
Semua berjalan seperti biasa kembali setelah Bumi bisa dapat menemui istrinya lagi . dia sudah bisa konsentrasi lagi pada perusahaan Adipraja .
Sedangkan Air sudah mulai membuka toko rotinya , walaupun pemula tapi tokonya cukup ramai . Air juga menjadi penyuplai kue di supermarket milik Varo .
Sejak ada kabar bersatunya kembali Air dengan suaminya , dengan berat hati ia mulai menjaga jarak . la cukup tahu diri untuk tahu batasannya .
" Lemah , gitu aja nyerah ! Dennis Alvaro yang kukenal tidak lemah seperti ini "
Siang itu Deniel ada di kantor milik Varo , seperti biasanya ia senang sekali jika menggoda sepupunya itu .
" Siapa yang menyerah ? Jika saja Air ingin lepas dari pria brengsek itu aku pasti akan memperjuangkannya . Tapi nyatanya yang kulihat Air mulai bisa menerima suaminya kembali "
" Jika bisa menerima pasti dia dan Janu sudah mau kembali ke apartemen . Bukannya bertahan di ruko "
Varo terdiam., sepupunya satu itu memang sangat pandai memprovokasinya sejak dulu . Tapi jika dipikir pikir memang benar , mungkin masih ada celah untuknya untuk memperjuangkan cintanya untuk ibu dari satu anak itu .
"' Dan elo !? "
" Sejak awal gue sudah bilang kan , gue tidak pantas untuknya . Masa lalu gue terlalu gila ! Dia pantas dapat yang terbaik " jawab Deniel sambil memperhatikan layar ponselnya .
" Dan yang elo maksud gue lebih baik darimu ? Anak pintar , mau dilihat darimana pun gue memang lebih baik dari elo " ejek Varo menang karena tak biasanya Deniel mengakui kelemahannya didepannya .
" Elo kenapa ? Atur kencan lagi sama tante tante ? " tanya Varo yang melihat Deniel tak menanggapi ejekannya .
" Narra , ada temen yang ngasih foto dia lagi kencan " jawan Deniel .
" Terus apanya yang aneh !? Jangan bilang elo cemburu , gue tahu dia salah satu pelanggan favorit elo "
" Najis , gue nggak cemburu ! Udah tobat gue sejak gue pengen jadi bapaknya Janu . Ada yang aneh dari fotonya "
" Kenapa memangnya ? Ada gambar penampakan hantunya apa gimana ? "
" Dia kencan dengan laki laki tua . lni bukan style nya , yang gue tahu mangsanya adalah laki laki muda dan tampan yang bisa menggoyang ranjangnya sampai pagi . Kalau dilihat laki laki tua itu main sekali langsung tepar , atau mungkin malah sudah nggak bisa bangun lagi "
Varo terkekeh mendengar jawaban Deniel yang dirasanya lucu .
" Kalau dilihat sih bukan Narra yang kasih job seperti biasanya , tapi laki laki itu yang kasih job ke dia . Aneh ! "
" Kenapa nggak elo samperin kalau elo penasaran . Atau kalian bisa main bertiga kalau perlu , udah lama juga elo nggak begituan kan . Ngomong ngomong elo udah beneran sembuh ? Salut gue baru kali ini gue bisa lihat the power of love yang bisa nyembuhin penyakit elo "
" Ha .. ha .. elo memang gila !! "
Varo tertawa terbahak mendengar kelakuan absurd sepupunya itu .
*
" Hai sayang ... kemarilah "
" Hai tuan Alex " Narra menjawab sapaan dari pria tua didepannya dengan malas , tapi senyum tetap tersungging di bibirnya .
Pagi tadi Berryl memberinya job untuk menemani salah satu pejabat kota yang umurnya sudah tidak muda lagi . Dia sudah menolak keras permintaan itu . Narra tidak mau menjadi pelac*r Berryl . Sungguh ia menyesal sudah masuk dalam perangkap germo itu .
Tapi apa boleh buat nama baik keluarga dan pekerjaannya yang menjadi taruhannya jika ia menolak . Berryl mengancam akan menyebarluaskan video panasnya jika ia berani menolak perintah Berryl .
" Maaf jika aku tidak langsung memintamu ke hotel , tadi aku ada pertemuan dengan orang penting disini jadi kupikir akan lebih menyenangkan jika kita bisa pergi bersama " kata laki laki bernama Alex itu .
Dia mengundang Narra ke sebuah private room di sebuah restoran mewah .
" Kita bisa pergi sekarang sayang ? " kata Alex sambil merengkuh pinggang ramping Narra .
Walau risih Narra tetap mengangguk dan berjalan mengikuti laki laki itu . Sebuah mobil mewah sudah menunggunya . Ada dua laki yang menunggu mereka , sepertinya bodyguard pria tua itu .
Dahi Narra berkerut ketika mobil melaju ke luar kota ke daerah yang lebih sejuk . Sepertinya mereka akan ke sebuah villa di pegunungan .
Narra masih mencoba diam walau dia sudah sangat penasaran kemana dia akan dibawa pergi . Dan benar dugaannya , mobil yang ditumpangi berhenti di sebuah villa besar di puncak pegunungan .
Pria bernama Alex itu memintanya turun , mungkin karena perjalanan yang lumayan lama badannya menjadi sedikit lelah . Dengan langkah gontai Narra mengikuti Alex ke dalam villa .
" Beristirahatlah sejenak ... kita bertemu kembali saat makan malam "
Setelah berbicara seperti itu Alex pergi entah kemana , sementara ada maid yang menggiringnya menuju sebuah kamar . Disana juga sudah disiapkan baju ganti untuknya Sepertinya orang bernama Alex itu bukan orang sembarangan .
" Aaaaaa .... "
Tubuh Narra berjingkat ketika mendengar samar lengkingan suara laki laki . Ketika ingin bertanya maid yang bersamanya malah buru buru pergi . Wajahnya terlihat ketakutan .