
Kematian adalah sebuah kepastian yang pasti menghampiri setiap manusia. Dunia ini hanyalah tempat persinggahan untuk menuju kampung akhirat. Pada hakikatnya, semakin hari kita semakin menjauh dari alam dunia untuk menuju alam akhirat. Antara kedua alam ini ada suatu pemisah, yaitu kematian.
Kematian akan menjadi pemutus segala kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan di dunia. Harta kekayaan, jabatan, dan keluarga semua akan ditinggalkan. Karena bekal yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan ke negeri akhirat hanyalah amal.
Meski begitu, banyak orang yang lalai akan datangnya kematian. Memuja dunia seolah dunia adalah segala-galanya, mengejar dunia seolah hidup kekal selamanya. Sementara urusan akhirat tidak begitu dipedulikan. Mungkin hari ini kita masih di sini, tapi besok belum tentu. Maka jalanilah hidup ini dengan benar.
Aku mendengar suara berseru dari kejauhan seakan-akan tubuhku berada sangat dekat dengan mimbar dan dihadapkan dengan seorang penceramah yang membahas tentang urusan kehidupan dan kematian. Kenapa?
"Tidak ada jaminan sama sekali dalam hidup ini. Tapi kematian lah yang benar-benar menjamin segalanya. Tapi mengapa kita masih saja terlalu sibuk memperhatikan hidup daripada kematian?" tanya penceramah yang sangat asing bagiku. Ia mengenakan pakaian putih bersih, dari ujung leher hingga ujung kakinya.
"Di mana saja kamu berada, kematian pasti akan menghampirimu, meskipun kamu berlindung di dalam sebuah benteng yang sangat tinggi dan kokoh. Paham?" ujarnya sambil menatap mataku dengan tajam. "Tapi sebelum kematian itu benar-benar datang, makan jadilah manusia yang bermanfaat."
Aku terdiam terpaku menatap Sang Penceramah berjubah putih itu, lalu disisi lain aku mendengar suara yang berbeda dari kejauhan. Suaranya jauh lebih besar dan berat.
"Menyia-nyiakan waktu itu jauh lebih berbahaya daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu itu akan memutuskan seseorang dari Allah dan hari akhirat, sementara kematian hanyalah memutuskan seseorang dari kehidupan dunia dan penghuninya. Semua orang pasti akan kembali kepada Allah ketika mati, tapi yang berbahagia adalah orang yang dekat dengan Allah semasa hidupnya."
Aku memalingkan wajahku, dan mencari sumber suara itu. Di sana, dari kejauhan namun lama kelamaan mendekat, aku menyaksikan seorang Penceramah lainnya, dengan sorban putih dan tahi lalat besar tepat di tengah-tengah dahinya.
Ia tampak tersenyum padaku dan terus mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan dan kematian. "Jadi, jangan pernah takut akan kematian. Karena kematian itu sesungguhnya adalah hak dan milik Allah. Kita sama sekali tidak kuasa untuk menghentikannya."
Apakah aku benar-benar takut akan kematian? Setakut itukah aku hingga dunia harus mengingatkan aku bahwa semua yang hidup akan mati dan semua yang mati adalah takdir Allah.
"Sarah, bangun! Sarah. "
"Hah ... hah ... hah ... hah ... Feli .... "
"Kenapa? " Aku menceritakan apa yang baru saja terjadi padaku. Aku mengatakan kepada Feli bahwa ini bukan kali pertama aku dapat mendengarkan suara-suara misterius dan asing bagiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas suara itu sangat jelas bahkan terkadang membimbingku.
"Sepertinya pendengaran kamu semakin tajam Sarah."
