Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
146


Dewa mondar mandir di depan kamar UGD , sedang Bumi tetap merengkuh tubuh sang istri yang kembali menangis . Aira bangun saat para dokter datang tadi .


" Mas .. Dede gimana !? "


" Kita berdoa saja , dokter sedang melakukan yang terbaik "


Tak berapa lama satu persatu dokter dan perawat keluar dari ruangan itu . Salah satu dokter menghampiri mereka .


" Keluarga Janu ? "


" Kami orang tuanya Dok " jawab Bumi mendekat pada dokter itu dengan tetap merengkuh tubuh istrinya .


Dia benar benar menyiapkan dirinya untuk semua kemungkinan karena ia yang tadi membawa tubuh kecil dengan kondisi yang baginya mengerikan .


Tubuh Janu sudah pucat , dan bahkan bayi gembul itu sudah tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya . Dia hanya mengatakan Janu akan baik baik saja agar semua orang tidak berputus asa . Bumi ingin semua orang berpikir positif sambil mendoakan kesembuhan putranya .


" Putra anda sangat kuat , bahkan tadi kami semua sempat angkat tangan dengan kondisinya yang terlalu banyak mengeluarkan darah . Tapi dia bisa melewati semua ini , doa kalian terkabul ! Putra anda sudah melewati masa kritisnya . Dan dia akan segera dipindah ke kamar rawat setelah kami lakukan pemeriksaan terlebih dahulu "


Bumi luruh di lantai , ia mengucapkan sujud syukur pada Sang Pencipta yang kembali mempercayainya untuk mengasuh putranya . Begitupun dengan Dewa yang jatuh lunglai bersandarkan dinding , sudut matanya sudah berair . Pria muda itu tak mampu membendung air mata kebahagiaannya .


" Terimakasih Ya Allah . Sayang ... Janu kembali , Dede sembuh ! "


" Mas ... " Air memeluk suaminya erat , ia pun juga tak bisa lagi membendung air mata kebahagiaannya .


Ketika sedang menunggu dokter memeriksa ulang Janu , Dewa tampak menerima telpon dari seseorang .


" Siapa Wa ?! " tanya Air pada adiknya .


" Kak Deniel dan Kak Varo , mereka minta maaf nggak bisa ikut jagain Janu karena mereka saat ini ada di Beijing . Tadi Dewa juga sudah telpon Om sama Tante , ibu juga sudah dikabarin "


" Beijing !? "


" Kak Deniel mau menikah di sana , kabarnya sih juga mau boyong dokter Vallery tinggal disana " lanjut Dewa .


" Bocah tengil itu ternyata putra pengusaha terkenal , yang kemarin sempat makan malam sama Papa . Barnett Brown " jelas Bumi yang di jawab anggukan oleh istrinya yang saat ini duduk disampingnya .


" Dedek kok nggak keluar keluar sih Mas ? "


Setelah beberapa rangkaian pemeriksaan selesai Janu kemudian di bawa ke ruang rawat . Dan dokter membatasi orang yang menunggu Janu di kamar rawat tersebut .


Untuk sementara hanya kedua orang tua Janu yang boleh masuk dan menunggu bayi itu . Dokter hanya ingin menjaga suasana kondusif untuk pasien karena kondisi tubuh Janu masih terlalu lemah .


" Dewa jaga di luar saja Mas , nggak apa apa " Dewa menunjuk kursi panjang yang ada di depan kamar .


" Tolong nurut sama Mas , besok pagi kamu bisa kesini lagi nemenin Janu . Tapi sekarang kamu pulang dulu . Mas sama Embakmu nggak mau kamu malah jadi sakit ! Ada supir yang nanti akan nganter kamu pulang " bujuk Bumi pada Dewa yang berkeras untuk terus menunggu keponakannya .


" Ya sudah , tapi kalian harus berjanji kabari Dewa jika ada apa apa "


" Pasti "


*


Air merasa tersayat hatinya melihat putranya yang masih terlelap di box bayi dengan masih terpasang berbagai alat di tubuhnya . Jika pun dirinya mampu maka dia akan mengambil semua kesakitan yang dirasakan putranya .


" Heii ... jangan nangis lagi sayang , kita tidak boleh menangis di depan Janu . Jika dia saja bisa kuat menghadapi semuanya kenapa malah kita menunjukkan kelemahan kita !? Yang kuat ya , Mas ada bersama kamu "


Air hanya mengangguk dan menghapus air matanya .


" Tadi aku sempat berpikir Dede .. "


" Sssstttttt ... sudah berlalu "


" Tapi aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia "


" Terlebih aku , kalian adalah alasan aku untuk hidup . Kamu juga harus ingat disini juga ada putra kita " Bumi mengelus lembut perut istrinya .


" Dede cepat sembuh ya , nanti kita sama sama jagain Mama dan adek "


Dan tak mereka sangka bayi gembul yang tadi mereka kira masih terlelap sedang melihat kearah mereka dan tersenyum lemah .


" Mammaahhh ... "