Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
178


"" Kak Adam harusnya tidak usah repot repot begini ... " kata Nayya yang melihat Adam membawakan makan malam untuknya .


Setiap malam Adam selalu datang dengan membawa makanan untuknya . Selain makanan Adam juga membawa berbagai macam snack dan minuman ringan hingga lemari pendingin yang ada di ruangan itu tidak pernah sepi penghuni .


Pria bermulut pedas itu terlihat sangat memperhatikannya . Hati dan tampang pria itu sangat berlawanan , walau terlihat sangat arogan tapi pria itu sangat menyayangi mereka .


" Tidak ada yang repot itu hanya sebungkus nasi . Makanlah !! ":


Setelah meletakkan semua makanan yang ia bawa ke meja Adam mendekat ke arah brankar Seno .


" Hei jagoan ... bagaimana malam ini !? "


Dengan senyum mengembang Seno menunjuk ke arah meja yang ada di samping ranjang tempatnya berbaring . Sebuah piring jatah makan pasien dari rumah sakit terlihat sudah kosong .


" Hebat !!! Kamu pintar Seno ... "


" Kak Adam jangan ingkar janji , katanya kalau Seno selalu menghabiskan makanan kakak akan ajak aku ke Dufan ! " kata Seno dengan penuh semangat .


" Kak Adam nggak akan lupa ... "


Adam menghela nafas dan kembali duduk di sofa bersama Nayya yang sedang menikmati makanan yang di bawanya . Dia bahkan lupa jika dua hari lagi dia harus pergi bersama Dewa ke Bali .


":Kapan Seno boleh pulang !? "


" Masih semingguan lagi , katanya dokter masih ingin memantau perkembangan Seno sampai benar benar pulih . Kalau kakak nggak bisa pergi jangan dipaksakan . Nayya udah denger dari Kak Aira kalau besok Kakak mau pergi ke Bali karena urusan perusahaan . Lagian sehabis pulang Seno harus tetap banyak istirahat "


" Jakarta Bali bukan jarak.yang jauh . Aku bisa pulang .... "


" Seno pergi sama Kakak kalau urusan kakak di Bali sudah selesai . Tenang saja Seno bukan anak kecil yang akan menangis jika kakak tidak bisa pergi " sambung Seno yang masih bisa mendengar percakapan Nayya dan Adam .


" Kau memang masih anak kecil ... "


" Seno sudah sepuluh tahun ... " kilah anak itu yang membuat dua orang dewasa yang berada di sofa saling melempar senyum .


Adam dan Seno bisa menjadi begitu dekat walau mereka baru beberapa hari ini saling mengenal . Dua pria beda umur itu sering terlihat mengobrol serius hingga Nayya tak bisa menyembunyikan tawanya .


" Kakak tidak bisa terlalu lama menemani kalian , besok pagi pagi sekali aku harus mengurus berkas yang akan di bawa ke Bali . Tidak apa apa kan !? "


Adam memang setiap malam akan berkunjung dan pulang saat dini hari . Selalu seperti itu hingga kadang Nayya merasa tidak enak karena sudah merepotkan pria yang baru beberapa hari mereka kenal itu .


Jika sesuatu terjadi pada adiknya , pria itu pasti akan langsung bertindak cepat . Adam selalu menjaga mereka hingga perlahan Nayya merasa nyaman ada di samping pria angkuh itu .


Tanpa terasa air matanya menetes ketika membayangkan akan kehilangan sosok yang selama ini telah menjaga mereka . Dia akan sendirian lagi untuk mengahadapi masalah ke depannya .


" Aku sudah urus semua urusan di rumah sakit , aku juga sudah menghubungi pamanmu memberitahu mungkin kalian akan pulang dalam waktu dekat "


" Tapi ... "


" Kakak udah selesaikan urusanmu dengan rentenir itu , Revan juga tidak akan berani muncul di depanmu lagi .... "


" Terimakasih .... terimakasih Kak "


Adam panik ketika gadis di sampingnya malah menangis terisak .


" Heiiii harusnya kau senang mendengarnya , kenapa kau malah bersedih begini !! "


" Kak Adam yang tidak peka ! Kak Nay bukan sedang bersedih tetapi dia terlalu bahagia . Masa begitu saja tidak tahu " celetuk Seno geli melihat Adam yang terlihat panik melihat kakaknya masih menangis .


" Diam kau jagoan ... Kak Adam cuma pura pura tidak tahu "


Dan jawaban itu malah membuat kakak beradik itu tertawa bersama . Tapi gadis itu terdiam ketika Adam mengatakan sesuatu padanya .


" Aku bisa memintanya menemanimu di sini jika kau mau "


Nayya tahu siapa yang pria itu maksud , selama ada di rumah sakit Nayya sudah bisa benar benar melupakan laki laki yang sudah sempat mewarnai harinya itu .


" Tidak , Nayya bisa kok sendiri "


" Dia mencarimu seperti orang gila !! Dia sudah seperti mayat hidup , kau tidak ingin menemuinya ? Setidaknya berikan dia kesempatan untuk meminta maaf "


" Tidak ada yang perlu di maafkan ... "


" Nay ... biarkan dia meminta maaf ! Jika sesudahnya kau tidak ingin berhubungan lagi dengannya itu adalah hakmu . Jerry tidak akan pernah tenang sebelum dia bisa menemuimu . Kakak ingin kalian bertemu sebelum kakak berangkat ke Bali "


" Tapi Nay .... "


Sebelum meneruskan kata katanya Nayya melihat Adam mengangkat telpon dari seseorang dan wajahnya terlihat khawatir setelahnya .


" Sepertinya kalian memang sudah ditakdirkan bertemu kembali .... " Adam menatap gadis di depannya setelah menutup panggilan di ponselnya .