
" Dia memang cantik , keibuan dan sangat penyabar . Pantas saja jika kau jatuh hati padanya "
" Kau tidak keberatan dengan hal itu !? "
" Aku tidak merasa bahwa dia akan menjadi sainganku . Pemiliknya terlalu ganas dan brutal . Sepertinya yang akan menjadi sainganku adalah dia ... "
Vallery menunjuk pada bayi gembul yang ada di pangkuan Deniel . Mereka ada di rumah Dewa saat ini . Niat Deniel hanya ingin bertemu dengan Dewa dan ibunya tapi tak menyangka Air dan Janu juga berada di rumah itu .
" Ha .. ha .. kau benar !! Dari pertama aku juga sudah jatuh cinta pada pria tampan ini " Deniel menciumi perut Janu hingga bayi gembul itu tergelak .
Dari dalam Air tampak membawa nampan berisi teh hangat dengan sepiring ubi rebus . Walau Air belum tahu perkembangan hubungan antara Deniel dan Val tapi ia yakin dua muda itu akan menjadi pasangan bucin selanjutnya , tentu saja setelah dia dan suaminya .
" Jangan repot repot , kami hanya mampir sebentar . Tadi dia bilang udah lama nggak ketemu sama ibu Sri "
" Nggak repot kok Dok ... "
" Cukup panggil namaku saja " Vallery memotong perkataan Air .
" Kalian sepertinya sudah tak bisa terpisahkan lagi . Kalian sudah pantas jika memiliki momongan " kata Air berniat menggoda pasangan muda di depannya .
" Ya setelah ini kita akan pulang untuk membuat ' momongan ' , ya kan Hon !? "
" lde bagus sayang " jawab Val tersenyum lebar .
Aira hanya geleng geleng kepala melihat sepasang manusia yang sama sama suka bercanda itu . Sepertinya Deniel sudah menemukan pawang yang tepat untuk mendampinginya .
" lm serious honey "
" Kau pikir aku takut sayang ? "
Dari arah dalam ibu Sri dan Dewa hanya tertawa mendengar tingkah konyol pasangan newbie itu . Keduanya memang bisa membuat suasana lebih hidup .
" Nggak usah ngeledekin mereka berdua Mbak , ngabis abisin tenaga ! Bukannya malu malah tambah malu maluin " celetuk Dewa yang langsung disambut tawa Air dan ibunya .
Setelah beberapa waktu akhirnya Deniel dan Vallery undur diri .
" Janu boleh gue bawa ke rumah ? "
" Udah sore , lagian sebentar lagi papanya pasti jemput . Bisa ngamuk kalau tahu anaknya di bawa kamu Den " sahut Aira .
" Ckk .. pelit bener sih ! Pinjem aja nggak boleh " gerutu Deniel sambil menyerahkan Janu pada Air .
" Lhahhh dia kata Janu jas hujan bisa main pinjem pinjem ? " Dewa keluar dan mengambil Janu dari gendongan kakaknya .
Selalu seperti itu , keberadaan Janu akan selalu membuat orang sekitarnya merasa bahagia . Tidak heran jika Bumi yang notabene hanyalah papa sambung sudah sangat menyayanginya seperti ia menyayangi putra kandungnya .
" Sayang , ke apart yuk !! Aku kan belum pernah kamu ajak ke sana " sejak menjadi pasangan Vallery belum sekalipun datang ke apartemen milik kekasihnya .
" Nggak usah ! Aku gampang kilaf kalau cuma berduaan sama kamu "
" Jangan alay deh , mobil aja pakai dirayain . Lagian kamu maksa banget sih pengen ke rumahku ? Jangan jangan kamu ada rencana jahat ya !? "
Val memukul pelan bahu Deniel yang masih fokus pada jalanan sore itu .
" Memang nggak boleh berkunjung di rumah pacar ? "
" Cie cie pacar .. mau mojok nih ceritanya sama ' pacar ' "
" Salah ?? "
" Dengan senang hati , aku ladeni setiap maumu . Cium ? Peluk ? Kamu boleh lakukan sesukamu . lm for sale this night honey " canda Deniel dengan mengedipkan satu matanya genit .
" We' ll see "
Tak berapa lama sampai juga mereka di apartemen milik Deniel . Vallery berdecak kagum , apartemen bergaya minimalis itu terlihat begitu mewah dengan penataan yang sempurna di setiap detilnya .
" Kau sendiri yang menata ini ? "
" He em , kamu mau minum apa hon !? "
" Apa saja , sekalian makan kalau ada ..Laper soalnya "
" Tadi diajakin mampir makan dulu nggak mau . Sekarang udah nyampe sini laper , makanya kalau dibilangin yang nurut . Aku pesan online saja ya ! Di lemari pendingin juga nggak ada bahan makanan "
" Sate Padang , cap cay sea food , pentol , sama ayam geprek yang level sepuluh .. "
" Kamu mau makan apa sedang kesurupan hon !? Aku sampai bingung nulisnya "
" Kan itung itung kamu belajar , besok kalau aku ngidam kamu udah nggak kaget jika tiba tiba aku minta yang macem macem "
" Ckk ... iyaaaa ini udah dipesenin nyonya , jangan ngomel ngomel "
" Sayang ... cium "
" Perasaan aku yang hyper kenapa kamu yang jadi gatel sih Hon !? " cibir Deniel sambil terkekeh .
Untuk berciuman mereka memang sudah biasa melakukan , dan hanya sebatas itu . Dia tak akan melakukan hal yang lebih jauh karena sedikit demi sedikit Deniel sudah bisa mengendalikan hasratnya atas kekasih hatinya .
Tapi tentu saja ia akan tetap mengabulkan permintaan sang kekasih untuk menciumnya . Bibir ranum Val memsng sudah menjadi candu baginya . Deniel membawa tubuh Val untuk duduk di pangkuannya . Dengan posisinya yang berada di atas maka dengan mudah Vallery bisa mengendalikan alur ciuman panas mereka .
Vallery menghentiksn ciumannya ketika berkali kali ia mendengar panggilan dari ponsel Deniel .
" Sayang , angkat dulu telponnya siapa tahu penting "
Deniel hanya menatap malas ketika melihat nama yang ada di layar pipihnya .
" Daddy ... "