Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
12


Sudah dua malam Bumi tidak pulang ke apartemen membuat Narra sedikit kebingungan . Stok makanan di lemari pendingin juga sudah mulai habis . la berencana keluar apartemen siang ini untuk mencari makanan .


Pagi tadi ada seorang wanita muda dari jasa pelayanan kebersihan masuk ke apartemen . Bumi rupanya memakai jasanya untuk bersih bersih seminggu sekali . Narra lega karena hal itu sangat membantunya .


Apalagi ia memang tidak bisa membersihkan area lantai atas karena Bumi sudah melarangnya . Pria itu melarangnya menyentuh apapun miliknya .


Disatu sisi ia merasa lega dengan sikap Bumi yang menjaga jarak dengannya , karena jujur dia belum siap jika harus melayani kebutuhan biologis suaminya . Hatinya masih terlalu mencintai Reynand .


Tapi disisi lain ia juga merasa sedih , angan angan untuk membentuk keluarga kecil bahagia musnah begitu saja . Bumi bahkan tidak bisa menjadi imam untuknya ataupun Janu putranya .


Air terkejut saat Bumi muncul di depannya , pria itu sama sekali tidak menyapanya . Bumi langsung melangkahkan kakinya ke lantai atas dan ketika turun pria itu sudah menenteng beberapa setelan jas ditangannya . Jelas bahwa Bumi berniat tidak pulang lagi untuk beberapa hari ke depan .


" Mas ... "


Suara Air menghentikan langkah Bumi , hanya berhenti melangkah tapi sama sekali tidak menoleh .


" Boleh aku bicara sebentar ? "


Suara lembut penuh kesabaran itu sedikit menggetarkan hati Bumi , baru sekali ini Bumi mendengar suara Air karena wanita itu selalu diam menghadapi kemarahannya tempo hari . Entah ... tapi hati Bumi tenang mendengar kelembutan suara Air .


Tapi hanya sekejap , dia teringat lagi dengan bayangan bayangan buruk tentang istrinya . Bumi bisa mendengar langkah Air yang mendekat padanya .


" Sebenarnya aku ingin sekali kita duduk dan membicarskan semua , tapi sepertinya mas sangat sibuk ... "


" Jangan bertele tele !! "


Air menghela nafas mendengar suara ketus Bumi . Sepertinya dia harus benar benar bisa bersabar untuk menghadapi watak suaminya yang keras dan arogan .


" Kita sudah menikah Mas ... jika ada sesuatu pada diriku ataupun putraku yang tidak berkenan di hati Mas Bumi , Mas bisa bertanya padaku . Kita bicarakan semua . Aku tahu aku bukan perempuan sempurna untukmu ! Tapi jangan begini .. "


" Persetan !!! Memangnya apa yang harus aku ketahui tentang wanita kotor sepertimu hah ! Kau bahkan tak layak untuk menjadi istri siapa pun "


" Kotor !? Apa yang sudah aku lakukan hingga Mas Bumi menyebutku kotor ? "


" Cihh wanita tidak tahu malu !! Tak seharusnya papa dan mama memungut jala*ng sepertimu " geram Bumi pelan .


Setelah berkata seperti itu Bumi melangkahkan kakinya keluar dari apartemen . Air menghapus air mata disudut matanya , mencoba menguatkan dirinya kembali .


Melihat sikap Bumi yang tak peduli padanya dsn Janu sepertinya ia memang harus berjuang hidup sendiri di apartemen ini . Ibu dan adiknya tidak boleh tahu dengan keadaannya sekarang . Mengeluh juga bukan solusi , Air harus berpikir dengan cepat karena ia tidak hidup sendiri melainkan bersama Janu .


BRAKK ...


Bumi membanting pintu saat menutup pintu membuat Janu yang sedang tertidur menangis karena kaget .


" Ya Allah ... sayang cup cup , papa Bumi lagi buru buru sayang . Maaf ya .. Janu bobok lagi ya , nanti siang jalan jalan mau !? "


" Anak mama pintar ya ... " Air menciumi gemas pipi chubby putranya .


Siang itu Air keluar berbelanja untuk membeli kebutuhan sehari hari di supermarket yang berada tak jauh dari apartemennya . Air menggendong Janu karena stroller yang biasa dia pakai masih berada dirumah ibunya .


Air mengambil bahan bahan makanan untuk mengisi lemarinya . Sebisa mungkin ia berhemat sebelum dia memastikan mempunyai pekerjaan yang bisa menghasilkan .


Tanpa ia ketahui kecantikan wajahnya telah mencuri perhatian seorang laki laki . Laki laki itu diam diam terus memperhatikannya . Penampilannya yang sederhana malah terlihat menonjol dari pengunjung lain yang rata rata berdandan berlebihan .


Tapi laki laki itu tak berani mendekatinya karena sepertinya ia tahu diri karena wanita yang ia perhatikan sudah mempunyai bayi , yang artinya wanita itu pasti sudah bersuami .


Laki laki itu mendekat ketika melihat Air yang sudah di meja kasir kerepotan mencari sesuatu di tasnya .


" Maaf ada yang bisa saya bantu ? " dengan ramah ia berbicara pada Air .


Wanita itu hanya memandangnya sesaat , tapi tatapan sekilas itu mampu melelehkan hatinya . Raut panik jelas tergambar di wajah cantik itu . Seorang kasir yang tampak mengenalnya angkat bicara .


" Sepertinya ibu ini tidak membawa uang untuk membayar belanjaannya pak "


" Maaf , tapi sepertinya dompet saya ketinggalan . Boleh saya pulang mencarinya dulu ? Tapi tolong keranjang belanjaan saya titip disini dulu , saya repot kalau harus milih milih lagi " Air merasa bersalah sekaligus malu , tadi mungkin karena terburu buru ia jadi melupakan dompetnya .


Laki laki itu kemudian berbicara karena kasihan kepada Air yang terlihat malu dan panik .


" lbu tinggal dimana ? "


" Saya tinggal di apartemen sebelah kok , ngga lama kalau saya ambil dompet "


" Ya sudah , saya manager disini ... "


" Pak ... "


Kasir itu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tangan laki laki itu terangkat hingga sang kasir terdiam .


" Ibu bisa bawa belanjaan ini dulu , saya yang akan menjaminnya . Repot kalau ibu harus bolak balik , kasihan anak ibu "


" Tapi ... "


" Ibu bisa memberi nomer ponsel ibu pada saya , jadi jika ibu tidak kemari membayarnya saya langsung bisa menghubungi anda . Bagaimana ? " laki laki itu tersenyum , ia geli pada dirinya sendiri yang dengan licik meminta nomor dari wanita itu .


" Ehhmm .. baik ini nomor saya "


" Saya Alvaro .. panggil saya Varo "


" Saya Aira .. panggil saya Air . Terimakasih atas pertolongan anda "