
" Mas ... "
" Sayang ... "
Bumi langsung mendekap erat tubuh istrinya , tak peduli jika mereka menjadi bahan gunjingan beberapa orang yang kebetulan melewati mereka . Bumi tidak peduli , yang terpenting sekarang ia bisa kembali merengkuh candunya , istri yang sangat ia cintai .
" Kangen banget sayang ... "
Air tersenyum ketika sang suami kembali dalam mode manjanya . ltu berati amarah di hatinya sudah mereda .
" Udah selesai marah marahnya !? "
" Maafin Mas ya udah marah marah nggak jelas sama kamu . Lain kali jika aku begitu lagi kau boleh memukulku , tampar aku agar otakku bisa berpikir kembali "
" Aku yang minta maaf sudah membuat Mas salah paham padaku " kata Air sambil membalas lembut pelukan sang suami .
" Kau akan selalu menjadi satu satunya di hidup Mas "
" Air percaya ... sekarang kita susul Dewa jika tidak kita akan menjadi bahan gunjingan terus di sini "
" Memangnya kenapa sayang ? Aku sedang memeluk istriku sendiri , bukan istri orang lain kan " gerutu Bumi , ia tidak suka jika momen romantisnya diganggu orang lain .
" Nanti kita terusin dirumah ya " bisik Air yang membuat mata Bumi kembali berbinar .
" Bener ya , awas bohong ! "
Sebelum mereka melangkah ternyata Dewa sudah ada di belakang mereka dengan membawa kantong berisi dua cup kopi .
" Mentang mentang udah halal , main pelak peluk nggak lihat tempat ! Nggak lihat apa ada jomblo lagi dibelakang " gerutu Dewa yang selalu saja disuguhkan drama romantis pasangan itu .
" Makanya cepet nikah Wa , enak tau ... " goda Bumi pada adik iparnya .
" Masss .. jangan macem macem deh !! Sekolah aja belum kelar "
Bumi meringis mendapat cubitan gemas di lengannya .
" Tadi Kak Deniel kirim pesan dia udah nyelesein urusan dengan pihak keluarga . Katanya oknum yang nggak terima dan ingin menuntut kita ternyata bukan dari pihak keluarga . Dia cuma orang asing yang ingin cari keuntungan dari kecelakaan itu . Nggak tanggung tanggung Kak Deniel katanya sewa tim pengacara buat merampungkan persoalan itu "
Bumi berdecih sebal , karena saat ini sepertinya Deniel sudah menjadi dewa penolong untuk sang istri . Dan dia tidak suka hal itu .
" Kenapa tadi nggak bilang sama aku saja sih Wa ! Aku bisa selesein masalah Embakmu tanpa merepotkan orang lain "
" Ckk .. boro boro bilang . Ditelpon aja nggak pernah aktif tadi . Lagian Kak Deniel kan bukan orang lain lagi Mas "
Bumi menggaruk tengkuknya , jika seandainya Dewa tahu bahwa dia sudah bikin ulah lagi terhadap Air pasti saat ini dia sudah dibikin bonyok lagi oleh adik iparnya itu .
Dewa sangat tegas jika itu menyangkut Ibu dan kakaknya .
" Kita cari makan dulu Mas sebelum pulang , kita belum sempat makan dari siang "
" Dewa anterin ke kafe aja Mas , Dewa bareng mobil kak Deniel saja . Bisa mati berdiri Dewa lihat bucinnya suami Embak sepanjang jalan "
Air tertawa kecil melihat sang adik yang sedang mengeluh karena selalu disuguhi kemesraan mereka berdua .
" lri ya Wa ?? " goda Bumi .
" Mana ada !! "
Setelah mengantar Dewa ke kafe dan berbincang sebentar dengan Deniel perihal kejadian tadi siang di kafe , Bumi dan Air segera bergegas pulang .
" Apa saja Mas , tapi kalau udah malem gini pasti udah banyak yang tutup tempat makannya "
" Kita ke hotel depan saja , biasanya restoran disitu buka dua puluh empat jam "
" Nggak mau !! Udah mahal nggak bikin kenyang ".
Air dari dulu memang kurang suka jika makan di restoran mewah . Dia lebih suka rumah makan yang menyediakan makanan rumahan biasa , lebih bersahabat dengan lidahnya .
" Makan sate kambing kaki lima aja yuk Mas ! Dingin dingin gini makan anget anget pasti enak "
" Makan apa sayang ?! "
" Mas nggak suka sate kambing ! "
" Suka banget , udah lama juga Mas nggak makan itu "
Mereka berhenti di warung sate kambing yang ada pinggir jalan . Walau waktu sudah tengah malam warung itu masih terlihat ramai dengan pembeli .
Bumi dan Air memilih untuk duduk lesehan yang disediakan di atas trotoar . Mereka ingin suasana yang lebih santai .
" Mas sering makan sate kambing di kaki lima seperti ini ? " tanya Air yang melihat suaminya sangat menikmati suasana malam ini walau hanya duduk di atas terpal .
" Sama sekali belum pernah , baru kali ini "
" Masa sih ! Mas nggak ill feel duduk kaya gini , ditepi jalan dan dilihat banyak orang "
" Selama ada kamu di sisi Mas mau kemanapun dan di manapun pasti Mas akan merasa nyaman . Kamu adalah rumah Mas "
Air terkekeh mendengar kata kata Bumi yang romantis . Pantas saja sang adik memilih pulang dengan Deniel daripada dengan mereka , suaminya memang selalu memperlihatkan perhatian dan cintanya disetiap waktu .
Mereka makan diselingi dengan bercerita dan kadang bersenda gurau . Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka malam itu . Hingga Bumi menyadari tatapan seseorang yang selalu memperhatikan sang istri .
Bumi akui , dimana pun keberadaan Aira akan selalu menjadi daya magnet untuk kaum Adam . ltu sebabnya dia sering merasakan cemburu yang tak beralasan .
Tangan Bumi terkepal menahan emosi ketika pria bertubuh jangkung itu tak henti hentinya menatap istrinya . Pria itu bahkan dengan beraninya beradu pandang dengan Bumi .
Bumi mencoba menahan diri , tidak mungkin ia kembali menunjukkan emosinya yang berapi api kepada sang istri . Walau ia ingin sekali menghampiri orang itu dan menghajarnya .
Bumi mencoba tersenyum ketika tangan istrinya menyentuh ujung bibirnya .
" Ada sambelnya ... pulang yuk Mas . Pengen cepet rebahan udah capek banget "
" Ya udah , perlu Mas gendong ? " goda Bumi .
" Apaan sih Mas !! "
Air tersenyum ketika Bumi mengeluarkan salah satu kartunya untuk melakukan pembayaran . Dan penjual pun hanya menggaruk kepalanya karena bingung .
" Mas ... biar Air saja , disini nggak bisa pakai itu "
Bumi minta maaf pada penjual sate itu karena memang ia benar benar tidak tahu .
Tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi sepasang mata sedang memperlihatkan aura kemarahan karena cemburu yang menguasai hatinya .
" Kita lihat saja Bumi Attala Adipraja .... siapa yang akhirnya akan memiliki dia "