"Feli, telingaku memang masih normal. Memangnya aku sudah tuli? Jangan mengejekku ya! "
"Bukan pendengaran normal Sarah, tapi pendengaran gaib. Sepertinya sudah takdir kamu memiliki kelebihan. Saat kamu berusaha menutup mata batin dan berhasil ternyata indra pendengaranmu yang semakin terbuka dan bertambah tajam. "
"Feli, jangan menakuti aku! "
"Tidak Sarah, aku tidak menakuti kamu. Aku hanya sedang berpikir dan memberikan kesimpulan. "
"Feli, apa aku sudah gila? "
"Tidak Sarah, kamu spesial. Kamu istimewa."
"Tapi bagaimana mungkin? "
"Banyak orang diluar sana yang sangat menginginkan kemampuan seperti itu hingga mereka sanggup bersemedi, berguru, berpuasa dalam waktu yang panjang, bahkan ada juga yang sampai memberikan tumbal."
"Gila, " jawabku semakin tidak bisa berpikir normal.
"Tenanglah Sarah ... kamu memang harus bertemu dengan Pak Yusuf, persis seperti arahan Tania. "
"Bukan psikiater? "
"Sarah! " ucap Feli dengan nada yang membentak dan kali ini ia tampak marah karena perkataanku.
"Maaf .... "
Tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang mengarahkan nama Feli di dalam percakapannya. Aku mendengar mereka mengatakan, "Kita berikan saja apa yang dia minta. Dia pasti butuh uang, kasih saja dalam jumlah besar dan dia pasti tidak akan menolak. Dengan cara seperti itu, dia pasti bersedia mencabut laporannya. "
"Jangan bengong Sarah! Ada apa? "
"Fel, aku mendengar percakapan atas dirimu tapi aku tidak yakin. "
"Tentang apa? Jangan menyembunyikan apapun dariku Sarah! " ujar Feli dengan matanya yang melotot.
"Kita berikan saja apa yang dia minta. Dia pasti butuh uang, kasih saja dalam jumlah besar dan dia pasti tidak akan menolak. Dengan cara seperti itu, dia pasti bersedia mencabut laporannya," Itu kalimat yang aku dengar samar-samar tapi sangat jelas Feli.
"Itu mungkin keluarga Kak Linda atau senior kita yang satunya. Kelihatan banget ya susah dan miskinnya aku. Sampai-sampai mereka mengukur hati dan nyawaku dengan sejumlah uang. "
"Sabar Feli ... jangan membuat aku terbakar! "
"Hemmh .... "
"Tidurlah ... sudah malam. Cepat sembuh ya! Jangan lama-lama sakitnya! Alur takut berjalan sendirian. "
"Dasar manja. "
"Bodo amat. "
"Apa'an sih? "
"Cie-cie ... ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. "
"Ngak lucu. "
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. "
"Tau agh ... aku mau ketempat Ayah dulu. "
"Jangan wara-wiri ya! Ini sudah pukul 22.00 WIB. Kamu tidur sama Ayah saja. Lagipula aku disini juga rame kok. "
"Iya ... Iya ... bawel. "
"Ngedumel aja terus ...! "
Aku meninggalkan ruang ICU menuju ruang perawatan Ayah. Aku berharap dalam waktu dekat ini, Feli akan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa dan aku sudah meminta kepada perawat agar ruangan Ayah dan ruangan Feli tidak terlalu jauh jaraknya, sehingga mudah untukku mengawasi keduanya.
Aku melewati ruang perawatan anak dengan tenang. Aku tidak ingin melihat ke kiri dan ke kanan demi kebaikanku sendiri. "Aduh .... " Tiba-tiba kaki kiri ku seperti tersandung sesuatu yang mungil tapi terasa kuat sehingga aku menyadarinya.
Aku melihat ke arah lantai dimana kakiku berdiri. Tidak, bukan hanya di tempat kakiku berpijak melainkan sekelilingnya juga tapi aku tidak melihat apapun. Aku menghembuskan nafas yang panjang dan berharap tidak ada yang mengganggu ku saat ini. Apalagi sampai memperlihatkan muka masam dan suram kepadaku.
