Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
83


Sesudah selesai mengantar Erina dan ibunya pulang dari rumah sakit , Deniel kembali lagi ke arah rumah sakit . Val tadi menelponnya bahwa mobilnya tiba tiba mogok dan dia butuh tumpangan untuk pulang .


Vallery mengirim share lokasinya melalui ponsel pintarnya agar Deniel bisa cepat menemukannya .


" Kau sudah panggil montir ? "


Deniel bertanya pada Vallery yang masih duduk di kap mobil . Jalanan yang menuju arah rumah dokter cantik itu memang lumayan sepi .


" Sudah , aku sudah menelpon bengkel langgananku . Biasanya akan di antar ke rumah jika selesai "


Mereka segera melaju ke arah rumah Vallery karena hari sudah mulai gelap . Tak lama kemudian mereka sampai ke daerah perumahan cukup mewah . Disitulah lingkungan Vallery tinggal .


" Kau tinggal sendiri ? "


" Ada asisten yang bantuin disini , tapi pulang jam lima sore . Dia sudah berkeluarga jadi tidak bisa tinggal disini "


" Hebat , kau berani tinggal sendiri "


" Apa yang perlu aku takutkan ?? "


" Ya ... ya ... kau pasti sksn bilang kau pemegang sabuk hitam taekwondo kan !? "


Vallery hanya terkekeh mendengar kata kata Deniel itu .


" Duduklah .. akan ku buatkan kopi untukmu "


Deniel menurutinya , dia duduk sambil melihat rumah dokter cantik itu . Penataannya sangat simpel , di dominasi warna putih yang menambah kesan bersih dan rapi .


" Hei ... ini kopimu . Aku tinggal sebentar ke atas ya "


Deniel hanya mengangguk , ia tahu Val akan membersihkan dirinya dahulu . Dia membuka ponsel karena terdengar notif pesan dari dalam sakunya . Aira yang mengiriminya pesan .


Dear A : Besok kau jadi ke Bandung kan ?


Me : Jadilah .. lusa pembukaan kafe jadi banyak hal yang harus kita urus . Kau pergi bersamaku atau singa gurun itu !? "


Dear A : Tentu saja bersamanya


Me : Ajak Janu juga , aku sudah sangat rindu pada si gembul itu . Tinggal bersamanya membuatku sulit bertemu dia , menyebalkan .


Dear A. : Ok


Deniel meletakkan ponselnya ketika wangi sabun khas perempuan menguar di ruangan itu . Ia tahu pasti Vallery sudah selesai mandi dan turun menemuinya .


Deniel merebahkan kepalanya di sandaran sofa , dia memejamkan matanya .


" Kenapa matamu terpejam ? Takut tergoda padaku !? " tantang Val .


" Diamlah .. aku hanya lelah , ingin bersandar sebentar " kilah Deniel yang di iringi tawa Val .


" Kau tak bisa bohong padaku tuan Deniel "


Deniel membuka matanya , matanya terpaku pada keindahan yang ada di depan matanya . Val mengenakan kaos oversize warna hitam dengan bawahan hot pant usang hampir tidak terlihat karena tertutup kaos besar itu .


Nafasnya mulai tersengal , badannya sudah mulai berkeringat dan Deniel menyerah . Dia tak mau tergoda dan melewati batasannya .


" Kau sudah dirumah .. saatnya aku pulang !! Deniel pamit tanpa sekalipun melihat ke arah Vallery , dia segera melangkah untuk keluar .


Tiba tiba dua tangan mungil melingkar di perutnya . Deniel berusaha keras untuk tidak mengindahkannya . Dengan lembut ia mencoba melepaskan tangan itu .


" Jangan menggodaku ... "


" Kenapa ?? Jangan bilang kau takut !! "


" Aku mohon biarkan aku pergi "


" Tidak .. aku ingin kau menghadapinya , hadapi rasa itu . Aku bersamamu ... aku menyayangimu " lirih Vallery .


Vallery ingin Deniel bisa belajar mengendalikan hasratnya . Selama ini Deniel sudah mengalami kemajuan pesat .


Dia sudah sama sekali tidak menyentuh wanita hanya untuk menyalurkan hasratnya . Dia benar benar bisa menahannya walau kadang harus bersolo karir di kamar mandi .


" Ini terakhir kalinya aku peringatkan .. biarkan aku pergi . Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi " ujar Deniel mulai frustasi .


" Eeemmpptthh .. Deniel "


Deniel yang sudah tak kuasa menahan langsung membalikkan badan dan menyambar bibir Val yang beraroma strawberry mint . Dia menggila ketika Val tak menunjukkan penolakannya .


Mata Val yang terpejam terlihat begitu seksi di matanya . Nafas mereka sudah mulai tersengal , Deniel benar benar mengeksplore bibir ranum itu hingga Val terlihat sedikit kewalahan .


Deniel tiba tiba menghentikan aksinya ketika kedua tangannya dengan berani mulai masuk menelusup di dalam kaos Val . Dia tahu apa yang akan dia perbuat selanjutnya jika ia tidak menghentikannya .


" Maaf ... maaf ' Deniel mencium kening Val cukup lama , ingin kembali menetralkan hati dan logikanya .


Vallery malah menuntunnya untuk kembali duduk di sofa dan tanpa diduga dokter cantik itu malah duduk di pangkuannya .


" Jangan begini .. jangan memancingku lagi . Aku tidak bisa menjamin untuk tidak lepas kendali kali ini "


Bukannya menjauh Val malah mengendus tengkuk dan leher Deniel , sesekali dia menggigit lembut telinga pria dibawahnya .


" Arrrgghhh .. Val " Deniel menggeram panjang , sesuatu di bawah sana sudah sangat ingin keluar dari sarangnya .


Vallery menghentikan aksinya , ia menatap dalam pria yang masih ada di bawahnya . Jemari lentiknya membelai bibir yang tadi sudah membuainya dan Deniel terpejam menikmati setiap sentuhannya .


" Aku mencintaimu ... "


Mata Deniel terbuka ketika mendengar pernyataan cinta dari wanita di atasnya . Tapi sebelum ia menjawab bibir Val sudah kembali membungkamnya .


Ciuman dokter cantik itu sangat lembut , tidak ada nafsu di dalamnya . Dan Deniel sangat menikmatinya , sesekali lidah Val menerobos hanya untuk menyesap sekilas lidahnya .


Vallery tak hentinya mengatakan cinta di sela ciuman mereka . Dan itu terdengar sangat indah ... hingga Deniel melepaskan tautan bibir mereka .


" Ajari aku ... ajari aku untuk mencintaimu sayang "