Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
67


Siang itu juga setelah selesai bertemu dengan Varo mereka langsung pulang ke Jakarta karena Air tidak bisa meninggalkan putranya terlalu lama .


Adam juga beberapakali menelpon karena ada beberapa keputusan yang harus Bumi sendiri yang memutuskan . Sebenarnya Bumi belum puas menikmati kebersamaan dengan sang istri . Tapi keadaan yang memaksa mereka harus segera kembali .


" Sayang ... "


" Ya Mas , ada apa ? "


" Sudah beberapa minggu kita seperti ini , aku tidak bisa jika begini terus . Hampir setiap hari aku setengah mati menahan kerinduanku pada kalian "


" Kan hampir tiap hari kita ketemu , ibu juga nggak pernah melarang Mas datang kan "


" Apa ibu masih marah ? "


" Yang Air tahu ibu memang pernah marah dengan Mas , tapi ibu bukanlah seorang pendendam "


" Nanti setelah sampai Mas ingin bicara dengan ibu , ingin minta maaf sekaligus ingin meminta kalian agar kembali di sisi Mas "


" Papa masih marah sama Mas ?! "


" Tidak tahu , tapi dia jadi pendiam . Nggak pernah negur kalau ketemu ! Paling Mama yang selalu minta Mas untuk lebih bersabar , dia bilang suatu saat Papa pasti akan kembali seperti dulu "


Beberapa saat mereka terdiam , tenggelam dalam lamunan masing masing . Hingga Air dikejutkan oleh Bumi yang tiba tiba mengerem mendadak , untung waktu itu dia mengenakan sabuk pengaman jika tidak mungkin ia akan terpelanting ke depan .


" Maasss !!! "


" Maaf sayang , ada seorang wanita yang tiba tiba lari ke tengah jalan . Kamu enggak apa apa? "


" Kita turun Mas "


Ajak Air yang melihat wanita yang ada di depan mobil mereka berdiri dan tampaknya ingin berlari . Rambut panjang dan kaca mata hitam wanita itu menghalangi mereka untuk melihat wajahnya .


Belum hilang keterkejutan mereka tiba tiba datang sekelompok pria dan membawa wanita itu pergi .


Bumi menggenggam erat tangan Air yang terlihat ketakutan .


" Hei nggak apa apa ... ada Mas ! Mungkin dia lari dari rumah dan dipaksa pulang oleh para penjaganya "


Setelah Air sedikit tenang Bumi melanjutkan perjalanannya ..Sebenarnya hatinya pun sedang gundah , dia sempat berpikir wanita yang hampir ia tabrak tadi adalah Narra . Karena kontur wajah dan tubuhnya sama persis dengan mantan istri sah kakaknya tersebut .


*


Di suatu tempat ....


" Mencoba lari dariku hahh !!! "


Narra ketakutan ketika melihat Terra dengan wajah bengisnya semakin mendekat padanya . Dini hari tadi ia berhasil mengelabui para penjaga dengan mencoba melarikan diri .


Hampir dua bulan ditempat ini membuatnya hafal seluk beluk tempat itu . Satu minggu yang lalu ia dinyatakan hamil oleh dokter yang ditugaskan untuk memberinya suntikan kesuburan .


Tapi sungguh ia tidak ingin mengandung anak dari monster semacam Terra . Pria psikopat yang sangat terobsesi memiliki anak darinya . Hampir setiap hari ia dipaksa bercinta dengan pria jangkung itu .


Kadang dia dipaksa minum obat perangsang hingga dengan tidak tahu malunya ia memohon pada laki laki psiko itu untuk menyentuhnya .


" Jangan mencoba untuk menggugurkannya nyonya , jika tidak mungkin nasib nyonya akan lebih sakit dari ini . Tuan Alex bisa melakukan semua hal demi putranya , termasuk membunuh nyonya dengan cara yang tidak pernah akan nyonya bayangkan " begitu kata dokter itu ketika tahu percobaan Narra yang ingin menggugurkan kandungannya .


Hidupnya hancur , hingga pernah ia sampai pada titik putus asanya . Narra ingin mengakhiri hidupnya sendiri , tapi sekali lagi ia teringat dengan putri satu satunya . Walau lahir dari pria yang tidak ia cintai tapi Narra sangat menyayangi Cherry .


Gadis kecil itu yang hingga sekarang membuatnya semangat untuk bertahan hidup .


" Maaf ... aku mohon maafkan aku , tapi dia hanya ingin jalan jalan " Narra mengelus perutnya yang terlihat masih rata itu .


Rayuannya berhasil , wajah bengis itu berangsur mulai melunak . Tangan Terra perlahan terulur untuk mengelus perut ratanya .


" Apa dia baik baik saja !? Hei boy .. kenapa tidak bilang papa jika ingin jalan jalan . Apa kau ingin es krim ? Coklat ? Atau mainan ? Cepatlah datang ke dunia , akan Papa berikan semua untukmu "


Narra mencoba tersenyum ketika tangan itu makin lama makin merayap ke atas , dan meremas dua bukit yang masih mengenakan penutupnya . Walau ia jijik tapi ia mencoba untuk diam karena ia tahu baru saja melakukan kesalahan fatal yaitu melarikan diri .


" Hei boy ... papa ingin menjengukmu , baik baik disana ya "


Dan Terra mendorongnya hingga dua tangannya bertumpu di sebuah rak buku yang ada di ruang tamu . Laki laki psiko itu melucuti semua penghalang ditubuh wanitanya .


Dia tak peduli jika masih ada beberapa pengawal yang berdiri di pojok ruangan , lagipula mereka tak akan berani pergi jika tidak diminta oleh majikannya .


" Ini hukumanmu sayang , kita akan bercinta di depan mereka . Karena kau sudah membuat mereka repot seharian ini " kata Terra dengan seringainya .


Bukannya malu , sepertinya laki laki psiko itu malah bangga dengan kegiatannya sekarang . Terra terus memacu tubuh polos Narra dari arah belakang . Tanpa ia tahu wanitanya sudah berderaian air mata di tengah lengguhannya .