melompat, berlari dan menyerang Nenek Nawang Wulan sekaligus. Aku pikir, semua akan berakhir. Tapi aku salah, tiba-tiba dari tubuh Nenek, keluarlah 2 makhluk yang menghalau serangan musuh. Sementara yang satunya lagi menarik tubuh Nenek Nawang Wulan ke belakang, tidak jauh dari diriku.


"Ternyata kamu masih menyimpan banyak, Putri."


"Tidak, mereka yang tidak ingin pergi dari ku. Coba lihat! Bahkan aku tidak lagi membelenggu mereka."


Sesuatu yang bertubuh tidak terlalu besar, memiliki telinga lebar dan runcing kembali ke samping kanan Nenek, setelah menerjang musuhnya. Dan sesuatu yang menarik tubuh Nenek Nawang Wulan, langsung berdiri di samping kiri Nenek dengan wajah dan bentuk tubuh seperti manusia sempurna, berpakaian kerajaan, dengan wajahnya yang tampan.


Tak lama, makhluk setengah kuda tersebut berteriak. Ia tampak sangat marah, sehingga banyaklah berkumpul makhluk lain disekitarnya dan mereka tampak bengis dengan kebencian yang besar.


"Kamu tetap disini, Sarah. Ini tidak akan mudah," ucap Nenek sambil menggenggam tongkatnya dan melirik ke arah ku.


"Iya, Nek." Belum sudah sahut ku pada Nenek, tiba-tiba makhluk yang menyerupai elang, terbang dengan sangat cepat dan sepertinya ia hendak menancapkan ujung patuk nya pada tubuh Nenek Nawang Wulan.


"Aaauuung .... " Terdengar suara aungan yang sangat besar dan menggema di seluruh ruangan, dari seekor harimau yang melompat dan mencabik-cabik elang tersebut dengan sangat cepat. Bahkan mataku sangat sulit untuk merekam kejadian tersebut.


"Datuk .... " ucap Nenek Nawang Wulan sambil tertunduk, ketika harimau tersebut berjalan mendekatinya dan berdiri dihadapannya.


"Dari semua parewangan milikmu, aku memang yang paling lemah. Tapi jangan lupakan dua hal Nawang. Yang pertama, aku sangat cepat dan yang kedua, aku selalu berada digaris depan dan menjadi perisai mu di dalam setiap pertarungan mu." Lalu harimau itu membalik badannya ke depan.


Aku dapat melihat begitu banyak bekas luka di bagian kepala, wajah, badan dan kaki dari harimau tersebut. Kemudian saat aku mendengar ucapan darinya, jantungku langsung berdetak kencang, seolah aku dapat merasakan semangat sebuah pertempuran.


"Aku juga akan bertarung," ucap harimau lain dengan matanya yang berwarna merah. Buntutnya sangat panjang dan pada ujungnya seperti tegang/keras.


"Kenapa kalian ini? Aku tidak seperti dulu. Apa kalian tau apa yang sedang kalian hadapi? Dan dengan siapa kalian bertarung saat ini?" tanya Nenek Nawang Wulan dengan suara yang bergetar.


"Seperti dulu, kami siap menjadi abu. Demi melindungi tuan kami. Mari binasa dengan gagah berani, sekali lagi ... kita akan bertarung untuk kebaikan dan cahaya, walaupun kita sangat kotor," ucap salah satu dari mereka yang tampaknya sudah sangat lama membantu Nenek bertarung.


"Kalian yakin? Padahal kalian sudah hidup bebas dan bisa bersenang-senang."


"Yakin," sahut mereka bersamaan.


"Maju!!" teriak Nenek Nawang Wulan tanpa gentar. Jumlah mereka tidak sesuai, mungkin 1 banding 50. Tapi mereka terus maju dan saling melindungi satu dengan yang lainnya.


"Seraaang .... " ucap makhluk setengah kuda saat melihat pasukan Nenek Nawang Wulan sudah menyerang terlebih dahulu.


Awalnya, ruangan ini sangat sempit. Tapi setelah mereka bertarung, aku merasa ruangan ini sangat besar dan lebar. Ini seperti lapangan yang sangat luas tanpa batas. Aku menyaksikan pertumpahan darah hitam dan teriakan kesakitan dari banyak makhluk.


Saat melihat semua ini aku menangis dengan tubuh yang gemetaran. Ini adalah pengalaman pertama bagiku dan aku merasa tidak kuat. Mungkin aku bisa gila atau kehilangan banyak memori di dalam otakku. Bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi pada manusia kecil seperti diriku? Ucapku di dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu.


Pada saat yang bersamaan, berdampingan dengan kumpulan air di dalam mataku, aku seperti melihat sosok gadis muda yang seumuran dengan ku. Ia terlihat sangat cantik jelita dan ia tengah bertarung di antara pedang, anak panah dan tombak.


Rambutnya hitam panjang dan lurus. Ia terus berteriak membakar hati orang-orang yang bertarung bersamanya di atas sebuah kuda berwarna coklat tua.


