
" Kau menemukannya ?! Bagus , temui aku sekarang juga di kantor . Dan akan aku transfer sesuai janjiku , jangan khawatir " kata Varo pada seseorang di ponselnya .
Varo akhirnya bisa bernafas lega , dia menemukan seseorang yang dia cari dalam beberapa hari ini . Seseorang yang membuat dia merasa kacau setiap harinya . Seseorang yang sudah membawa separuh hatinya walau baru satu kali mereka bertemu .
Tak berapa lama orang yang dia tunggu datang juga . Orang yang dia bayar untuk menyelidiki kejadian malam itu .
" Katakan Ed ... " Varo meminta orang yang bernama Edi itu untuk segera menceritakan temuannya .
" Dia masih seorang pelajar tingkat akhir , sekitar dua bulan lagi mungkin dia lulus . Namanya Erina tapi kerap dipanggil dengan Erin saja . Hidup hanya dengan ibunya yang sakit sakitan . Ayahnya sebenarnya kaya raya , tapi setelah menikah lagi sekitar sepuluh tahun yang lalu dia tak lagi memperhatikan kehidupan putrinya . Erin menjual dirinya untuk membiayai operasi jantung ibunya . Kudengar ayahnya juga memberi sedikit uang , tapi gadis itu kekurangan lima puluh juta . Jumlah yang cukup besar untuk gadis sebatang kara seperti dia "
Varo menghela nafasnya , tak ia sangka gadis yang ia cari mempunyai kehidupan seberat itu . Bertahan untuk hidup dengan ibu yang sakit sakitan bukan hal mudah untuk gadis muda seperti dia .
" Anda tidak bertanya kenapa jadi anda yang masuk ke kamarnya ?! "
" Aku sudah tahu ... aku salah masuk kamar . Gadis itu sebenarnya sudah dipesan oleh seseorang . Kau tahu dimana gadis itu sekarang ? "
" Saya sudah kirimkan alamat rumah beserta nama rumah sakit tempat ibunya sudah melakukan operasi "
" Sudah operasi ? "
" Sudah , dan sekarang sudah dipindah diruang perawatan untuk pemulihan "
Varo manggut manggut tanda ia mengerti , ia semakin tertarik dengan gadis itu .
" Kau boleh pergi sekarang ... "
" Baik tuan "
Tak lama setelah laki laki bernama Edi itu pergi dari ruangannya Varo juga segera pergi ke rumah sakit dimana gadis itu sedang menunggu ibunya .
Varo tak peduli jika gadis itu nanti akan mengusirnya , tapi ia berhutang satu maaf padanya . Kejadian malam itu diluar kendalinya , walau sejujurnya ia tidak pernah menyesali hal itu .
Apapun yang terjadi ia akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan . Malam itu ia memacu gadis itu sampai pagi menjelang dan itu tanpa menggunakan pengaman . Ada kemungkinan Varo junior tumbuh di rahim gadis itu . ltu pikirnya !
Rumah sakit yang dia datangi adalah rumah sakit spesialis bedah jantung yang cukup terkenal . Varo segera menuju ke kamar yang ditempati Erin dan ibunya .
Seharusnya kamar itu ditempati oleh dua pasien tapi karena hanya ada dia sendiri maka ruangan itu menjadi lebih leluasa untuk gadis itu .
TOK ... TOKK
Varo mengetuk pintu kamar itu , dia bisa melihat wajah shock gadis itu . Raut yang bercampur antara sedih , marah dan malu .
" Kau !!! "
" Siapa Erin , suruh masuk nak "
Sebelum.Erin menjawab pertanyaan ibunya , Varo sudah lebih dulu masuk ke kamar dan mendekati ranjang pasien .
" Saya pacar Erin Bu " Varo tersenyum dan meraih tangan lemah wanita itu .
" Ya , sudah berhari hari saya mencarinya . Dia tidak memberitahukan kondisi ibu pada saya "
Gadis bernama Erin itu tetap membisu , ia tidak menyangkal ataupun mengiyakan . Karena ibunya masih baru pada masa penyembuhan .
Varo semakin kagum dengan pengendalian emosi yang dilakukan gadis itu . Varo tahu gadis itu sedang menahan amarahnya demi menjaga ibunya .
" lbu boleh aku berbicara dengannya sebentar di luar ? "
" Erin , kenapa tidak bicara disini saja ? "
" Kami saling merindukan Bu , mungkin ibu akan muak jika harus mendengar kata kata cinta kami " jawab Erin dengan senyum yang sangat dipaksakan .
" Ya sudah , jangan terlalu galak padanya . Nak Varo pria baik "
Dengan kode mata Erin meminta Varo segera keluar dari ruang itu . Mereka segera keluar dari kamar itu menuju arah belakang rumah sakit yang terdapat taman . Erin berkali kali sering ada di tempat itu untuk sekedar mencari udara segar .
Erin duduk di sebuah bangku panjang disusul kemudian oleh Varo . Dia menatap wajah ayu itu . Jika dilihat semakin dekat ternyata Erin menjadi semakin cantik walau wajahnya tampak begitu lelah .
" Tak kusangka bahwa kau juga merindukanku ... " goda Varo mengulang kata kata gadis itu tadi saat di depan ibunya .
" Apa maumu tuan !?? "
" Namaku Dennis Alvaro , panggil aja Varo ... bukan tuan "
" Ckk ... apa maumu Varo ? "
" Kamu "
" Kau ingin menghinaku ? Apa kau ingin sekali lagi memakai jasaku ? Aku tidak menyalahkanmu jika kau mencariku hanya untuk hal itu . Tapi aku katakan ini padamu ... aku tidak seperti yang kau pikirkan . Aku butuh uang tapi aku tidak akan melakukan hal itu lagi . Sekarang pergi dari sini dan carilah wanita lain "
" Memangnya apa yang aku pikirkan tentang kamu ? Jangan selalu berpikir buruk dengan orang lain nona Erina "
" Memesan gadis hanya untuk kesenangan sesaat ... terdengar cukup baik . Daripada menjual tubuh hanya untuk segepok uang .
Setelah berkata seperti itu Erin ingin segera pergi dari tempat itu . Melihat Varo seperti kembali mengulang kenangan buruknya .
" Tapi aku hanya mau kamu ... "
Kata kata itu berhasil menghentikan langkah gadis itu .
" Tapi aku tidak ingin bertemu denganmu lagi .. " sahutnya sinis .
" Aku mohon menikahlah denganku Erina "
" Kau gila ... !!! "