Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
101


" Dia memang cantik , keibuan dan sangat penyabar . Pantas saja jika kau jatuh hati padanya "


" Kau tidak keberatan dengan hal itu !? "


" Aku tidak merasa bahwa dia akan menjadi sainganku . Pemiliknya terlalu ganas dan brutal . Sepertinya yang akan menjadi sainganku adalah dia ... "


Vallery menunjuk pada bayi gembul yang ada di pangkuan Deniel . Mereka ada di rumah Dewa saat ini . Niat Deniel hanya ingin bertemu dengan Dewa dan ibunya tapi tak menyangka Air dan Janu juga berada di rumah itu .


" Ha .. ha .. kau benar !! Dari pertama aku juga sudah jatuh cinta pada pria tampan ini " Deniel menciumi perut Janu hingga bayi gembul itu tergelak .


Dari dalam Air tampak membawa nampan berisi teh hangat dengan sepiring ubi rebus . Walau Air belum tahu perkembangan hubungan antara Deniel dan Val tapi ia yakin dua muda itu akan menjadi pasangan bucin selanjutnya , tentu saja setelah dia dan suaminya .


" Jangan repot repot , kami hanya mampir sebentar . Tadi dia bilang udah lama nggak ketemu sama ibu Sri "


" Nggak repot kok Dok ... "


" Cukup panggil namaku saja " Vallery memotong perkataan Air .


" Kalian sepertinya sudah tak bisa terpisahkan lagi . Kalian sudah pantas jika memiliki momongan " kata Air berniat menggoda pasangan muda di depannya .


" Ya setelah ini kita akan pulang untuk membuat ' momongan ' , ya kan Hon !? "


" lde bagus sayang " jawab Val tersenyum lebar .


Aira hanya geleng geleng kepala melihat sepasang manusia yang sama sama suka bercanda itu . Sepertinya Deniel sudah menemukan pawang yang tepat untuk mendampinginya .


" lm serious honey "


" Kau pikir aku takut sayang ? "


Dari arah dalam ibu Sri dan Dewa hanya tertawa mendengar tingkah konyol pasangan newbie itu . Keduanya memang bisa membuat suasana lebih hidup .


" Nggak usah ngeledekin mereka berdua Mbak , ngabis abisin tenaga ! Bukannya malu malah tambah malu maluin " celetuk Dewa yang langsung disambut tawa Air dan ibunya .


Setelah beberapa waktu akhirnya Deniel dan Vallery undur diri .


" Janu boleh gue bawa ke rumah ? "


" Udah sore , lagian sebentar lagi papanya pasti jemput . Bisa ngamuk kalau tahu anaknya di bawa kamu Den " sahut Aira .


" Ckk .. pelit bener sih ! Pinjem aja nggak boleh " gerutu Deniel sambil menyerahkan Janu pada Air .


" Lhahhh dia kata Janu jas hujan bisa main pinjem pinjem ? " Dewa keluar dan mengambil Janu dari gendongan kakaknya .


Selalu seperti itu , keberadaan Janu akan selalu membuat orang sekitarnya merasa bahagia . Tidak heran jika Bumi yang notabene hanyalah papa sambung sudah sangat menyayanginya seperti ia menyayangi putra kandungnya .


" Sayang , ke apart yuk !! Aku kan belum pernah kamu ajak ke sana " sejak menjadi pasangan Vallery belum sekalipun datang ke apartemen milik kekasihnya .


" Nggak usah ! Aku gampang kilaf kalau cuma berduaan sama kamu "


" Jangan alay deh , mobil aja pakai dirayain . Lagian kamu maksa banget sih pengen ke rumahku ? Jangan jangan kamu ada rencana jahat ya !? "


Val memukul pelan bahu Deniel yang masih fokus pada jalanan sore itu .


" Memang nggak boleh berkunjung di rumah pacar ? "


" Cie cie pacar .. mau mojok nih ceritanya sama ' pacar ' "


" Salah ?? "


" Dengan senang hati , aku ladeni setiap maumu . Cium ? Peluk ? Kamu boleh lakukan sesukamu . lm for sale this night honey " canda Deniel dengan mengedipkan satu matanya genit .


" We' ll see "


Tak berapa lama sampai juga mereka di apartemen milik Deniel . Vallery berdecak kagum , apartemen bergaya minimalis itu terlihat begitu mewah dengan penataan yang sempurna di setiap detilnya .


" Kau sendiri yang menata ini ? "


" He em , kamu mau minum apa hon !? "


" Apa saja , sekalian makan kalau ada ..Laper soalnya "


" Tadi diajakin mampir makan dulu nggak mau . Sekarang udah nyampe sini laper , makanya kalau dibilangin yang nurut . Aku pesan online saja ya ! Di lemari pendingin juga nggak ada bahan makanan "


" Sate Padang , cap cay sea food , pentol , sama ayam geprek yang level sepuluh .. "


" Kamu mau makan apa sedang kesurupan hon !? Aku sampai bingung nulisnya "


" Kan itung itung kamu belajar , besok kalau aku ngidam kamu udah nggak kaget jika tiba tiba aku minta yang macem macem "


" Ckk ... iyaaaa ini udah dipesenin nyonya , jangan ngomel ngomel "


" Sayang ... cium "


" Perasaan aku yang hyper kenapa kamu yang jadi gatel sih Hon !? " cibir Deniel sambil terkekeh .


Untuk berciuman mereka memang sudah biasa melakukan , dan hanya sebatas itu . Dia tak akan melakukan hal yang lebih jauh karena sedikit demi sedikit Deniel sudah bisa mengendalikan hasratnya atas kekasih hatinya .


Tapi tentu saja ia akan tetap mengabulkan permintaan sang kekasih untuk menciumnya . Bibir ranum Val memsng sudah menjadi candu baginya . Deniel membawa tubuh Val untuk duduk di pangkuannya . Dengan posisinya yang berada di atas maka dengan mudah Vallery bisa mengendalikan alur ciuman panas mereka .


Vallery menghentiksn ciumannya ketika berkali kali ia mendengar panggilan dari ponsel Deniel .


" Sayang , angkat dulu telponnya siapa tahu penting "


Deniel hanya menatap malas ketika melihat nama yang ada di layar pipihnya .


" Daddy ... "