Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
72


Paginya Bumi bermain dengan Janu di ruang tengah sambil menunggu Air yAng sedang membuat sarapan .


" Mas sarapan dulu gih , udah siang ! Sini Janu main sama Mama ya biar papanya maem dulu " Air ingin mengambil alih putranya dari tangan Bumi , tapi ditepis lembut oleh suaminya .


" Kamu makan saja duluan , aku mau mandiin Janu dulu . Dede udah bau asem banget " walau sudah berkata asem tapi tetap saja Bumi menciumi ketiak anaknya hingga bayi gembul itu tertawa terbahak .


Bumi sengaja menyuruh istrinya untuk sarapan terlebih dahulu , karena jika tidak pasti Air akan berangkat ke toko dengan perut kosong . Karena sang istri selalu ingin melakukan apa saja dengan cepat .


Bumi juga sudah menyediakan supir untuk mengantar kemanapun Air pergi , karena dirinya tidak bisa setiap waktu menemani sang istri karena kesibukannya .


" Emang Mas bisa mandiin Dede? "


" Mandi doang spa susahnya sih ? Yuk de main air sama papa ! "


" Tapi Mas , nanti bajunya basah lohh !! Udah rapi gitu " kata Air karena Bumi sudah mengenakan setelan kerjanya .


" Udahh sana makan duluan ... " Bumi menggendong Janu ke lantai atas karena ia ingin memandikan putranya di kamar mandi yang ada di kamarnya .


Air segera makan sarapannya , walau Bumi sudah sering bersama Janu tapi ia masih sangsi apakah laki laki halalnya itu bisa memandikan putranya . Setelah selesai dan menyiapkan sarapan untuk suaminya Air segera menyusul ke atas .


Sudah dua puluh menit jika dihitung dari ia sarapan , seharusnya mereka sudah selesai . Tapi Air masih mendengar suara tawa dari arah kamar mandi .


Betapa terkejutnya dia ketika melihat pakaian suaminya yang teronggok di bawah bath up . Suaminya malah ikut main Air di bath up bersama putranya !


" Ya Allah Maasss ... !! " pekiknya kesal .



" Apa sih sayang ... mau ikut main sama kita ? Asyik ya De , kita lagi berburu bebek " Bumi ikut memainkan bebek kecil berwarna kuning yang biasa dipakai bermain oleh Janu jika mandi .


" Udah siang banget ini ! Mas belom sarapan ini malah ikut mandi lagi ... terus itu jam tangan kenapa ikut direndam di air sih " Air segera mengambil jam tangan R*lex yang dimainkan putranya dan hasilnya tentu saja putranya menjerit histeris .


" Sayang biarin ... "


" Mahal ini Mas , mati ntar " sahutnya sambil membopong Janu keluar dari bath up .


" Anti air itu sayang , lagian di laci masih banyak "


" Hisshhh .. " Air berdecak sebal . Dia tidak suka jika Bumi terlalu memanjakan putranya .


Janu merengek pada papanya , tangannya terulur seakan meminta pertolongan pada sang papa agar membawanya kembali bermain air .


" Udah kelamaan mandinya De , nanti masuk angin . Mas juga !! Kenapa ikut nyemplung segala sih ??! " omel Air sambil mengelap tubuh gembul putranya .


" Lho kok salahin Mas sih , Dede yang tadi bikin basah Papa ya ! Ya udah Papanya ikut mandi sekalian ! Sayang ... habis ini mandi bareng yuk "


" Cubit nih ya !! " ancam Air yang melihat tubuh polos suaminya yang sudah ada di belakangnya .


Dia tahu jika dibiarkan Bumi pasti akan melakukan hal hal di luar nalarnya , mungkin suami mesumnya akan kembali membuatnya basah pagi ini .


Bumi mengambil ponselnya yang tergeletak di meja ketika ada panggilan masuk .


" Siapa Mas , pagi pagi begini "


" Papa yang telpon ... Dede sama Mama dulu ya . Papa angkat telpon sebentar " Bumi memberikan bayi gembul itu pada istrinya .


" Ya Pah ... "


" Kau sudah ke kantor ? "


" Belum Pah tadi Janu nggak mau ditinggal . Ada apa pagi pagi begini Papah telpon ? "


" Papah ingin bicara sebentar denganmu , nanti bawa sekalian cucu Papa kesini "


' Ya sudah nanti Bumi ke rumah '


Setelah itu dia menutup sambungan telponnya dan kembali menuju anak dan istrinya .


' Kenapa Papah ? "


" Papa pengen bicara sama Mas , nanti sekalian Janu kita bawa kesana . Mama kangen banget katanya "


Setelah menyelesaikan sarapannya mereka langsung menuju kediaman Adipraja . Betapa senangnya dua parubaya itu ketika melihat cucu mereka .


Alfian .. terutama Rita menciumi pipi Janu sampai bayi itu merengek . Dia tak mau lepas dari rengkuhan Bumi . Sepertinya Janu masih enggan di gendong oleh opa dan omanya .


" Janu kenapa sama Papa terus sih , ini Oma sayang " Rita terus saja berusaha mengambil Janu dari putranya .


" Mahh .. jangan dipaksa dong kalau nggak mau . Nangis ntar !! " kata Bumi sambil membawa putranya berjalan mengikuti papanya ke ruang kerja .


" Sini Mas .... "


Air yang tahu suaminya ingin bicara dengan mertuanya mengambil alih Janu .


" Biar Janu sama Mamah kalau kamu ingin ke toko "


" lya Mahh "


" Apa dia sudah berubah !? "


" Maksud Mamah suami Air ? "


" Siapa lagi kalau bukan dia , apa dia menyakiti kalian lagi !? "


" Putra Mamah amat sangat mencintai kami , Mas Bumi melakukan apa saja agar kami bahagia . Terima kasih sudah memberikan putra Mamah pada Air "


" Sama sama sayang , terima kasih juga kamu sudah mau dan mampu bertahan disisinya "