
Sesudah selesai mengantar Erina dan ibunya pulang dari rumah sakit , Deniel kembali lagi ke arah rumah sakit . Val tadi menelponnya bahwa mobilnya tiba tiba mogok dan dia butuh tumpangan untuk pulang .
Vallery mengirim share lokasinya melalui ponsel pintarnya agar Deniel bisa cepat menemukannya .
" Kau sudah panggil montir ? "
Deniel bertanya pada Vallery yang masih duduk di kap mobil . Jalanan yang menuju arah rumah dokter cantik itu memang lumayan sepi .
" Sudah , aku sudah menelpon bengkel langgananku . Biasanya akan di antar ke rumah jika selesai "
Mereka segera melaju ke arah rumah Vallery karena hari sudah mulai gelap . Tak lama kemudian mereka sampai ke daerah perumahan cukup mewah . Disitulah lingkungan Vallery tinggal .
" Kau tinggal sendiri ? "
" Ada asisten yang bantuin disini , tapi pulang jam lima sore . Dia sudah berkeluarga jadi tidak bisa tinggal disini "
" Hebat , kau berani tinggal sendiri "
" Apa yang perlu aku takutkan ?? "
" Ya ... ya ... kau pasti sksn bilang kau pemegang sabuk hitam taekwondo kan !? "
Vallery hanya terkekeh mendengar kata kata Deniel itu .
" Duduklah .. akan ku buatkan kopi untukmu "
Deniel menurutinya , dia duduk sambil melihat rumah dokter cantik itu . Penataannya sangat simpel , di dominasi warna putih yang menambah kesan bersih dan rapi .
" Hei ... ini kopimu . Aku tinggal sebentar ke atas ya "
Deniel hanya mengangguk , ia tahu Val akan membersihkan dirinya dahulu . Dia membuka ponsel karena terdengar notif pesan dari dalam sakunya . Aira yang mengiriminya pesan .
Dear A : Besok kau jadi ke Bandung kan ?
Me : Jadilah .. lusa pembukaan kafe jadi banyak hal yang harus kita urus . Kau pergi bersamaku atau singa gurun itu !? "
Dear A : Tentu saja bersamanya
Me : Ajak Janu juga , aku sudah sangat rindu pada si gembul itu . Tinggal bersamanya membuatku sulit bertemu dia , menyebalkan .
Dear A. : Ok
Deniel meletakkan ponselnya ketika wangi sabun khas perempuan menguar di ruangan itu . Ia tahu pasti Vallery sudah selesai mandi dan turun menemuinya .
Deniel merebahkan kepalanya di sandaran sofa , dia memejamkan matanya .
" Kenapa matamu terpejam ? Takut tergoda padaku !? " tantang Val .
" Diamlah .. aku hanya lelah , ingin bersandar sebentar " kilah Deniel yang di iringi tawa Val .
" Kau tak bisa bohong padaku tuan Deniel "
Deniel membuka matanya , matanya terpaku pada keindahan yang ada di depan matanya . Val mengenakan kaos oversize warna hitam dengan bawahan hot pant usang hampir tidak terlihat karena tertutup kaos besar itu .
Nafasnya mulai tersengal , badannya sudah mulai berkeringat dan Deniel menyerah . Dia tak mau tergoda dan melewati batasannya .
" Kau sudah dirumah .. saatnya aku pulang !! Deniel pamit tanpa sekalipun melihat ke arah Vallery , dia segera melangkah untuk keluar .
Tiba tiba dua tangan mungil melingkar di perutnya . Deniel berusaha keras untuk tidak mengindahkannya . Dengan lembut ia mencoba melepaskan tangan itu .
" Jangan menggodaku ... "
" Kenapa ?? Jangan bilang kau takut !! "
" Aku mohon biarkan aku pergi "
" Tidak .. aku ingin kau menghadapinya , hadapi rasa itu . Aku bersamamu ... aku menyayangimu " lirih Vallery .
Vallery ingin Deniel bisa belajar mengendalikan hasratnya . Selama ini Deniel sudah mengalami kemajuan pesat .
Dia sudah sama sekali tidak menyentuh wanita hanya untuk menyalurkan hasratnya . Dia benar benar bisa menahannya walau kadang harus bersolo karir di kamar mandi .
" Ini terakhir kalinya aku peringatkan .. biarkan aku pergi . Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi " ujar Deniel mulai frustasi .
" Eeemmpptthh .. Deniel "
Deniel yang sudah tak kuasa menahan langsung membalikkan badan dan menyambar bibir Val yang beraroma strawberry mint . Dia menggila ketika Val tak menunjukkan penolakannya .
Mata Val yang terpejam terlihat begitu seksi di matanya . Nafas mereka sudah mulai tersengal , Deniel benar benar mengeksplore bibir ranum itu hingga Val terlihat sedikit kewalahan .
Deniel tiba tiba menghentikan aksinya ketika kedua tangannya dengan berani mulai masuk menelusup di dalam kaos Val . Dia tahu apa yang akan dia perbuat selanjutnya jika ia tidak menghentikannya .
" Maaf ... maaf ' Deniel mencium kening Val cukup lama , ingin kembali menetralkan hati dan logikanya .
Vallery malah menuntunnya untuk kembali duduk di sofa dan tanpa diduga dokter cantik itu malah duduk di pangkuannya .
" Jangan begini .. jangan memancingku lagi . Aku tidak bisa menjamin untuk tidak lepas kendali kali ini "
Bukannya menjauh Val malah mengendus tengkuk dan leher Deniel , sesekali dia menggigit lembut telinga pria dibawahnya .
" Arrrgghhh .. Val " Deniel menggeram panjang , sesuatu di bawah sana sudah sangat ingin keluar dari sarangnya .
Vallery menghentikan aksinya , ia menatap dalam pria yang masih ada di bawahnya . Jemari lentiknya membelai bibir yang tadi sudah membuainya dan Deniel terpejam menikmati setiap sentuhannya .
" Aku mencintaimu ... "
Mata Deniel terbuka ketika mendengar pernyataan cinta dari wanita di atasnya . Tapi sebelum ia menjawab bibir Val sudah kembali membungkamnya .
Ciuman dokter cantik itu sangat lembut , tidak ada nafsu di dalamnya . Dan Deniel sangat menikmatinya , sesekali lidah Val menerobos hanya untuk menyesap sekilas lidahnya .
Vallery tak hentinya mengatakan cinta di sela ciuman mereka . Dan itu terdengar sangat indah ... hingga Deniel melepaskan tautan bibir mereka .
" Ajari aku ... ajari aku untuk mencintaimu sayang "