Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
161


Bumi , Alfian , dan Adam menghadiri acara pemakaman Narra . Di sana mereka bertemu dengan Alex , dan mereka tahu betapa terpukulnya pria tua itu telah kehilangan wanita tang akan menjadi calon menantunya .


Mereka tidak bertemu Terra disana karena pria yang telah menjadi seorang ayah itu tetap setia menunggui bayinya di rumah sakit . Pria itu benar benar ingin memastikan bahwa putranya baik baik saja .


" Pah , bagaimana dengan Cherry ? Bumi bingung jika harus mengatakan kabar duka ini padanya "


Saat ini para pria Adipraja dan Adam sudah kembali ke perusahaan . Mereka berkumpul di ruangan Alfian karena ingin membicarakan sesuatu .


" Kita akan bicara dengan gadis kecil itu pelan pelan , biasanya para perempuan yang lebih mengerti tentang hal ini " jawab Alfian karena sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan Cherry .


" Dam elo sudah kabari Jerry soal ini kan !? "


" Udah , dia sempat tanya juga soal Cherry "


" Maksudnya !!? "


" Jerry tidak keberatan jika gadis kecil itu tetap tinggal di rumahnya . Tapi ia juga tidak bisa menolak jika keluarga Adipraja ingin mengambil alih Cherry "


Alfian dan Bumi manggut manggut , Jerry bukan orang lain bagi mereka . Mereka sudah menganggap Jerry adalah bagian dari pria Adipraja sebagaimana halnya dengan Dewa dan Adam .


" Hubungi saja pengacara karena Papa ingin mengunjungi Putra di sel tahanan . Aku ingin bicara dengannya tentang ini "


" Tapi Pah ... "


" Aku juga pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan , Papa tidak mau ada kesalahpahaman dengannya lagi "


" Saya akan atur semua " kata Adam penuh hormat .


*


Sedang Jerry saat ini sedang tersenyum geli ketika melihat tingkah gadis pengasuh Cherry . Gadis lugu itu sedang kesusahan mencoba membopong tubuh gendut Cherry yang ketiduran di ruang tengah .


" Dia ketiduran !? " karena tidak tega Jerry kemudian mendekat .


" Eh .. iya Kak , aku mau bawa dia ke kamar . Kasihan kalau kelamaan tidur disini , kalau siang sih ngga apa apa tapi kalau malam kan waktunya lama "


" Kuat !? "


" lni lagi di coba , susah ... takut bangun dianya nanti "


" Ckk baru segitu saja berat ! Bagaimana kalau besok aku yang ada di atas " kata Jerry pelan .


" Ogahhh ... Nayya nggak mau gendong kakak kalau kakak ketiduran disini !! Badan segede gaban gitu masa aku yang disuruh angkat "


Jerry mengangkat Cherry dengan senyum mengembang , menyenangkan bisa menggoda gadis polos yang saat ini sedang berjalan di belakangnya . Jerry yakin gadis itu pasti masih bingung dengan apa yang ia katakan barusan .


" Memang Kak Jerry mau ngajarin soal apa ? "


" Besok saja kalau sudah halal , sekarang kamu fokus sama Cherry saja sebelum kau harus membagi perhatianmu padaku "


Jerry ingin sekali menggigit gadis itu ketika melihat Nayya manggut manggut seakan mengerti dengan semua yang dikatakannya . Entah apa yang sekarang ada di otak gadis itu .


Jerry meletakkan tubuh gendut itu di atas ranjang dan sekilas mencium keningnya .


" Nay .. Kakak ingin bicara denganmu sebentar ! Kita bicara di ruang kerja kakak saja "


Nayya hanya mengangguk dan mengikuti langkah Jerry ke ruang kerjanya . Selama tinggal disini tak sekalipun Nayya pernah memasuki ruang kerja milik Jerry . Bukan karena dilarang tapi setiap pagi sudah ada maid yang bertugas membersihkan rumah .


Jerry tidak mengijinkan dia untuk membersihkan rumah karena pria itu hanya ingin dia fokus merawat Cherry .


Nayya tetap berdiri ketika Jerry sudah duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya , tak sopan rasanya jika ia ikut duduk di sofa bersama pria yang menjadi majikannya .


" Kenapa kau masih berdiri ?! "


" Eh iya ... " Nayya kemudian perlahan duduk di sofa yang sama dengan Jerry .


" Kau takut padaku ? "


" Iya ... ehh maksudnya tidak . Nayya hanya ingat sebuah kata yang menyebutkan akan ada setan' diantara kita jika kita hanya berdua di ruangan ini "


Jerry terbahak , gadis itu tidak sepenuhnya salah karena ia memang sedang berusaha keras untuk tidak menerkam gadis lugu di depannya . Sepertinya ada setan di hatinya yang terus berbisik untuk mencoba menyentuh gadis itu .


" Mamanya Cherry meninggal tadi pagi "


" lnalilahi ... "


" Jika Cherry di sini selamanya , apa kau sanggup merawatnya ? "


" Sanggup ... "


" Hei kenapa malah nangis !? " Jerry mengusap lembut satu tetes air mata yang jatuh di pipi gadis di depannya .


" Kasihan , aku juga pernah merasakan sakitnya kehilangan seorang ibu . Cherry masih kecil , dia sendirian .... "


" Dia tidak sendirian , ada kita bersamanya "