
Astika masih tersenyum senyum sendiri ketika mengingat kejadian tadi malam , seorang Dewa yang terang terangan menyatakan ingin mengejarnya .
Astika sama sekali tidak percaya dengan cinta instant seperti itu . Baginya cinta itu adalah proses panjang di mana dua orang berusaha untuk saling mengenal dan saling mengerti satu sama lain .
Pria itu lebih muda darinya , Asti berpikir mungkin kata kata Dewa tadi malam adalah efek karena dia sudah menceritakan tentang kehidupannya , yang membuat pria muda itu bersimpati ataupun kagum padanya .
Hari menjelang sore dan seperti biasanya dia bersiap siap untuk kembali ke apartemennya . Dia sudah tidak tinggal di mansion orangtuanya setelah selesai kuliah dan membangun usaha sendiri .
Astika benar benar ingin berdiri di kakinya sendiri tanpa nama besar orang tuanya yang merupakan pengusaha ternama di pulau ini . Walaupun belum bisa menjadi pengusaha kaya raya seperti kebanyakan pengusaha besar yang lain tapi gadis itu cukup bangga dengan perannya bisa membantu orang orang disekitarnya .
Tapi matanya terpaku pada makhluk Tuhan yang sangat tampan di arah depannya . Dengan memakai kaos oversize warna hitam dipadukan jeans dengan warna senada dan sneakers putih , duduk diatas motor maticnya . Pria itu tersenyum dan melangkah mendekat ketika melihat dirinya .
" Hai , aku menjemputmu ... "
" Darimana kau tahu jadwal pulangku ?? ... Diva pasti dia "
Dewa terkekeh ketika pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya .
" Tapi aku bawa mobil sendiri , jadi tak usah repot repot "
" Tapi mobilmu sedang berada di bengkel nona . Kau tak punya pilihan lain "
" Bagaimana bisa ?? Kau mencuri mobilku !? "
" Aku bisa melakukan semua "
" Kau terlalu tampan jika kusebut gila !! "
Dewa terbahak mendengarnya , ia pun juga heran dengan dirinya sendiri yang tiba tiba saja tertarik dengan seorang gadis . Pikirannya selalu terganggu dengan wajah gadis ayu itu sejak mereka bertemu pertama kalinya .
Dibalik wajahnya yang ayu gadis itu cerdas , mempunyai empati tinggi terhadap sesama dan rendah hati . Astika tak pernah menyebut dirinya sebagai putri dari John Effendy di depan Dewa .
Sudah dua hari yang lalu mobil itu mogok hingga gadis itu selalu menggunakan taksi online untuk mobilitasnya . Astika belum sempat untuk membawa mobilnya ke bengkel karena beberapa hari ini dia memang sangat sibuk .
" Kau tak bertanya kenapa aku menjemputmu dengan menggunakan motor ?? " tanya Dewa ketika Astika sudah mendekat padanya .
" Alasan klasik pria ! Agar kita bisa lebih dekat , sukur sukur aku mau memelukmu "
" Gadis pintar !! Aku ingin kita semakin cepat untuk dekat "
" Sebelum melajukan motornya Dewa berkata pada gadis di belakangnya .
" Biasakan berpegangan padaku !! Dan aku akan selalu di sampingmu "
" Hissshhh .. cepat jalan !! Gombalanmu tidak akan pernah mempan padaku ... "
Dewa kembali tertawa sepertinya ini akan menjadi hobi barunya yaitu menggoda gadis ayu itu .
Sampai di apartemen Dewa masih saja mengikuti gadis pujaannya .
" Hei kau tadi hanya bilang untuk mengantarku dan kau lihat aku sudah sampai di apartemenku .... "
" Aku haus ... dan sudah seharusnya kau menawarkan minum untukku "
" Di depan ada minimart kau bisa membeli minum disana . Jangan bilang kau tidak punya uang !! Kau seorang CEO jika kau lupa !! "
" Aku ingin minum kopi bikinanmu ... "
" Diva bilang kau tidak minum kopi !! "
Astika tahu Dewa bukan peminum kopi karena saat makan malam pria itu hanya minum air putih dan jus buah ketika Adam , Diva dan dirinya menikmati secangkir kopi untuk penutup sajian .
" Kata orang kopi itu candu ... dan aku sekarang bisa merasakannya "
" Candu minum kopi ?? "
" Bukan ... hanya candu melihatmu . Semalam kau sudah mengusik mimpiku "
" Basi !!! Aku tinggal ke atas dulu setelah itu baru aku buatkan kopi untukmu "
Dewa segera duduk di sofa ketika mereka sudah sampai di dalam apartemen milik Astika . Dominasi warna putih dan pastel membuat suasana terasa sangat nyaman . Tak banyak ornamen yang menghiasi ruangan . Menggambarkan sifat Asti yang tegas dan lugas .
" Dewa ??!! "
Suara seorang wanita membangunkan Dewa dari diamnya , matanya menatap malas gadis yang sedang berjalan ke arahnya . Walau tidak membencinya tapi Dewa ingin momen ini adalah momen kebersamaanya dengan Astika , hanya berdua dengannya tanpa ada orang lain yang mengganggu .