Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
158


" Mas jadikan kita ke apartemen Jerry buat kenalan sama Cherry dan baby sitternya ? Sekalian mampir ke apartemen kita ya , ada barang yang harus aku ambil di sana " Air sudah terlihat antusias untuk melihat gadis kecil yang ia tahu adalah putri dari Narra , mantan madunya .


Dari dulu dia memang suka anak kecil , apalagi ia mendengar cerita dari Bumi bahwa Cherry adalah gadis kecil yang sangat cantik . Dia menjadi ingin mengenal gadis kecil yang disayangi oleh suaminya itu hingga sampai saat ini .


" Dede mana ? lkut sama kita kan !? " tanya Bumi yang tak melihat putranya di kamarnya .


" Nggak boleh di bawa keluar keluar dulu sama Papa , mereka lagi lihat ikan di taman samping . Kadang aku kok nggak habis pikir sama Papa Alfian . Memang nggak capek ya main sama Dede ? Padahal Dede kalau udah lagi titah titah ( belajar jalan ) nggak mau berhenti "


" Ya namanya saja sayang , apalagi Dede kan cucu laki laki pertama di keluarga ini "


" Mas ... "


" Ya sayang " Bumi menghampiri sang istri yang sore ini terlihat sangat cantik mengenakan dress panjang tanpa lengan berwarna merah muda .


" Kalau anak kita perempuan bagaimana !? "


Bumi mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari wanita yang paling ia cintai di depannya .


" Terus kenapa kalau perempuan ? Bukannya bagus , lengkap anak anak kita . Putra pertama kita laki laki dan anak kedua kita perempuan "


" Mas nggak apa apa kalau anak kita perempuan !? "


" Pertanyaan kamu aneh sayang , aku tidak pernah mempermasalahkan apapun itu . Yang penting kamu dan si kecil sehat "


Air memeluk suaminya erat , ia menghirup aroma sang suami yang selalu bisa menenangkan hatinya .


" Sayang jangan kenceng kenceng meluknya , nggak karu karuan rasanya " lirih Bumi yang mulai tersulut jiwa laki lakinya .


Bagaimana tidak jika sang istri sedang menelusuri dada bidangnya dengan kecupan kecupan kecil . Bumi berusaha sekuat tenaga untuk tidak menerkam wanita halalnya itu .


" Mas ... "


" Apa sayang .. " Bumi menahan segala rasa dengan membelai punggung istrinya .


" Mas nggak kangen !? "


" Banget !! Sumpah Mas kangen banget sama kamu sayang ... Mas cuma nggak mau menyakiti ini " Bumi membelai lembut perut yang terlihat mulai padat itu .


Aira meraih bibir suaminya dengan sebuah *****"*n yang membuat seluruh tubuh Bumi bergetar . Entah kenapa tapi tiba tiba saja Air ingin sekali di manja oleh suaminya . Dia rindu setiap sentuhan suaminya yang selalu membuatnya melayang .


" Sayang .... "


Dengan nakalnya Air mulai membuat satu persatu jejak cintanya di leher dan dada suaminya hingga pria itu menggeram pelan .


" Kangen " bisik Air di telinga suaminya .


Dan runtuhlah pertahanan yang tadinya sudah benar benar dijaga oleh Bumi selama kurang lebih sepuluh hari ini . Pria itu mulai membalas setiap sentuhan sang istri .


Bumi benar benar menikmati saat ini , saat sang istri terlihat sangat menginginkannya . Dia menurut ketika Air mendorongnya pelan hingga duduk di atas sofa .


" Arrrgghhh ... " Bumi tak bisa mengendalikan dirinya ketika tanpa di duga sang istri mulai mengulum miliknya dan bermain di bawah sana .


Sesekali ia memekik ketika dengan nakalnya bibir mungil itu menghisapnya dengan kuat .


" Sayaaaanngg ... " suaranya memelas ketika Air malah menghentikan aksinya ketika ia sudah akan mencapai puncaknya .


Tapi sepertinya aksi itu berlanjut dengan aksi yang akan membuatnya lebih tak berdaya lagi . Sang istri naik ke sofa dan duduk di atasnya , Air menempatkan area bawah yang sudah tegak menjulang itu tepat dibawah miliknya . Dan ....


" Arrrgghhh .. kau nakal sayang "


Bumi memejamkan matanya merasakan semua sensasi luar biasa ini . Sang istri sedang bergerak pelan di atasnya , terlalu pelan hingga dua tangannya meraih pinggang ramping itu untuk ikut membantu menaik turunkan tubuh sang istri yang mulai tampak berisi .


" Maaassss ... eughhhh !! "


" Sama sama sayang ... "


Akhirnya mereka mencapai puncak bersama walau permainan kali ini dimainkan dengan tempo yang lambat Walau begitu keduanya tampak sangat puas . Air masih memeluk tubuh sang suami tanpa melepas penyatuan di bawah sana .


" Terimakasih ... Mas sayang sama kamu . Kamu mau istirahat apa Mas gendong ke kamar mandi "


" Lagi ... aku mau lagi "


" Tapi .... "


" Aku masih kangen sama Mas , kita lakukan pelan pelan sekali lagi ya ... "


Bumi tak bisa menolak karena sebenarnya ia pun tak akan pernah cukup jika hanya satu kali . Permainan tempo lambat ini menjadi sensasi tersendiri untuknya .


Kali ini dia membiarkan sang istri yang memegang kendali penuh atas dirinya , dia menyerahkan jiwa dan raga untuk memuaskan hasrat istrinya .


*


Sementara itu Jerry sedang menggerutu karena teleponnya tidak juga di angkat oleh Bumi . Dari tadi Cherry sudah menanyakan kedatangan nya yang kemarin sudah ia janjikan pada gadis kecil itu .


" Kak Jerry mau Nayya bikinin kopi !? "


Jerry meletakkan ponselnya , ia menoleh ke asal suara merdu itu . Pandangannya terpaku ketika melihat bidadari di depannya . Dengan mengenakan dress rumahan panjang berwarna putih dengan rambut yang tergerai setengah basah .


Dia seperti kembali melihat seseorang dari masa lalu yang sangat ia rindukan .


" Kak .... mau dibikinin kopi !? " Nayya mendekat karena mengira Jerry tidak mendengar kata katanya .


" Kau ... "