
" Apa kau gila !?"
" Aku gila ketika bertemu denganmu pertama kali bertemu "
" Ya , kau tergila gila pada tubuhku bukan ? Jika bisa aku ingin keluar dari tubuh ini , bahkan aku jijik pada diriku sendiri . Aku mohon pergilah ....aku hanya ingin hidupku damai " suara Erin terdengar sedikit melunak .
" Menikahlah denganku , aku akan menanggung pengobatan ibumu selanjutnya . Ibumu butuh dua kali operasi lagi kan ? Aku tak akan menyentuhmu tanpa ijinmu . Jika kau berpikir aku menikahimu hanya untuk mendapatkan tubuhmu . Malam.itu aku lepas kendali ... maaf "
" Kau pikir aku percaya pada laki laki semacam kamu !! Kau sudah membayarku jadi tidak usah merasa bertanggung jawab atas kejadian malam itu . Dan satu lagi tuan Dennis Alvaro yang terhormat , jangan pernah mengasihani aku "
" Terserah ... Pikirkan tawaranku tadi ! Aku tidak butuh jawaban itu sekarang "
Varo kemudian mengikuti langkah Erin menuju ke kamar rawat ibunya . Erin memasang wajah bahagia lagi ketika ada di depan ibunya .
" Kalian sudah kembali , apa dia merepotkanmu lagi nak Varo !? " kata wanita yang masih lemah itu .
Varo kembali meraih tangannya dan duduk di kursi yang ada di pinggir ranjang .
" Putri ibu tidak pernah merepotkanku , malah tadi aku yang membuatnya repot dengan tiba tiba melamarnya . Sekarang di depan ibu aku akan meminta putri ibu , karena aku tidak bisa hidup tanpanya "
Ibu Erin terhenyak tapi kemudian tersenyum lebar . Lamaran yang terkesan santai itu membuatnya tidak begitu shock mendengarnya . Ia berpikir laki laki yang duduk di sampingnya ini sudah bisa berpikir secara dewasa .
" Erina masih sekolah !! " tukas Erin sewot agar ibunya mengerti bahwa ia menolak keras lamaran itu .
" Aku tidak akan mengganggu kegiatan sekolahnya bu , aku hanya butuh dia di sisiku . Di depan ibu aku berjanji aku tidak akan pernah menyentuh putri ibu sebelum dia benar benar siap untuk melayaniku "
Erina terlihat gusar ketika melihat ibunya mengeluarkan air mata .
" Pergi !! Pergi dari sini sekarang !! Kau buat ibuku bersedih " Erin menarik tangan Varo agar beranjak dari duduknya .
" Erin ... jangan kasar pada nak Varo . Tidak sopan sayang ! lbu mengijinkannya ... ibu menerima lamaran itu . Tapi semua ini ibu kembalikan padamu . Ibu tidak akan memaksamu jika kau tidak mau menjadi pendampingnya "
Erin terpaku dengan kedua tangan masih memegang lengan Varo . Dengan lembut Varo menariknya hingga kini ia yang duduk di samping sang ibu .
Ibu Erina hanya mengangguk lemah sambil tersenyum .
" Varo pamit dulu , mungkin besok Varo kesini agak sore karena ada pekerjaan yang harus Varo selesaikan dulu . Ibu dan Erin istirahat saja dulu "
" lya nak , jika memang sibuk jangan paksakan untuk kesini . Lagian ibu juga sudah semakin sehat kok "
Dua jam setelah kepargian Varo beberapa perawat memindahkan ruang rawat ibu Erina di ruangan VVIP . Mereka bilang anak laki laki ibu Erina yang sudah menanggung biaya pengobatan dan perawatan . Bahkan biaya operasi juga sudah dibayar oleh Varo .
Erina tentu saja tahu siapa dibalik semua itu , dia menolak keras dan ingin ibunya tetap diruangan semula . Tapi dia tak bisa berbuat apa apa ketika perawat mengatakan bahwa akan ada dua pasien yang menempati ruangan tersebut .
Kemarahannya mereda ketika ibunya sudah diruangan yang sudah Varo sediakan , ruangan itu memang jauh lebih nyaman dari ruangan sebelumnya . Erin yakin Varo mengeluarkan banyak uang untuk semua itu .
Hatinya bimbang , bagaimana ia harus membalas semua ini . Tapi hatinya juga bertekad dengan cara apapun ia akan mengembalikan setiap sen yang di keluarkan laki laki brengsek yang telah merenggut kehormatannya itu . Erin tidak mau berhutang budi pada laki laki yang sangat dia benci itu .
" Erin ... "
Suara lembut ibunya menyadarkannya dari lamunannya .
" lya ibu , ibu butuh sesuatu ? "
" Ibu mohon menikahlah dengan Varo , ibu percaya padanya walau ini pertama kali kami bertemu . Ibu tidak tahu sampai kapan ibu bisa bertahan ... "
" Ibu akan sembuh ... Erin akan melakukan apa saja untuk kesembuhan ibu . Ibu harus kuat karena Erin sangat menyayangi ibu " sahut Erin sebelum ibunya menyelesaikan kata katanya .
" lbu tahu , setidaknya ibu akan lebih tenang jika kau ada di sisinya "
Erina terdiam , ibunya mengira Varo adalah laki laki sempurna padahal mereka bertemu dengan cara yang paling menjijikkan menurutnya . Mereka dipertemukan karena laki laki itu butuh pelampiasan hasratnya . Dan dengan suka rela ia mau disentuh hanya untuk uang .
Tapi di sisi lain Erin ingin membuat ibunya bahagia . Berkali kali ia menghela nafas panjang , akhirnya dia memutuskan akan pergi ke neraka itu jika itu bisa membuat hidup ibunya lebih tenang .
Neraka bernama pernikahan , pernikahan dengan seorang laki laki yang akan ia benci seumur hidupnya .