Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
130


" Cepat ambilkan aku minum , apa kau tuli !! Kenapa semua orang di rumah ini menjadi tuli !! "


Terra merasa kesal karena para penjaga ataupun maid yang biasa melayaninya sama sekali tidak masuk ke kamarnya . Hanya seorang maid baru yang menurutnya sangat menyebalkan .


Jika saja tubuhnya sudah kuat untuk berdiri dapat ia pastikan ia akan menyeret wanita itu pergi dari kamarnya . Pelayan yang bernama Luna itu seperti sengaja menentang semua keinginannya .


" Apakah selalu seperti ini !? Apakah anda tidak bisa meminta secara baik baik tuan ? Akan saya ambilkan jika anda memintanya dengan tidak berteriak teriak seperti tadi "


" Arrrgghhh ... !! "


Terra berteriak kesakitan ketika refleks dia ingin mendorong tubuh Luna , tapi apa daya karena dia belum bisa menggerakkan daerah dadanya . Dia terus saja memegang dadanya yang terasa sangat nyeri .


" Tuan bisa mendorong atau memukul saya jika sudah sembuh nanti , tenang saja "


Terra hanya mendengus kasar , selalu saja seperti ini . Luna selalu memanfaatkan kelemahannya untuk menuruti permintaannya . Tapi egonya terlalu besar , ia lebih baik kehausan daripada harus berkata lembut pada Luna .


" Berdoalah agar aku bisa cepat sembuh , karena saat itu aku akan mencabik cabik tubuhmu dan akan kuberikan pada anjing jalanan "


" Pasti , saya selalu berdoa agar anda cepat sembuh "


Terra bisa melihat pelayan wanita itu membawa sekotak peralatan , ia tahu Luna akan mengganti seluruh perban di tubuhnya . Sudah dua hari ini dokter yang biasa menanganinya hanya berkunjung saat malam hari . Itupun hanya untuk melihat keadaannya saja .


Luka luarnya memang berangsur sembuh , tapi dadanya masih terasa sangat sakit untuk di gerakkan . Hanya untuk bersandar di ranjang saja dia butuh pertolongan


" Pagi ini anda ingin sarapan tuan ? Tadi malam aku membuat cheese cake cukup banyak . Jika tuan mau aku bisa ambilkan untukmu "


Luna tersenyum dalam hatinya , semalam laki laki yang masih terbaring itu masih saja keras kepala tidak mau ia layani dan alhasil semalam ia melewatkan makan malamnya . Luna yakin Terra pasti merasa sangat lapar pagi ini .


Dia tahu pria itu sangat menyukai cheese cake dari salah satu pengawal mansion . Mereka bilang hampir tiap hari tuannya keluar hanya untuk membeli cheese cake .


" Aku tidak sudi makan makanan buatanmu . Lebih baik aku mati kelaparan !!! "


" Baik jika anda tidak mau mungkin sebaiknya nanti saya bagikan lagi pada penjaga di pintu gerbang mansion . Saya lupa semalam hanya mereka yang belum kebagian "


Dengan perlahan satu persatu ia membuka dan mengganti perban di tubuh Terra .


" Luka di pelipis anda sudah kering , lebam di wajah tuan juga sudah membaik "


" Cerewet !!! "


Luna hanya tersenyum , beberapa hari ini dia hanya melakukan pendekatan . Setidaknya dalam dua hari ini dia sedikit tahu tentang sifat Terra .


Dia sama sekali belum melakukan sesi konselingnya . Luna ingin Terra terlebih dulu mempercayainya sebagai seorang teman , hingga pria itu mau terbuka padanya tanpa adanya paksaan .


Setelah selesai Luna segera membereskan kotak obatnya dan bergegas keluar dari kamar itu .


" Hei tunggu !! Hei ... "


Luna terus saja berjalan tanpa menoleh ke arah Terra , dia berpura pura untuk tidak mendengar panggilan itu .


" Hei !!! Kau tuli !? "


" Anda memanggil saya tuan ?? "


" Memang ada siapa lagi di kamar ini jika bukan kamu hahh !! "


" Saya Luna , bukan ' hei ' ! Jika tuan memang membutuhkan saya maka tolong panggil nama saya ... Luna . Dan jangan berteriak pada saya karena telinga saya masih sangat sehat untuk mendengar "


Hening ...


" Aku lapar ... "


Luna tersenyum , akhirnya pria keras kepala itu bisa berkata dengan nada biasa bukan dengan berteriak . Dia melangkah mendekat ke arah ranjang Terra .


" Apa anda menginginkan sesuatu ? "


" Aku ingin nasi goreng "


" Hanya itu ? "


" Teh manis "


" Baik , secepatnya akan saya bawa kesini . Satu lagi , jika anda memang ingin sekedar berjalan di taman saya bisa ambilkan kursi roda untuk tuan "


" Aku bukan pria lumpuh ! " sinis Terra


Tapi sekali lagi Luna bisa menghadapinya dengan tenang , ia kembali tersenyum .


" Saya hanya menawarkan tuan , tidak masalah jika anda menolaknya . Lagipula sepertinya badan anda juga terlalu berat jika harus saya yang mendorong kursi itu . Ya sudah saya ke dapur dulu untuk membuat sarapan untuk tuan "


Terra menghembuskan kasar nafasnya ketika melihat pelayan itu sudah pergi . Baru kali ini ada pelayan yang berani menentang setiap kemauannya . Wanita itu selalu saja membuat kesabarannya habis .


Dan anehnya di saat sakit seperti ini hanya ada wanita itu yang selalu berada di dekatnya . Para pengawal ataupun maid lainnya sama sekali tidak pernah lagi masuk ke kamarnya . Alex pun hingga kini belum pernah kamarnya untuk mengunjunginya .


Tanpa ia tahu sang ayah setiap malam melihat keadaannya , pria tua itu datang jika ia sudah terbawa ke alam mimpi .


Tak berapa lama Luna masuk dengan membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan teh hangat seperti permintaannya . Aroma masakan wanita itu membuat cacing diperutnya semakin menari nari .


Setelah meletakkan nampan di atas nakas Luna segera berjalan ingin meninggalkan kamar itu .


" Hei ... "


Luna masih saja melangkahkan kakinya , ia tak akan berhenti sebelum pria keras kepala itu mau menyebut namanya .


" Hei Luna ... aku ingin makan . Aku tidak bisa makan sendiri "


Luna tertawa alam hati , akhirnya Terra bisa juga meminta tolong padanya walau ia yakin pasti saat ini pria itu sedang merutuki dirinya .


" Baik akan saya suapi jika anda begitu memaksa !! "


" Ckk ... !! "