Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
135


Malam itu Alfian dan Rita memenuhi undangan makan malam dari seseorang di sebuah restoran mewah yang ada di tengah kota . Seperti biasa Janu akan selalu menemani momen kakek dan neneknya tentu saja dengan pengawalan ketat .


Alfian dan Rita disambut hangat oleh sepasang suami istri dan seorang pria muda yang sangat tampan . Mereka memang belum saling mengenal dengan baik tapi masing masing tahu bahwa keduanya adalah pengusaha yang sangat berpengaruh .


" Tuan Alfian terimakasih sudah datang memenuhi undangan kami "


" Jangan sungkan , saya senang bisa bertemu dengan pengusaha besar seperti anda tuan Barnett "


Dua keluarga itu duduk ditempat yang sudah disediakan . Walau belum mengenal dengan baik suasana tampak hangat .


" lni istri saya Hestianne Love Brown dan ini putra sulung saya Kevin Brown "


Rita dan Hesti langsung bisa akrab apalagi ada Janu ditengah tengah mereka .


" Apa ini putra dari wanita hebat itu !? "


Barnett bertanya dengan menatap ke arah bayi gembul yang sedang dipangku oleh istrinya . Hesti senang sekali bermain dengan Janu .


" Ya , dia cucu pertama kami Janu Kamma Adipraja "


" Terimakasih karena menantu anda , putra bungsu kami bisa berjalan di jalan yang seharusnya . Kurasa anda juga sudah tahu ceritanya tuan Alfian "


" Saya cuma tidak menyangka pemuda itu adalah putra dari pengusaha hebat seperti anda tuan Brown "


Barnett hanya tersenyum sekaligus menghela nafasnya panjang . Dia malah belum menemui putra bungsunya , karena rencananya baru besok mereka akan datang ke apartemen Deniel saat hari ulang tahunnya .


" Anda juga seorang ayah , saya kira anda paham dengan apa yang sudah saya lakukan demi putra saya "


Alfian hanya mengangguk , Barnett pasti sudah melindungi identitas Deniel serapi mungkin untuk melindungi putra bungsunya itu dari segala macam ancaman .


Pengusaha hebat seperti mereka pasti punya saingan bisnis yang ingin menghancurkan mereka dengan segala cara , termasuk mengancam keselamatan keluarga mereka .


" Saya juga minta maaf tentang kelakuan putra dari salah seorang kepercayaan saya . Saya yakin dia sangat menyesali hal yang sudah terjadi "


" Tuan Alex sama seperti.kita , dia hanya akan melakukan yang terbaik untuk putranya "


Setelah makan malam mereka tidak bisa berbincang terlalu lama karena bayi gembul di gendongan Alfian sudah mulai rewel ingin segera tidur .


Alfian dan istrinya mengucapkan terimakasih dan segera pamit pulang .


" Mereka siapa sih Pah ? Kok Mama belum pernah lihat mereka "


" Mereka adalah keluarga Brown , pengusaha paling berpengaruh di daratan Asia . Mereka kesini karena ingin berkunjung pada putra mereka "


" Oooo ... pantes Mana kayak baru pertama lihat , sini Pah biar Janu sama Mama saja ! Tangan Papa pasti pegel dari tadi gendong dia , badan tambah bulat gitu tiap harinya "


" Biar sama Papa saja , nanti kalau dipindah pasti malah nangis dia " jawab Alfian sambil mencium kepala cucu kesayangannya .


*


Paginya seperti biasa Air akan membantu mamanya untuk menyiapkan makan pagi di dapur . Mereka membuat nasi goreng kampung untuk menunya . Bumi biasanya sangat suka dengan menu itu .


" Dede masih tidur Mah ? "


" Pules banget dia kalau bobo sama kakeknya , udah biarkan saja . Suami kamu tumben belom turun ? biasanya ngopi dulu sambil baca koran di taman samping "


" Iya nih , coba Air lihat dulu Mah di kamar "


Air bergegas ke atas untuk melihat suaminya , ia begitu terkejut ketika Bumi masih saja pulas di ranjangnya .


Tidak biasanya Bumi begini , jika pagi dia akan menyempatkan diri untuk olah raga setelah itu biasanya ia akan minum kopi sambil membaca koran di taman samping .


" Mas ... bangun sayang "


Air meraba dahi suaminya tapi sepertinya sang suami tidak demam dan dengan manjanya dua tangan kekar itu malah kembali melingkari perutnya .


" Turun sarapan dulu yuk Mas "


" Peluk dulu , Mas masih kangen ... "


Air mencubit gemas lengan suaminya yang pagi ini terlihat sangat manja . Bukannya menjauh Bumi malah merebahkan kepalanya diatas perut istrinya .


Setelah melalui drama lumayan panjang Air akhirnya bisa membujuk sang suami untuk mandi dan turun ke bawah untuk sarapan .


Dimeja makan sudah terlihat Rita dan Janu yang berada di pangkuan Alfian . Rita tampak menyuapi Janu bubur tim yang tadi sempat dibuat oleh Air .


" Dede ... "


Tapi langkahnya terhenti ketika melihat tatapan Alfian yang seakan melarangnya untuk mendekat . Janu sedang dalam mood menikmati makan paginya . Kejahilan Bumi sering membuat Janu kesal dan pasti tidak akan mau makan lagi .


" Apa sih Pah !! Masa nggak boleh cium anak sendiri "


" Nanti setelah dia menyelesaikan makannya , lagian habis cium biasanya kamu akan gigit pipinya sampai dia nangis "


Bumi hanya terkekeh ketika mendengarnya , ia memang selalu gemas dengan pipi bulat putranya .


Air menyendok nadi goreng ke piring sang suami dan meletakkan segelas air putih di depannya .


Air sedikit heran ketika Bumi hanya menatap makanan di depannya , dia seperti menahan sesuatu . Padahal biasanya dia akan langsung menyantap nasi goreng dipiringnya hingga habis tak bersisa .


" Massss !!! " pekik Air ketika melihat suaminya berlari ke arah toilet yang berada di samping dapur .


HOEKKK ... HOEEKKK