
" Sampai akhirnya dia kembali diminta untuk berkorban untuk kebahagiaan orang tuamu . Orang yang dulu memisahkan cintanya karena merasa kami bukan orang sederajat dengan kalian !! Dan kau bisa lihat apa yang di dapat kakakku ketika dia menikahimu ?! Luka ... air mata ... Dan dengan mudahnya kau hanya ingin minta maaf padanya ? Nyawamu pun tak akan sanggup mengganti rasa sakitnya , rasa sakit kami " teriak Dewa dengan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya .
Bumi masih diam karena untuk menjelaskan pun percuma saja , Dewa masih dikuasai amarahnya .
" Satu lagi , suruh orang orangmu pergi dari sekitar rumahku . Kami bukan buronan yang harus diawasi "
Setelah berkata seperti itu Dewa melangkah pergi mengambil motornya . Dia meninggalkan Bumi dan Deniel di tempat itu . Deniel yang masih duduk diatas mobil kemudian turun .
Visual Dewa
" Mau kita lanjutkan yang tadi tuan Bumi ? " tanya Deniel berjongkok di depan Bumi .
" Apa kau tahu kaulah penyebab semua ini !! Kau dan Narra yang menjadi penyebab semua ini . Kalian yang menyebabkan aku menjadi salah paham terhadap istriku sendiri "
Deniel terkekeh dan kemudian ikut duduk di atas aspal bersama Bumi .
" Kau salahkan aku untuk setiap kebodohanmu ? Ha .. ha ... itu lucu sekali . Aku seorang gigolo .. tapi itu dulu . Sebelum aku bertemu Air dan Janu belum lama ini "
Bumi mendengus kesal tapi Deniel benar jika dirinya memang terlalu bodoh . Bagaimana bisa dia bisa bersikukuh menuduh Air bermain dibelakangnya bersama gigolo gila di depannya itu .
" Aku akui Narra memakai jasaku , wanita itu lebih gila dariku . Dia menghabiskan uangnya hanya untuk menyewa orang orang sepertiku sebagai alat penghangat ranjangnya . Kau tahu kenapa dia melakukannya ? Suaminya tak pernah mau untuk menyentuhnya . Dia merasa terhina . Dia ingin membuktikan pada suaminya bahwa dia bisa mencari laki laki yang lebih hebat untuk memanaskan ranjangnya "
" Kalian sama sama brengs*k !! "
" Ya aku brengsek , tapi sampai saat ini aku tidak pernah menyakiti wanita . Apalagi itu secara fisik "
" Kau sedang menyindirku !?? "
" Cihh kenapa aku jadi bercerita pada iblis sepertimu ? Apa kau merasa tersindir ? Pulang dan introspeksi dirimu sendiri , tidak usah terburu buru menemui Air jika tidak ingin berakhir seperti tadi . Dia butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya "
" Apa lukanya belum sembuh ? Aku bisa membawanya ke dokter " sahut Bumi khawatir , dia ingat pernah mendorong istrinya sampai terluka .
" Ya Tuhan dia memang tak punya otak ... " gumam Deniel sebal .
" Bukan luka ditubuhnya yang kumaksud , tapi luka disini .. " Deniel menunjuk ke arah dadanya .
" Luka di hatinya "
" Ya aku sudah melukainya terlalu dalam "
" Dan harusnya elo jangan paksa dia untuk memaafkanmu , semua masih terasa sulit untuknya "
Bumi menghela nafas panjang , dia cuma takut kehilangan . Bumi takut kehilangan karena baru sekarang ia menyadari bahwa dia mulai mencintai istrinya .
Bumi bangkit dan menatap Deniel dengan tajam , sepertinya dia baru ingat bahwa laki laki didepannya adalah salah satu pesaingnya .
" Kuperingatkan kau !! Jangan lagi dekati istriku "
" Aku tidak bisa , ada hal yang mengharuskan kami untuk bertemu "
" Brengsek !! "
" Pukul saja ... pilih saja bagian mana " Deniel malah tampak pasrah jika Bumi ingin memukulnya .
" Kau !! "
Bumi mendorong tubuh Deniel hingga terhuyung ke belakang , dia urungkan niatnya menghajar laki laki muda di depannya . Bumi tahu jika Deniel akan memanfaatkan keadaan untuk mendekati istrinya .
*
Sampai di rumah Dewa meletakkan motornya dan masuk ke rumah .
" Lho Wa kamu nggak kuliah ? Masih siang udah pulang " tanya Air yang sedang duduk bersama ibunya .
" Lagi nggak ada jadwal Mba , tadi Dewa ke bengkel sebentar terus ketemu sama Kak Deniel . Dia nawarin buka bengkel di ruko deket toko roti punya Embak "
" ltu anak banget baik ya ! Udah ganteng , kaya , baik lagi ... kalau ibu punya anak perempuan lagi mau ibu jodohin sama dia "
" Dewa aja kali yang dicariin jodoh , masa malah mikir anak orang sih Bu " gerutu Dewa pada ibunya yang selalu memuji Deniel sejak pertama mereka bertemu .
" Tanganmu kenapa merah merah begitu Wa , kayanya luka itu ! Sini Mbak obatin "
" Ngga apa apa Mba cuma luka kecil doang , tadi kena kunci pas lagi benerin motor " bohong Dewa , ia belum ingin menceritakan bahwa ia baru saja bertemu dengan Bumi .
" Ya udah sekarang anterin Embak pulang , udah sore ! Kasian Janu kalau kemaleman "
" Tapi Dewa mandi dulu sebentar ya , mau pulang ruko kan ?! "
" He em " jawab Air memelototi adiknya , pertanyaan Dewa barusan pasti akan mengundang tanya dari ibunya .
" Lho kenapa pulang ke ruko !? Kenapa tidak pulang ke rumah suami kamu ? "
Air menghela nafas , benar dugaannya . Pasti ibunya akan bertanya tentang hal itu .
" Kan udah Air bilang .. Air sedang memulai sebuah usaha Bu ! Mungkin akan sedikit menyita waktu , tapi jika semua berjalan lancar pasti semua kembali seperti semula
Bu . Air pergi juga atas ijin dari Mas Bumi , dia mendukung sepenuhnya "
Air merasa tidak berbohong karena ia pergi juga karena permintaan suaminya . Karena Bumi sudah tidak ingin melihatnya lagi .
" Dia benar Bu , Bumi yang sudah mengijinkan mereka pergi dan Bumi sangat menyesalinya . Bumi sangat kesepian hidup sendiri di apartemen . Jika diperbolehkan biarkan Bumi yang akan mengantar mereka ke ruko "
DEGGHH .. DEGGHH
Suara itu , suara yang sangat dirindukannya . Sekaligus suara yang tak ingin didengarnya saat ini . Jika bisa Air ingin meninggalkan tempat itu sekarang juga , ia belum ingin menemui suaminya . Tapi sebisa mungkin ia menutupinya dari sang ibu .
" Mas Bumi ... "