Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
96


" Mas ... "


" Sayang ... "


Bumi langsung mendekap erat tubuh istrinya , tak peduli jika mereka menjadi bahan gunjingan beberapa orang yang kebetulan melewati mereka . Bumi tidak peduli , yang terpenting sekarang ia bisa kembali merengkuh candunya , istri yang sangat ia cintai .


" Kangen banget sayang ... "


Air tersenyum ketika sang suami kembali dalam mode manjanya . ltu berati amarah di hatinya sudah mereda .


" Udah selesai marah marahnya !? "


" Maafin Mas ya udah marah marah nggak jelas sama kamu . Lain kali jika aku begitu lagi kau boleh memukulku , tampar aku agar otakku bisa berpikir kembali "


" Aku yang minta maaf sudah membuat Mas salah paham padaku " kata Air sambil membalas lembut pelukan sang suami .


" Kau akan selalu menjadi satu satunya di hidup Mas "


" Air percaya ... sekarang kita susul Dewa jika tidak kita akan menjadi bahan gunjingan terus di sini "


" Memangnya kenapa sayang ? Aku sedang memeluk istriku sendiri , bukan istri orang lain kan " gerutu Bumi , ia tidak suka jika momen romantisnya diganggu orang lain .


" Nanti kita terusin dirumah ya " bisik Air yang membuat mata Bumi kembali berbinar .


" Bener ya , awas bohong ! "


Sebelum mereka melangkah ternyata Dewa sudah ada di belakang mereka dengan membawa kantong berisi dua cup kopi .


" Mentang mentang udah halal , main pelak peluk nggak lihat tempat ! Nggak lihat apa ada jomblo lagi dibelakang " gerutu Dewa yang selalu saja disuguhkan drama romantis pasangan itu .


" Makanya cepet nikah Wa , enak tau ... " goda Bumi pada adik iparnya .


" Masss .. jangan macem macem deh !! Sekolah aja belum kelar "


Bumi meringis mendapat cubitan gemas di lengannya .


" Tadi Kak Deniel kirim pesan dia udah nyelesein urusan dengan pihak keluarga . Katanya oknum yang nggak terima dan ingin menuntut kita ternyata bukan dari pihak keluarga . Dia cuma orang asing yang ingin cari keuntungan dari kecelakaan itu . Nggak tanggung tanggung Kak Deniel katanya sewa tim pengacara buat merampungkan persoalan itu "


Bumi berdecih sebal , karena saat ini sepertinya Deniel sudah menjadi dewa penolong untuk sang istri . Dan dia tidak suka hal itu .


" Kenapa tadi nggak bilang sama aku saja sih Wa ! Aku bisa selesein masalah Embakmu tanpa merepotkan orang lain "


" Ckk .. boro boro bilang . Ditelpon aja nggak pernah aktif tadi . Lagian Kak Deniel kan bukan orang lain lagi Mas "


Bumi menggaruk tengkuknya , jika seandainya Dewa tahu bahwa dia sudah bikin ulah lagi terhadap Air pasti saat ini dia sudah dibikin bonyok lagi oleh adik iparnya itu .


Dewa sangat tegas jika itu menyangkut Ibu dan kakaknya .


" Kita cari makan dulu Mas sebelum pulang , kita belum sempat makan dari siang "


" Dewa anterin ke kafe aja Mas , Dewa bareng mobil kak Deniel saja . Bisa mati berdiri Dewa lihat bucinnya suami Embak sepanjang jalan "


Air tertawa kecil melihat sang adik yang sedang mengeluh karena selalu disuguhi kemesraan mereka berdua .


" lri ya Wa ?? " goda Bumi .


" Mana ada !! "


Setelah mengantar Dewa ke kafe dan berbincang sebentar dengan Deniel perihal kejadian tadi siang di kafe , Bumi dan Air segera bergegas pulang .


" Apa saja Mas , tapi kalau udah malem gini pasti udah banyak yang tutup tempat makannya "


" Kita ke hotel depan saja , biasanya restoran disitu buka dua puluh empat jam "


" Nggak mau !! Udah mahal nggak bikin kenyang ".


Air dari dulu memang kurang suka jika makan di restoran mewah . Dia lebih suka rumah makan yang menyediakan makanan rumahan biasa , lebih bersahabat dengan lidahnya .


" Makan sate kambing kaki lima aja yuk Mas ! Dingin dingin gini makan anget anget pasti enak "


" Makan apa sayang ?! "


" Mas nggak suka sate kambing ! "


" Suka banget , udah lama juga Mas nggak makan itu "


Mereka berhenti di warung sate kambing yang ada pinggir jalan . Walau waktu sudah tengah malam warung itu masih terlihat ramai dengan pembeli .


Bumi dan Air memilih untuk duduk lesehan yang disediakan di atas trotoar . Mereka ingin suasana yang lebih santai .


" Mas sering makan sate kambing di kaki lima seperti ini ? " tanya Air yang melihat suaminya sangat menikmati suasana malam ini walau hanya duduk di atas terpal .


" Sama sekali belum pernah , baru kali ini "


" Masa sih ! Mas nggak ill feel duduk kaya gini , ditepi jalan dan dilihat banyak orang "


" Selama ada kamu di sisi Mas mau kemanapun dan di manapun pasti Mas akan merasa nyaman . Kamu adalah rumah Mas "


Air terkekeh mendengar kata kata Bumi yang romantis . Pantas saja sang adik memilih pulang dengan Deniel daripada dengan mereka , suaminya memang selalu memperlihatkan perhatian dan cintanya disetiap waktu .


Mereka makan diselingi dengan bercerita dan kadang bersenda gurau . Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka malam itu . Hingga Bumi menyadari tatapan seseorang yang selalu memperhatikan sang istri .


Bumi akui , dimana pun keberadaan Aira akan selalu menjadi daya magnet untuk kaum Adam . ltu sebabnya dia sering merasakan cemburu yang tak beralasan .


Tangan Bumi terkepal menahan emosi ketika pria bertubuh jangkung itu tak henti hentinya menatap istrinya . Pria itu bahkan dengan beraninya beradu pandang dengan Bumi .


Bumi mencoba menahan diri , tidak mungkin ia kembali menunjukkan emosinya yang berapi api kepada sang istri . Walau ia ingin sekali menghampiri orang itu dan menghajarnya .


Bumi mencoba tersenyum ketika tangan istrinya menyentuh ujung bibirnya .


" Ada sambelnya ... pulang yuk Mas . Pengen cepet rebahan udah capek banget "


" Ya udah , perlu Mas gendong ? " goda Bumi .


" Apaan sih Mas !! "


Air tersenyum ketika Bumi mengeluarkan salah satu kartunya untuk melakukan pembayaran . Dan penjual pun hanya menggaruk kepalanya karena bingung .


" Mas ... biar Air saja , disini nggak bisa pakai itu "


Bumi minta maaf pada penjual sate itu karena memang ia benar benar tidak tahu .


Tanpa mereka sadari bahwa sedari tadi sepasang mata sedang memperlihatkan aura kemarahan karena cemburu yang menguasai hatinya .


" Kita lihat saja Bumi Attala Adipraja .... siapa yang akhirnya akan memiliki dia "