Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
BonChapt 7


" Wa mau ikut Kakak nggak !? " teriak Adam pada Dewa sambil menuntun motor matic keluar garasi .


Sore itu adalah sore yang cerah , weekend kali ini Adam ingin jalan jalan sore menggunakan motor yang ada di garasinya . Walaupun keluaran lama tapi kondisi motornya masih bagus karena benar benar dirawat oleh penjaga mansion .


" Kak Adam sendiri aja dehh !! Dewa mau benerin mobil dulu , tadi pagi mogok pas Dewa mau pakai "


" Ckk ... itu mobil seabreg abreg buat kamu semua Wa !! Kenapa harus milih yang butut kaya gitu sih !? Lagian itu kan mobil inventarisnya Mang Suta supir kamu " Adam menunjuk jejeran mobil mewah yang ada di garasi mansion .


" Mang Suta nggak mau pakai , katanya lebih enak pakai motor lebih cepet nyampai kesininya "


" Hishh anak itu "


Adam sungguh menikmati sore yang cerah itu , dia sengaja melewati jalan jalan pedesaan yang di kanan kirinya terhampar sawah hijau yang memanjakan matanya .


Puas melihat pemandangan alam sekitar Adam berhenti ketika melihat anak anak yang bermain bola di sebuah lapangan . Dia seperti sedang diingatkan dengan masa kecilnya yang juga menyukai permainan itu .


Kesibukan mengurus perusahaan membuatnya tidak sempat menyalurkan hobi olahraganya itu . Setelah menaruh motornya di pinggir Adam mencoba masuk diantara anak anak itu .


" Boleh Om gabung main sama kalian ?? Habis main Om traktir es krim dehh .... " bujuk Adam pada anak anak yang sedang melihatnya dengan tatapan aneh .


" Om penculik ya ??? " tanya salah satu anak itu karena logat bahasa Adam berbeda dengan mereka .


" Mau culik kalian sebanyak ini Om yang rugi , pasti jajan kalian banyak " jawab Adam sambil tertawa .


Karena merasa Adam bilang orang yang jahat anak anak itu mulai mulai bisa bermain dengan pria itu . Walaupun tanpa menggunakan sepatu bola dan hanya menggunakan bola dari plastik tapi tak mengurangi keseruan permainan itu .


Adam tertawa lepas dengan anak anak itu , penatnya selama seminggu bekerja keras hilang seketika . Setelah selesai bermain mereka semua berbaring di rerumputan untuk melepas lelah .


Sesuai janji Adam menyetop penjual es krim keliling yang kebetulan lewat .


" Bli saya beli semua es krimnya untuk anak anak ini "


" Yang bener ini ?? Terimakasih ... "


Penjual itu tampak senang karena satu box besar es krimnya terjual semua .


Adam tertarik pada salah seorang anak yang tidak ikut berebut es krim , anak itu masih tenang duduk di rerumputan . Sepertinya dia membawa botol air minum sendiri .


" Hai ... kau tidak suka es krim ?? Siapa namamu !? "


" Nama saya Gema . Saya habis sakit , belum boleh minum yang dingin dingin dulu sama ibu ! "


" Surga masih ada di kaki ibu saya " jawab Gema enteng .


Tapi jawaban singkat itu mampu menampar laki laki dewasa yang duduk di sebelahnya . Baru saja dia mengajari seorang anak untuk berbohong .


" Kau menyayangi ibumu ? "


" Om sayang sama ibu Om !? "


Adam tersenyum anak yang baru berumur tujuh tahunan itu ternyata cukup pintar . Anak itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan .


Karena hari sudah sore Adam maupun anak anak segera bubar untuk pulang ke rumah masing masing .


" Gema ikut Om saja , katanya habis sakit kan ? Capek kalau jalan "


" Nggak usah Om terimakasih , udah biasa kalau jalan jauh "


" Udah ayo , lagian kamu nggak bakal bisa kejar teman teman kamu yang udah pada lari duluan " Adam menunjuk anak anak yang sudah berlari jauh dari lapangan .


" Ya udah deh Gema ikut Om "


Akhirnya anak laki laki itu diantar pulang oleh Adam . Dahi Adam sedikit berkerut ketika anak itu menunjuk jalan yang tampaknya tak asing untuknya .


" Itu rumah Gema Om " anak itu menunjuk sebuah rumah sederhana bercat putih di depannya .


" Gemaaa !!! "


Suara seorang wanita mengagetkan mereka berdua , wanita itu terlihat berjalan tergesa ke arah mereka .


" Sudah ibu bilang jangan main dulu kan , kamu kan baru saja sembuh "


Perkataannya terhenti seketika ketika melihat seseorang yang berdiri di belakang putranya .


" Kau !!? "


Adam pun tak kalah terkejutnya ketika melihat wanita itu .


" Kita bertemu lagi ... "