Baru saja kaki kanan ku hendak melangkah, tiba-tiba dari belakang aku merasa ada sesuatu atau seseorang yang menarik-narik bagian belakang baju ku dengan lembut dan berkali-kali.
Aku langsung menolehkan kepalaku ke belakang dan aku melihat seorang gadis kecil sebesar Tania berambut panjang dan memiliki tahi lalat di pipi kanannya sedang menarik-narik bajuku dan tersenyum ramah.
"Hai, " sapa ku ramah agar ia tidak takut padaku.
Gadis cilik itu memanggil diriku berulang kali dengan tangan kanannya agar aku segera mendekatinya. Saat telingaku cukup dekat dengan bibirnya, ia berkata, "Kakak bisa tolong aku? "
"Tentu saja," jawabku sambil membalas senyuman dari bibirnya. "Apa?" kataku sekali lagi dan ia kembali membisikkan sesuatu padaku. "Itu apa? "
"Katakan saja pada Bunda! "
"Baiklah ... dimana? " Lalu gadis kecil itu memberi kode kepadaku dengan jari telunjuknya yang ia arahkan ke dalam ruang kamar perawatan anak, tidak jauh dari tempat aku berdiri.
Tak lama, aku langsung masuk ke ruangan tersebut dan mencari Sang Bunda. Kebetulan sekali, dari 3 ranjang perawatan yang ada di dalam ruangan ini hanya ada satu ranjang yang terisi seorang pasien.
"Maaf Ibu, maaf karena saya sudah mengganggu istirahatnya. "
"Iya, ngak papa. Ada apa? " sahut Ibu tersebut dengan matanya yang merah dan bengkak. Ibu ini sepertinya habis menangis hebat tapi aku tidak ingin menanyakannya.
"Ada pesan dari seorang gadis. "
"Siapa? "
"Saya lupa menanyakan namanya. "
"Apa ada yang bisa saya bantu? "
"Gadis itu hanya berpesan, 4075 Hongkong. "
"Apa? " tanya Ibu tersebut sekali lagi.
"Gadis itu berpesan, 4075 Hongkong. Hanya itu saja Bu."
"Ba-baiklah .... "
Setelah menyampaikan pesan tersebut, tanpa melihat wajah pasien dengan seksama, aku langsung meninggalkan ruangan tersebut. Ternyata gadis kecil yang manis itu masih berdiri tidak jauh dari pintu ruang perawatan tersebut. Ia menatapku seakan ingin tau apakah pesan yang ia titipkan kepadaku sudah aku sampaikan atau belum.
Tidak ingin membuat ia menunggu lama. Dengan senyum lebar, aku langsung menganggukkan kepalaku sambil mengatakan, "Sudah Kakak sampaikan, tenang saja. "
"Terimakasih banyak Kak, " sahutnya dengan senyum yang manis sambil meneteskan air mata yang berwarna merah. Lalu tiba-tiba gadis itu menghilang berganti asap putih, persis seperti Kakeknya Feli saat beliau melindungi sahabatku tersebut.
Aku yang tadinya tersenyum, langsung terdiam sambil menelan air liur ku yang berat. Aku terdiam hampir ternganga karena bingung dengan yang baru saja terjadi. "Di-dia ... dia .... " ucapku terbata-bata sambil memperhatikan tempat dimana gadis itu semula berdiri.
Aku masih belum mengerti tentang apa yang terjadi. Dengan langkah yang berat, aku meneruskan perjalananku menuju kamar perawatan Ayah. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi padaku? Kenapa hatiku begitu sakit dan terenyuh, saat melihat gadis itu dengan wujudnya yang sempurna berubah menjadi asap putih seperti hancur lebur tidak bersisa?
"Jangan lupa baca juga novel terbaru saya yang berjudul KETURUNAN KE 7 PLUS CINTA DAN DOSA. MAKASIH .... "
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