
" Eeuugghh ... Maaassss "
Bumi menggila ! Bumi terus memacu istrinya dari belakang , sudah berbagai gaya mereka lakukan malam itu . Mereka curahkan setiap kerinduan yang mereka tahan selama beberapa minggu ini .
Nafas mereka sama sama memburu dengan keringat yang sudah membanjiri badan mereka .
" Sayaaaannnggg ... !! "
Bumi mempercepat gerakannya ketika ia merasa sudah akan sampai pada puncaknya dan untuk yang yang kesekian kali akhirnya mereka mereguk kenikmatan bersama sama .
" Terimakasih sayang ... terimakasih . Mas sangat mencintaimu "
" Air juga sayang sama Mas "
Bumi menciumi punggung sang istri yang terkulai di depannya , ia tahu Air pasti sangat lelah meladeni kegilaannya malam ini .
" Sayang ... mandi dulu yuk " bisik Bumi yang melihat air mulai memejamkan matanya .
" Ngantuk ... " rengek Air , ia terlalu lelah untuk sekedar berjalan ke kamar mandi . Malam ini suaminya benar benar telah menguras tenaganya .
" Tapi nggak nyaman kalau bobok dengan badan seperti ini . Mas mandiin ya ... "
Air hanya mengangguk pasrah , bagaimanapun tidur dengan badan yang terasa lengket memang tidak begitu nyaman . Bumi menggendong sang istri yang masih setengah terpejam . Sesekali dia menciumi wajah Air dengan gemas .
Kaki ini Bumi benar benar hanya memandikannya walau lekuk tubuh itu kembali menggelitik hasratnya . Setelah selesai ia kembali membopong tubuh istrinya yang kemudian akan dipakaikan piyama tidurnya .
Bumi terkekeh melihat Air yang sudah kembali terlelap bahkan sebelum ia sempat memakaikan baju pada istrinya . Perlahan ia tutup tubuh polos itu menggunakan selimut , dan ia matikan pendingin ruangan karena suhu di villa itu lumayan sudah dingin dini hari ini .
Bumi ikut berbaring di samping istrinya , dipeluknya tubuh yang masih polos itu dan tak lama mereka sudah terbuai dengan alam mimpi masing masing .
Air bangun karena indera penciumannya mencium bau gosong yang sangat menyengat . Refleks ia bangkit memakai bathrobe nya dan segera lari ke bawah , ia khawatir terjadi apa apa pada suaminya karena ketika bangun tadi Bumi sudah tidak ada di sisinya .
" Masss .. !!! " pekiknya ketika melihat dapur sudah seperti medan pertempuran .
Air melihat Bumi yang hanya mengenakan celana training panjang sedang memegang spatula di depan sebuah wajan yang sudah gosong .
Bumi menggaruk tengkuknya dan mencoba tersenyum ketika Air berjalan ke arahnya . Tadi ia berniat menjadi laki laki romantis yang menyiapkan sarapan untuk istrinya . Tapi entah kenapa wajan itu menjadi monster mengerikan yang membuat semua bahan yang ia masukkan menjadi hitam .
" Sayang ... udah bangun "
Bumi meletakkan spatulanya dan segera menghampiri istrinya . Dikecupnya kening sang istri dengan membisikkan kata cintanya yang dibalas sebuah kecupan singkat di bibir oleh istrinya .
" Mas lagi ngapain ? Habis perang ? " ejek Air , ia tahu suaminya tak pernah memegang alat dapur karena selalu mendapat fasilitas mewah dari ia kecil .
Tapi ia bahagia sang suami sudah begitu berusaha membuatnya senang dengan berusaha menyiapkan sarapan untuknya .
" Niatnya bikin nasi goreng sayang ... tapi sepertinya penggorengannya kualitasnya tidak bagus , masa semua jadi hitam dengan sekejap mata "
Air tertawa dan kembali memeluk suaminya , ia merasa di cintai ketika merebahkan kepalanya di dada suaminya .
" Mas duduk aja , biar Air yang bikin sarapan "
Air mengambil beberapa helai roti tawar dan menaruhnya di alat pemanggang , dia membuat roti bakar agar lebih menghemat waktu karena pagi ini ia akan bertemu dengan Varo untuk membahas kelanjutan bisnis mereka .
Selesai makan Air berniat untuk membereskan kekacauan yang di buat suaminya terlebih dahulu .
" Mas mandi duluan saja sana , Air mau bersih bersih dulu ... ini dapur sudah seperti kapal perang "
" Tapi pengen mandi bareng ... "
" Yang ada nanti bukan mandi bareng , tapi bikin keringat bareng lagi ... Awww Masss !!! "
Suaminya tiba tiba membopongnya dan berjalan ke atas menuju kamarnya .
" Biar dibersihkan sama Pak Mamat , tugas kamu pagi ini mandiin aku "
Setelah melalui drama panjang dan Air yang marah marah karena durasi mandi mereka menjadi lebih panjang , tentu saja karena sang suami yang menyelipkan adegan panas di sela kegiatan mandi mereka .
Akhirnya mereka selesai dsn segera bersiap menuju bangunan yang kemarin sempat mereka lihat karena Varo dan staffnya sudah menunggu mereka disana .
" Mas Varo maaf ya jadi nunggu lama " kata Air setibanya disana .
Varo dan beberapa staffnya sudah menunggu mereka di sebuah meja besar yang mungkin sudah disiapkan oleh penjaga malam yang dipekerjakan oleh Deniel .
" Tidak apa apa "
Varo menatap sebal Bumi yang masih saja merengkuh pinggang istrinya posesif walau mereka ada di depannya dan para staffnya .
Ketika diskusi berlangsung pun Bumi dengan setia menunggu istrinya dengan tetap duduk di sampingnya . Bumi tak memberikan kesempatan pada laki laki manapun terutama Varo untuk cari perhatian pada istrinya . Jangan kan bicara , Bumi akan menatap tajam siapapun diruangan itu yang berani mencuri pandang pada sang istri .
" Ya Tuhan Air ... besok besok kalau meeting sebaiknya kau tinggalkan pawangmu dirumah saja ... demi apapun menyebalkan sekali sikapnya " gerutu Varo yang masih bisa di dengar oleh Bumi .
" Dia milikku ... "