Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
75


" Gue kan udah bilang nggak usah kesini , gue baik baik saja !! Lupa elo kalau gue itu dokter ? "


Val menggerutu karena pria di depannya bersikeras untuk membawanya ke rumah sakit ini untuk diperiksa . Dan benar saja , dokter yang memeriksanya bilang kondisinya baik . Mungkin hanya sedikit mengalami shock karena kaget tadi .


" Dokter juga manusia , bisa aja mereka sakit ! Salah elo sendiri kenapa pas gue nanya malah elo bilang lagi enggak baik baik saja "


Mereka terus saja bertengkar sejak menginjakkan kaki ke rumah sakit . Deniel yang panik melihat wajah pucat Vallery tadi langsung membawa dokter cantik itu ke rumah sakit untuk diperiksa .


" Pulang sana , gue sebentar lagi tugas "


" Tugas apa !? "


" Ckk .. mau kerja gue !! "


" Ya udah gue anter ketimbang elo ada apa apa dijalan nanti "


" Ngapain di anter , lima langkah juga udah nyampe . Tuhh ruangan gue " tunjuk Val ke arah ruangan yang berisikan namanya di pintu masuknya .


Deniel mengikuti arah yang di tunjuk Vallery , dahinya berkerut melihat sebuah papan bertuliskan nama gadis disampingnya .


" Jadi elo kerja disini ? "


" He em "


" Beneran bisa gue tinggal ? Takutnya ntar elo jadi kangen sama gue "


" Najis .. "


Val menyembunyikan raut merahnya dengan cepat cepat pergi ke arah ruangannya . Tapi sebelum Val sampai tiba tiba Deniel berteriak memanggilnya .


" Dokter Val !!! "


Vallery menoleh ke arah Deniel yang sedang berdiri di koridor , jarak mereka memang belum terlalu jauh hingga ia bisa jelas mendengar suaranya .


" l love you too .. "


" Kau !!! "


Betapa kaget dan malunya Vallery yang mendengar kata kata Deniel barusan . Beberapa orang yang kebetulan sedang lewat tak bisa menyembunyikan. senyum dan tawa mereka .


" Gue hanya bales pernyataan elo tadi . Lain kali jangan berbisik !! Nggak jelas gue dengernya "


Setelah berkata seperti itu Deniel langsung berjalan ke arah pintu keluar rumah sakit . Dia tahu saat ini pasti Vallery sedang mengumpat habis habisan dirinya .


Dia tak sengaja mendengar bisikan lirih gadis yang tadi dibopongnya . Tak dia pungkiri jika dia bahagia karena semakin hari ia juga semakin menyukai dokter cantik itu .


Harinya lebih berwarna ketika berada di dekat gadis itu . Tapi ia tak berani untuk menikmati rasa itu . Vallery gadis baik , seorang dokter dan mempunyai rasa empati yang tinggi pada semua orang .


Tak berapa lama ia melihat seorang laki laki memasuki sebuah kamar pasien . Dan ia tahu benar siapa orang itu , Varo !!!


Dalam hati ia bertanya tanya siapa yang sedang sakit karena setahunya kedua orang tua Varo masih berada di luar negeri . Dia menghampiri kamar yang tadi di masuki oleh sepupunya itu .


TOKK ... TOKKK


Deniel terkejut ketika yang membukakan pintu adalah seorang gadis belia yang sangat manis . Dari mukanya Deniel tahu usia gadis itu baru belasan tahun , mungkin masih sekolah .


Deniel tersenyum melihat dahi gadis itu berkerut karena mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya .


" Hai .. aku Deniel , maaf jika sudah mengganggumu . Tapi aku seperti melihat sepupuku masuk ke kamar ini " katanya mencoba berbasa basi .


" Tidak ada !! Hanya aku di sini " jawab gadis itu sedikit ketus , sepertinya dia tidak suka dengan keberadaan orang asing seperti dirinya .


" Dennis Alvaro ... apa dia disini ? "


Dan sepertinya pertanyaannya tidak memerlukan jawaban karena sepupunya muncul dari belakang gadis itu .


" Elo ??? Ngapain elo disini !? " tanya Varo yang melihat Deniel berdiri di depan pintu ruangan itu .


" Gue yang harusnya nanya , ngapain elo di sini ? Sama cewek cakep lagi " jawab Deniel yang melihat gadis itu kembali masuk ke dalam kamar tanpa melihatnya sama sekali .


" Bukan urusan elo ... "


Varo sepertinya ingin menghajar Deniel saat itu juga ketika Deniel merangsek masuk ke kamar . Dia tahu adik sepupunya itu pasti sangat ingin tahu dengan siapa saja ia di kamar itu .


Sejenak mata Deniel terpaku ketika melihat seorang wanita parubaya yang terbaring di ranjang . Dan gadis tadi sedang duduk di kursi menunggunya .


Ada beberapa alat yang masih menempel di tubuh wanita itu , Deniel yakin wanita itu menderita penyakit yang cukup serius .


" Erin itu ada tamu ... " suara wanita itu sangat lemah .


" Ini adik sepupu Varo Bu , namanya Deniel " Varo mencoba memecah kekakuan karena ia tahu Erin tidak suka dengan kehadiran Deniel .


Deniel mendekat karena merasa simpati dengan wanita itu .


" Ibu ... saya Deniel , maaf jika kehadiran saya mengganggu istirahat ibu "


" Tidak , kau sangat sopan . Kau dan nak Varo sama sama baik . Ibu senang suatu saat Erin punya adik sepupu sepertimu , setidaknya dia ada di lingkungan orang orang yang baik "


Deniel menoleh ke arah Varo , dan melalui gerakannya dia bertanya apa maksud kata kata wanita itu . Varo menganggukkan kepalanya seolah berkata nanti dia akan menjelaskannya semuanya .


" Kami akan menikah ... jika itu bisa menjawab pertanyaan yang ada di kepalamu " gadis manis yang duduk di depannya itu berkata tanpa ekspresi dan tanpa menoleh kepadanya .