"Serang, seraang ... pertahankan tanah kalian! Bertahanlah untuk anak dan istri kalian! Gempur habis musuh yang menjadikan kita sebagai budak! Ingat apa yang mereka lakukan pada anak gadis kalian! Mereka memperkosa semua, lalu membakarnya hidup-hidup," ucap gadis tersebut sambil meneteskan air mata dan berkuda dengan cepat ke arah laki-laki berkumis tebal dengan dadanya yang besar dan bidang.


Dia berada di garis terdepan, bertarung dengan laki-laki berotot dan tampak berilmu tinggi. Laki-laki tersebut menghujani tubuh molek nya dengan terjangan pedang yang panjang hingga merobek beberapa bagian lengannya yang terlihat halus.


"Menyerah lah!!"


"Tidak akan. Lebih baik mati sebagai seorang kesatria, dari pada hidup menjadi budak dan pelampiasan hawa nafsu manusia durjana seperti kalian," ucapnya sambil terus mengayunkan pedangnya yang tidak terlalu besar.


"Demi sumpah ku pada tanah kubur adikku, Adinda Prasapti beserta Bopo dan Amikku. Aku akan mengangkat kaki kalian semua dari tanah kamiii!!" teriaknya dan tiba-tiba, tenaganya seakan meningkat pesat dan ia melayangkan pedang terakhir tepat di leher dan berhasil memenggal kepala pimpinan pasukan musuhnya tersebut.


Semua musuh terdiam dan salah satu pimpinan pasukan lainnya memerintahkan pasukannya untuk menembakkan anak panah secara bersamaan ke arah gadis tersebut beserta orang-orang yang berperang bersamanya.


Wajah cemas tampak dari wajah para lelaki yang bertarung bersama gadis tersebut dan pada saat anak panah mulai dilepaskan, rafia tersebut mengangkat tongkat putih miliknya, lalu mengeluarkan sihir dan menghentikan laju anak panah tersebut.


"Syaaas .... " teriaknya dan semua anak panah berhenti seketika. "Seraaanggg .... " ajaknya sekali lagi membakar hati pasukannya yang tampak tak beralas kaki.


"Aaakkk .... " teriak pasukan gadis itu, tanpa ada rasa gentar sedikit pun. Disisi yang lain, para parewangan miliknya pun bertarung mati-matian dengan ahli sihir dari pasukan musuhnya.


Teriakan antara manusia dan makhluk tak kasat mata terlihat dan terdengar jelas olehku. Aku tau mengapa semua ini terlihat olehku. Ya ... itu karena sejak tadi aku hanya mengeluh dan ternyata cobaan berat seperti ini, sudah ada gadis lain yang merasakannya dan ia tidak terus-terusan mengeluh apalagi menyerah.


Nenek, kamu adalah contoh bagiku. Mungkin bagi dunia, kamu dan aku adalah manusia aneh dan tidak layak diberi tempat. Tapi itu semua tidak masalah, yang penting kita berbuat untuk yang baik. Biarlah Allah saja yang memberikan kita penilaian. Jangan dengarkan manusia lain yang hanya mencemooh dan mengatakan hal-hal buruk tentang dirimu dan diriku.


"Nawang Wulaaannn .... " teriak makhluk setengah kuda tersebut. Ia terlihat sangat marah. Dan saat itu aku melihat, Nenek mengarahkan pandangan ke sisi dirinya dan mereka mulai bertarung hebat.


Api dan angin, semua mewarnai setiap ayunan senjata dan lompatan kaki serta elak kan senjata di sekitar mereka. "Kamu akan membayar semua perbuatan kamu, Banyu Sewu. Karena semua perbuatan kita akan dihitung diakhirat nanti."


"Omong kosong, aku adalah rajanya." Kemudian dari arah lainnya, aku melihat makhluk yang pertama kali menyerang ku, berniat untuk menyerang Nenek Nawang Wulan dari belakang.


"Tidaaakkk .... " teriak ku sambil berlari, seakan semua rasa takut, sakit dan tidak berdaya ku, hilang. "Allahu Akbaaar," teriak ku sekali lagi sambil menerjang kaki kiri makhluk besar tersebut dan itu membuatnya terjatuh, dan kakinya mengeluarkan cairan/lendir berwarna hitam pekat.


Nenek Nawang Wulan memperhatikan aku yang sudah berdiri tegak dan ia sama sekali tidak melarang ku untuk berperang bersama. Selain itu, aku juga melihat ia tersenyum sambil melirik ke arah ku.


"Awas ...!" ucap sesuatu yang berada di belakang Nenek tadi, yang berpakaian kerajaan seperti manusia. "Kamu akan butuh ini," ujarnya sembari mengeluarkan dan menyerahkan sebuah keris berwarna hitam yang cukup panjang, dengan kepala berbentuk ular berwarna kuning keemasan.


Aku menerima keris tersebut tanpa ekspresi. Saat pertama aku memegangnya, rasanya sangat berat. Tapi ketika aku sudah mengangkatnya dan mengatakan, "bertarung lah bersamaku!" tiba-tiba keris tersebut menjadi ringan.


"Sekarang, dia milikmu."


Setelah mendengar ucapan tersebut, aku langsung menatap makhluk besar yang sudah bersiap untuk menumbuk tubuhku menjadi bagian dari campuran darah dan daging segar.


"Allahu Akbaaarrr .... " teriak ku penuh keyakinan sambil berlari ke arah musuhku.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.