
Air terus menggenggam tangan suaminya ketika mereka telah sampai di rumah ibunya . Bumi telah mantap untuk berbicara pada mertuanya . Bumi ingin meminta kembali anak dan istrinya apapun syaratnya .
Jika ia tidak boleh membawa anak dan istrinya maka satu satunya jalan agar mereka tetap bersama adalah Bumi tinggal di sini , tinggal bersama mertua dan adik iparnya . ltu lebih baik daripada ia harus di apartemen sendirian .
" Bu , Bumi mau ... "
" Air ajak suamimu istirahat di kamar terlebih dahulu , mumpung Janu juga sedang tidur di kamar Dewa . Nanti malam kita bicara lagi " Bu Sri meminta suami istri itu untuk istirahat sebelum Bumi menyelesaikan kata katanya .
Air mengangguk pada Bumi dan kemudian membimbing suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya .
" Jangan kaget , tidak semewah kamar Mas di apartemen maupun di rumah mama "
Bumi tersenyum dan memeluk istrinya , dia memang baru kali ini menginjakkan kakinya di kamar istrinya . Tapi hatinya terasa hangat walau seperti yang Air katakan , kamar ini terlalu sederhana .
Dalam kamar hanya ada satu ranjang yang tidak terlalu besar , satu lemari , satu kipas angin dan satu meja rias sederhana . Kamar mandi pun ada di bagian belakang rumah .
Tapi dimana pun sang istri berada disitulah tempatnya pulang . Sebenarnya ia ingin sekali mengulang kembali malam panasnya seperti semalam . Tapi sepertinya keadaan tidak mendukungnya .
Kamar Air bersebelahan dengan kamar Dewa yang artinya jika ia membuat suara suara gaduh pasti pemuda itu bisa mendengarnya . Dan paginya ia pasti akan disindir habis habisan oleh adik iparnya itu .
Bumi merebahkan tubuhnya di kasur yang biasa ditiduri oleh istrinya . Aroma Air yang masih tertinggal di kasur dan bantalnya membuatnya cepat terlelap .
Air yang baru saja membersihkan diri ke kamar mandi hanya tersenyum ketika mendapati suaminya sudah tertidur pulas . Perjalanan yang cukup lama dan kegiatan panas mereka tadi malam mungkin sudah menguras tenaga pria berotot yang sedang memejamkan matanya itu .
Air keluar kamar dan menemui ibunya yang berada di kamarnya .
" Bu ... "
" Lhohh kamu nggak istirahat ? Tidurlah sebentar mumpung Janu masih tertidur dengan adikmu "
" Tadi Air sudah tidur di mobil dalam perjalanan pulang ke sini . Air hanya ingin ngobrol dengan ibu "
" Apa yang ingin kau bicarakan ? lni mengenai suamimu ? "
Air duduk disamping ibunya dan merebahkan kepalanya di pundak sang ibu . Bu Sri mengelus sekilas kepala putri sulungnya .
" Tadi Mas Bumi ingin bicara dengan ibu "
" lbu tahu , ibu sengaja meminta kalian istirahat terlebih dahulu agar hati dan pikiran kalian lebih tenang "
" Air tahu Bu , hanya ... "
" Biarkan dia yang bicara pada ibu nanti , biarkan dia tahu apa arti seorang kepala rumah tangga . Perannya , tugasnya ataupun tanggung jawabnya . Kau sangat tahu bahwa Ibu tidak akan pernah melewati batasan ibu "
Air mengeratkan oelukannya pada ibunya , ia tahu ibunya akan bisa berpikir bijak untuk semua masalahnya .
" Begitupun Dewa ... sekuat tenaga Dewa akan membuat ibu dan embak bangga ! Dan Dewa akan membuat kalian bahagia "
Dewa yang tiba tiba masuk dengan menggendong Janu membuat dua wanita itu meneteskan air matanya . Mereka saling memeluk , tanpa sadar di luar sana ada seseorang yang juga sedang menahan harunya ketika melihat kebersamaan keluarga itu .
Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki diri sendiri , ia berjanji akan menjaga keluarga sang istri karena dari mereka dia menyadari arti pentingnya sebuah keluarga .
Setelah berbicara dengan ibu dan adiknya Air segera kembali ke kamar untuk melihat suaminya . Dan ternyata Bumi sudah bangun dengan memangku laptopnya dengan bersandar di kepala ranjang . Tampaknya ia sedang menyelesaikan sesuatu , mungkin berhubungan dengan pekerjaannya .
" Mas udah bangun ? Kok cepet banget bobonya , Mas mau di bikini sesuatu ? " Air mendekat dan duduk disamping suaminya .
" Janu mana ? Kangen sama dede "
" Tadi habis ***** malah main sama Dewa lagi , kemarin Dewa beli mainan baru buat Janu "
" Mainan !? "
" Janu udah mulai bisa bermain sendiri , dia udah bisa meraih dan memilih mainannya sendiri "
Bumi menghela nafasnya , sekali lagi ia merasa gagal menjadi seorang papa . Dia tidak tahu perkembangan putranya . Walau sering bermain tapi ia tidak memperhatikan sedetil itu tentang Janu . Selama ini dia juga tak pernah berpikir untuk membelikan putranya mainan .
" Mas , aku juga masih belajar . Kita sama sama belajar agar bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak anak kita kelak " kata Air yang paham jika suaminya sedang kecewa dengan dirinya sendiri .
" Anak anak kita !? "
" Tentu saja , kita akan ramaikan rumah dengan suara tawa dan tangis dari anak anak kita . Kita akan melihat mereka bermain disekitar kita "
" Ya kau benar , keluarga adalah segalanya . Kau dan anak anak adalah segalanya untukku . Jangan pernah bosan untuk menghadapi watakku yang keras , tetaplah disisiku di saat susah dan senangku . Tetaplah .... "
CUPP ...
Air mencium bibir suaminya sebelum Bumi menyelesaikan kata katanya .
" Aku mencintaimu .... aku mencintaimu Bumi Attala Adipraja !! "
Setelah berkata seperti itu Air tanpa ragu mel*mat bibir suaminya dengan penuh gairah . Dan Bumi menyambutnya dengan tak kalah panas , perlahan ia loloskan kaos rumahan yang dikenakan istrinya .
Dia meraih apapun yang bisa ia raih saat itu , mereka mulai menggila hingga sebuah ketukan pintu dan jeritan Janu menyadarkan mereka .
" Mas .. " Air segera mengenakan kembali semua baju yang sudah diloloskan oleh suaminya tadi . Dia segera berlari ke arah pintu .
" Ya ampun De , nggak kasihan apa sama papa mama . Nanggung banget ini De ... " keluhnya lirih sambil memandang sesuatu di bawah sana yang sudah tegak menjulang .