
" Kok makanannya banyak banget sih Kak ! Mau ada tamu ya ?? " tanya Dewa pada Diva yang sedang menata makanan di meja makan .
" Temen Kak Diva , kamu juga kenal kok "
" Kenal ? Masa sih ? "
" Mas Adam mana Wa ?? "
"' Lagi di ruang gym sama Gema , lagi gebukin samsak " kata Dewa yang ternyata juga masih menggunakan celana pendek dan kaos oblongnya . Dia juga masih terlihat mandi keringat .
" Oooo .... "
Adam berlalu tapi berhitung dalam hatinya satu ... dua .. tiga ...
" Apa Wa !!! "
Dewa hanya menunjukkan deretan giginya yang putih dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal . Dia lupa jika tadi dia sudah diwanti wanti untuk tidak mengatakan bahwa ayah dan anak itu sedang belajar tinju .
Diva bergegas menuju ruang gym untuk melihat dua laki laki dalam hidupnya itu . Dan benar saja ia bisa melihat Adam sedang mengajari Gema untuk menakhlukkan samsak tinju .
" Mass !! " pekik Diva segera menghampiri dua orang ayah anak itu .
" Ya Tuhan ... Gema kamu ajarin berantem Mas !!? "
" Siapa bilang , tadi Gema yang minta ayah ajari mukul samsak ! Gema ingin jadi pria kuat kayak ayah , jadi jangan salahin ayah Adam " kilah Gema membela Adam .
" lbu sedang bicara pada ayahmu sayang " kata Diva memperingatkan putranya .
Adam mengambil dua handuk bersih dan satu diberikan pada putranya .
" Kami hanya sedang olah raga malam sayang , tunggu giliran jika kau juga ingin berolah raga denganku sayang "
" Kita ada janji makan malam dengan Asti , masa kalian malah keringetan lagi sih ! Padahal. sore udah pada mandi "
" Maaf aku lupa sayang , jika dia datang minta Dewa yang menemani terlebih dahulu . Sepertinya kita harus segera mandi lagi boy !! Pastikan keringatmu kering sebelum membasuh tubuhmu dengan air "
" Iya ayah ... "
Gema berlari menuju kamarnya sendiri , walau masih berumur tujuh tahun tapi dia sudah terbiasa untuk melakukan semua sendiri . Diva selalu mengajari putranya untuk hidup mandiri .
Begitupun Adam dan Diva yang menuju kamar mereka , sejak menikah Diva yang mengurus setiap kebutuhan Adam termasuk pakaiannya .
Dewa yang terlihat sudah rapi terlihat sedang menonton televisi di ruang tengah . Dewa mengijinkan tamunya untuk masuk ke dalam mansion ketika seorang pelayan mengatakan ada seorang wanita yang mengaku teman nyonya mereka ada di depan pintu .
Mata Dewa mengernyit ketika melihat gadis ayu terlihat berjalan ke arahnya .
" Astika ... " lirihnya .
" Hai ... " gadis itu menyapa Dewa yang masih tertegun menatapnya .
" Hai ....Astika ?? "
Gadis itu mengangguk dan tersenyum , dua tahu Dewa pasti tidak menyangka mereka akan bertemu kembali di rumah ini .
" Senang bertemu Anda di sini Pak Dewa "
" Baik .. "
Dewa mempersilahkan Astika untuk duduk di sofa bersamanya , dia mengatakan Diva , Adam dan Gema sedang membersihkan diri karena nge gym tadi sore .
Untuk mengisi waktu mereka berbicara tentang dunia pendidikan yang di geluti oleh Astika . Adam benar benar kagum atas kepedulian wanita itu pada masyarakat kaum bawah .
" Kenapa kau lebih tertarik pada mereka ? Bukankah kau sudah mempunyai sekolah khusus kaum elite ?! "
" Aku hanya ingin memberi kesempatan pada anak anak yang kurang beruntung itu untuk mengenyam pendidikan yang sama dengan anak anak yang lain "
Percakapan mereka terdengar lebih akrab karena tidak lagi menggunakan bahasa formal seperti saat mereka pertama kali bertemu .
" Kudengar kau juga punya perusahaan ? "
" Pengolahan limbah , dan aku menggunakan tenaga mereka mereka yang putus sekolah ataupun yang benar benar tidak pernah mengenyam sekolah sebelumnya "
" Kau brilian !! Selain bisa membantu mereka kau juga membuat lingkungan menjadi lebih baik . Menjadikan tumpukan sampah menjadi tumpukan uang !! "
Astika tertawa mendengarnya , dan Dewa suka jika melihat wanita di depannya tertawa lepas seperti itu .
" Hai As !! Maaf jika kami terlalu lama turun . Kau sudah lama berada disini !? "
Tawa Astika berhenti ketika mendengar suara sahabatnya yang sepertinya sedang turun dari tangga dengan sang suami di belakangnya .
" Tidak apa apa Div , tidak terasa kok karena aku mendapat teman ngobrol yang tampan seperti dia "
" Terima kasih atas pujianmu , kaupun begitu cantik "
Diva melihat ke arah suaminya dan Adam yang tahu arti pandangan sang istri hanya menanggapinya dengan senyum .
" Kalian sepertinya bisa menjadi pasangan yang cocok " goda Diva .
" Ha .. ha aku lebih tua dua tahun darinya , aku mungkin lebih cocok untuk menjadi kakaknya " kata Astika sambil berjalan menuju ke arah meja makan , mengikuti langkah Diva dan suaminya .
" Masalah hati tidak bisa di kait kaitkan dengan umur . Aku menyukaimu dari awal kita bertemu " timpal Dewa yang saat ini masih duduk diruang televisi .
Astika membalikkan badannya ke arah Dewa sambil tersenyum .
" Aku juga menyukaimu , kau teman bicara yang sangat menyenangkan . Jangan terlalu mudah untuk mengatakan suka , biasanya jika terlalu mudah menyukai orang akan mudah juga membenci "
Diva yang mendengar sedikit adu argumen itu kemudian mendekati mereka .
" Sebaiknya kita makan dulu agar kalian bisa lebih kuat untuk meneruskan adu mulut kalian "
" Kita akan buktikan itu !! ljinkan aku mengejarmu .... Ralat ! Mau tidak mau aku akan mrngejarmu . Dan aku pastikan kau tidak akan bisa lari dariku"
Astika berdiri mematung mendengar kata kata yang baru saja keluar dari mulut seorang pria tampan yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu .
Disampingnya Diva sedang memijit keningnya sendiri , dia tak habis pikir kenapa bungsu Adipraja yang terkenal kalem dan polos ini sama persis suaminya ketika sedang menyatakan keinginannya . Memaksa !!
Dan Adam yang sudah duduk di meja makan dengan putranya hanya mengacungkan dua jempolnya sambil terkekeh .