Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
140


" Cepet Dam !! Bisa nyetir nggak sih elo !? "


" Diem ngapa sih B ! Kalau gue nurutin mau elo kita bukan hanya nyusul tapi jadi penghuni rumah sakit sekalian "


Adam kesal dengan Bumi yang selalu saja tidak bisa sabar menghadapi apapun , apalagi jika itu menyangkut anak ataupun istrinya . Tak berapa lama mereka sampai juga ke rumah sakit .


Adam segera berlari ke arah poli kandungan karena saat mengejar Bumi di perusahaan tadi dia sempat menanyakan keberadaan nyonya mudanya pada Vallery .


" Hei kita ke arah gawat darurat , ngapain elo ke sana ?! " teriak Bumi .


Adam berhenti dan berbalik pada Bumi yang sudah terlihat sangat panik .


" Siapa juga yang lagi di UGD ?! "


" Bini gue sakit bangs*t !!!! "


" Sini , ikut gue kalau elo mau cepet ketemu Nyonya Muda ! Kalau elo nggak nurut gue jamin satu bulan ke depan elo bakal tidur di sofa kamar tamu "


Bumi terdiam , reflek ia mengikuti langkah Adam yang berjalan ke arah poli kandungan . Ancaman tidur di luar terdengar lebih mengerikan dari hal apapun di dunia ini .


Terlihat beberapa ibu hamil sedang melihat kagum ke arah mereka , dua pria sempurna yang hadir di tengah tengah penatnya menunggu antrian .


TOK .. TOKK


Seorang perawat membuka pintu dan mempersilahkan Bumi memasuki ruang periksa setelah Adam berbicara sebentar . Bumi masih saja terpaku , dia melihat sang istri yang terbaring di depan seorang dokter dan seorang perawat .


" Jangan sentuh istriku ... " suara datar Bumi mampu membuat mereka semua yang ada di ruangan itu terkejut .


Rita yang terkejut dengan kedatangan Bumi langsung menghampiri putranya . Dia tahu pasti putranya akan marah karena dokter kandungan yang direkomendasikan Val ternyata adalah dokter laki laki .


Dokter itu terlihat sedang memegang lengan Aira yang saat ini sedang di periksa tensi darahnya .


" Mas ... "


Dokter bernama Farhan itu tersenyum melihat Bumi yang menatapnya tajam , ia sudah terbiasa menghadapi para suami bucin seperti laki laki di depannya .


Bumi mendekat kemudian mencium kening sang istri , dia menjauhkan lengan Aira dari tangan Dokter Farhan .


" Sayang kok nggak ngabarin Mas kalau mau ke rumah sakit ?! Tadi kan bisa Mas anterin . Mananya yang sakit sayang ? "


Bumi bertubi tubi mencium kening dan tangan istrinya , membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu memalingkan muka melihat adegan romantis itu.


Dan jangan ditanya lagi seperti apa perasaan Air saat ini , andai dia bisa menghilang maka ia ingin menghilang saat itu juga . Mukanya memerah karena menahan rasa malunya .


" Tidak !! Sebelum anda mengatakan sakit yang di derita istri saya , dan jangan coba coba lagi untuk menyentuhnya !! Atau saya akan mematahkan tangan anda ... "


Rita mencoba menarik tangan putranya berniat ingin bicara sebentar agar Bumi tidak salah paham . Tapi singa jantan itu tak bergeming , ia terus saja menjaga tubuh sang istri agar tak tersentuh orang lain .


" Baik saya paham mau anda , kita akan lihat. ' penyakit ' nyonya di dalam layar itu . Sekarang anda bisa duduk di samping istri anda . Saya tidak akan menyentuh istri anda "


Bumi mengalah duduk disamping sang istri setelah Air menatapnya dengan tajam dan memintanya untuk segera duduk . Dia melihat seorang perawat wanita mengoleskan sesuatu pada perut istrinya .


" Sayang ... sakit !? "


Air menggeleng dengan cepat sambil melihat kikuk perawat yang sedang tertawa kecil mendengar pertanyaan aneh suaminya .


Setelah itu perawat meletakkan alat di perut sang istri dengan membuat gerakan pelan di atas perutnya .


" Anda lihat itu ? Satu titik yang ada di dalam layar ?! " Dokter Farhan menunjuk ke arah layar di depannya .


Bumi semakin panik ketika melihat dua wanita yang sangat ia cintai dalam hidupnya sama sama meneteskan air mata . Tapi senyum terukir di wajah keduanya .


" Sayang kita hadapi ini sama sama ... kamu pasti sembuh " Bumi menggenggam erat tangan Aira yang masih saja meneteskan air mata .


" Itu calon putra anda ... itu adalah calon bayi yang akan tumbuh di rahim istri anda . Usianya sudah sekitar dua belas minggu "


" Bayi !? Apa maksud anda Dokter jangan bercanda !! "


" Saya tidak bercanda , Selamat ! Sekitar enam bulan lagi anda akan menjadi seorang ayah . Saya harap anda bisa menjaga nyonya ke depannya "


" Sayang .... "


Aira hanya mengangguk , dia membawa tangan suaminya ke atas perutnya yang sebelumnya sudah di bersihkan .


" Mas ... kita akan punya anak , Janu akan segera menjadi seorang kakak "


" Alhamdulilah Ya Allah " Bumi memeluk erat istrinya dan menghujaninya dengan kecupan .


Tak bisa ia lukiskan betapa bahagianya ia saat ini , akan bertambah satu lagi sumber kebahagiaan dalam hidupnya setelah kehadiran Aira dan Janu .


Sementara dokter dan perawat hanya bisa saling memandang , sepertinya pemeriksaan kali ini akan menjadi sesi terpanjang dalam sejarah mereka bekerja di rumah sakit ini .


Dan Adam tak henti hentinya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal , sudah dari tadi dia mendapat omelan dari ibu ibu hamil yang sedang mengantri untuk diperiksa . Untung saja wajahnya tampan hingga omelan yang ia dengar tidak terlalu pedas seperti mulut boss nya .


" Apes bener sih hidup gue " gerutunya .