
Walaupun ia tidak begitu peduli pada urusan pribadi calon suaminya , tapi Erin bisa melihat tatapan Varo yang begitu memuja wanita yang duduk di depannya itu .
Hatinya sedikit tersentil , ia akan menikahi laki laki yang sama sekali tidak mencintainya . Selama ini ia bersikap keras dan begitu tidak peduli hanya untuk menutupi rasa rendah dirinya .
la tahu Dennis Alvaro tidak sengaja berniat menyentuhnya pada malam itu , laki laki itu menyentuhnya karena di bawah pengaruh obat . Dia tahu karena mucikari yang membantunya malam itu berterimakasih padanya dan menceritakan semuanya .
Mucikari itu mendapat bonus besar karena pelanggan yang tidak jadi ia layani malah bertemu dengan wanita cinta pertamanya . Dan untungnya mucikari itu tidak meminta kembali uang yang sudah ia transferan ke rekeningnya .
Skenario takdir yang tak pernah ia duga . Mendapat laki laki baik yang terpaksa harus bertanggung jawab pada dirinya . Dan dengan kebesaran hatinya mau menanggung semua biaya pengobatan sang ibu .
Varo tidak pernah memandang rendah dirinya , tidak pernah !!! Tapi dirinya yang merasa jauh di bawah laki laki itu . Varo pantas mendapat wanita yang lebih baik darinya , yang tidak menjual dirinya hanya untuk segepok uang .
Erin terbangun dari lamunannya ketika tangan mungil Janu menyentuh pipinya , bayi gembul itu tertawa padanya membuat Erin tidak tahan untuk tidak menciumnya .
Erin dan Janu bermain sampai Varo dan Air mengakhiri pembicaraan mereka .
" Dede sini sama Mama , keenakan ya ikut sama Tante cantik terus " kata Air yang menyodorkan tangannya ke arah putranya .
Erin juga bisa melihat begitu besarnya cinta suami dari wanita bernama Aira itu . Pria itu tak sekalipun melepaskan tangannya dari istrinya . Dari tatapan mereka Erin tahu suami istri itu saling mencintai .
Varo menatap Erin seksama , tak menyangka di balik sifat nya yang ketus ada kelembutan di dalamnya . Janu yang notabene baru kali ini bertemu dengannya bisa langsung akrab dengan gadis yang menjadi calon istrinya itu .
" Kenapa kau menatapku seperti itu !? "
" Tidak " jawab Varo singkat , ia menata kembali laptop yang tadi sempat ia pakai .
" Jika aku minta satu hal , bisakah kau mengabulkannya ? "
Pertanyaan gadis di depannya mampu membuatnya terpaku sejenak . Erin tak sekalipun meminta sesuatu padanya .
" Selama aku sanggup , tak masalah buatku "
" Bisakah kau memikirkannya kembali ? Tentang pernikahan kita ? Pada kenyataannya kau tidak pernah mencintaiku "
" Kau keberatan dengan itu ? "
" Wanita mana yang tidak senang jika dipersunting laki laki kaya , tampan dan mapan ? Tapi itu semua tak cukup bagiku . Aku wanita serakah , aku juga menginginkan hati pria yang menikahiku "
Varo kembali menatap tak percaya gadis di depannya , baru kali ini Erin berbicara panjang lebar tentang isi hatinya . Suatu perkembangan yang menakjubkan .
" Terimakasih telah menyebutku tampan .. "
" Ckk .. "
" Aku pun pria serakah , kau pikir hanya kau yang butuh dicintai ? Aku memang menikahimu karena rasa tanggung jawabku . Tapi seseorang pernah berkata padaku . Cinta datang dengan jalan yang tak pernah kita kira sebelumnya " Varo tersenyum dalam hati , karena dia ingat kata kata Mbok Sum waktu itu .
" Jika ini jalan kita , kenapa kita tak mencoba untuk saling menerima ? Ketika aku mengucapkan ingin menikahimu di depan ibumu berarti aku sudah memantapkan hatiku untuk menerimamu , menerima keadaanmu "
Erin tertunduk mendengar kata kata Varo. Di satu sisi hatinya sangat berbunga bunga , tapi di sisi lain dia masih sangsi apakah keluarga Varo bisa menerimanya . Semua tahu jika Varo berasal dari keluarga kaya raya .
" Tapi aku bisa melihat bahwa kau mencintai mbak Aira , matamu sangat lembut ketika sedang menatapnya "
" Jika begitu buatlah aku untuk mencintaimu , buatlah aku tidak bisa berpaling pada wanita lain selain dirimu !! Buatlah agar hanya ada namamu yang kusebut disetiap mimpiku "
" Tapi bagaimana caranya ? "
Varo tak bisa menyembunyikan tawanya , ia lupa bahwa yang ingin ia nikahi adalah seorang gadis yang masih belia . Pemikirannya pasti belum sedewasa Aira . Aira ? Lagi lagi ia berpikir tentang wanita itu .
Mungkin mulai saat ini ia harus bekerja lebih keras agar tidak selalu memikirkan ibu satu anak tersebut . Ada seseorang yang akan menjadi pendamping nya . Seseorang yang kelak akan menjadi teman hidupnya , sampai akhir hayatnya .
" Dengan ini ... "
CUUUPPP ....
Visual.Erina