
" Hari ini kita kembali ke mansion Adipraja , kurasa cukup waktu dua hari ini kita di sini "
Jasmine hanya diam tak memperdulikan kata kata Dewa . Matanya masih fokus melihat televisi . Dia masih merasa kesal karena merasa menjadi seorang tahanan di kamar ini .
" Apa setelah menikah kupingmu menjadi tuli nona !?? Kemasi bajumu kita berangkat sebentar lagi "
Dengan mulut mengerucut Jasmine mengambil kopernya , dari kemarin dia sudah mengemasi bajunya hingga sekarang tinggal membawanya saja .
Ketika melihat baju baju dan barang barang Dewa yang masih belum di kemas Jasmine berinisiatif untuk membantu pria yang sudah menjadi suaminya itu .
" Jangan sentuh !!!! Jangan sentuh barang barangku !! " teriak Dewa membuat Jasmine berjingkat kaget .
Hatinya seperti diremas , baru kali ini ada orang yang berteriak padanya karena sejak kecil dia menjadi tuan putri di rumahnya . Semua orang memanjakannya terutama sang Daddy .
Dengan mengumpulkan keberanian Jasmine berbalik dan menghadap ke arah Dewa .
" Tidak perlu berteriak , aku belum tuli untuk mendengarmu berbicara "
" Apa yang membuatmu berpikir kau berhak menyentuh barang batangku ??! "
" Aku tidak berpikir apa apa , aku hanya ingin membantumu . ltu saja " Jasmine mencoba menetralkan suaranya , berusaha untuk tidak berteriak karena jika ia melakukannya pria di depannya akan semakin menjadi .
Pria yang semula penyabar dan penyayang itu menjadi bertemperamen tinggi setelah mereka menikah . Dewa sering berteriak padanya . Sesungguhnya Jasmine sangat ingin melawannya tapi dia menyadari , dari awal dia sudah menyanggupi untuk menjadi istri dari pria tersebut . Dan mau tidak mau ia harus menghadapi apapun yang akan terjadi dalam rumah tangganya nanti .
Dewa mengemasi barang batangnya sendiri setelah selesai tanpa menunggu Jasmine dia segera menyeret kopernya meninggalkan kamarnya .
Dengan langkah tertatih Jasmine mengejar suaminya . Sangat sulit menyamakan langkah Dewa yang berpostur tinggi besar itu .
" Siput .... "
Masuk ke dalam mobil pun Jasmine masih mendengar sindiran dari suaminya . Padahal dia lama karena susah untuk mengangkat kopernya yang berat ke dalam mobil . Pria itu hanya diam di belakang setir walau melihatnya kesulitan .
Bahkan ketika mereka duduk berbincang dengan keluarga besar Adipraja , Dewa masih duduk dengan merengkuh pinggangnya . Dan Jasmine pun paham jika dia harus mengimbangi sandiwara suaminya . Mereka terus memamerkan kemesraan mereka .
Tak lama Deniel juga terlihat datang dengan istrinya , mereka berbaur dengan keluarga yang penuh kehangatan itu .
Tapi semua berubah ketika para wanita berkumpul di dapur untuk menyiapkan makan siang , sedang para pria seperti biasa berkumpul di pinggir kolam .
" Sandiwaramu cukup bagus Wa ! Kau bisa menipu mereka tapi tidak dengan Kakak " bisik Deniel pada Dewa ketika pria lainnya sedang menghampiri putra putra mereka yang sedang bermain di pinggir kolam .
" Nggak ngerti Dewa ... Kak Deniel ngomong apa sih "
" Lebay permainan kalian , nggak perlu berlebihan jika mau akting mesra "
" Ckk ... kami pengantin baru "
" Kakak hanya bisa memberi nasehat . Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah kakak iparmu lakukan . Hargai orang yang benar benar mencintaimu . Kalian masih muda dan jalan kalian masih sangat panjang . Tidak ada yang tidak mungkin untuk cinta . Dia bisa datang kapan pun , dimana pun dan pada siapa pun . Kakak tidak ingin kalian terutama kamu menyesal di kemudian hari "
" Semua sudah Dewa pikirkan ... "
" Tapi pernikahan butuh ini ... dan ini ... "
Deniel menunjuk ke kepala dan dada Dewa , sepertinya suami Vallery itu sangat memahami apa yang Dewa rasakan saat ini .
" Kakak tidak akan banyak menasehatimu , aku percaya kau tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri ataupun istrimu "
Dewa hanya menghela nafas panjang , serapi apapun dia menyembunyikan nyatanya ada juga yang tahu dengan sandiwara ini . Dia berharap hanya Deniel yang menyadari akan hal ini .
Hanya satu tahun ... dua hanya butuh satu tahun untuk mengakhiri semua ini . Dewa berharap dia dan Jasmine akan menemukan jalan terbaik setelah satu tahun kesempatan itu .