Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
BonChapt 37


" Apa kau yang sudah mengajari anakku untuk berbicara seperti itu ?! Hebat kalian bisa mencuci otaknya hingga dia membenciku seperti itu . Kalian pasangan bejat yang sudah merusak otak anakku !! "


PLAAKKK ...


Satu tamparan keras mendarat di pipi Gilang yang terus saja memojokkan Diva dan Adam . Diva yang sudah membuat wajah mantan suaminya merah karena tamparan keras itu .


" Jaga mulutmu , aku tak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentang kami . Tujuh tahun aku bertahan demi dia , kutelan mentah mentah semua sakit yang kau berikan ! Bahkan saat kau menceraikan aku dan membawa perempuan itu ke rumah yang seharusnya menjadi istana untuk aku dan anakku . Apakah waktu itu kau berpikir dimana kami akan tinggal ? Apakah kami bisa makan dan menghidupi diri kami sendiri ?.Apa pernah aku meminta belas kasihmu untuk sekedar membeli susu untuk dia ?? Apakah kau tahu rasanya ketika anak yang kau kandung tiba tiba menjadi yatim ketika ayahnya sendiri sangsi dengan keberadaannya ? Sakit ... rasanya sangat sakit !!! " Diva mulai tidak bisa menahan tangisnya .


Adam tak pernah bisa jika melihat air mata istrinya . Tadinya dia hanya akan diam dan membiarkan Gilang dan Diva berbicara , tapi ia melihat emosi sang istri yang mulai tidak terkontrol lagi .


" Cukup ... aku sudah memberimu waktu untuk berbicara dengan anak dan istriku . Sekarang pergi dari sini , dan satu hal lagi ! Jangan pernah menemui mereka lagi tanpa ijinku !! "


" Mas ... "


Adam merengkuh dua orang terkasihnya itu ke dalam pelukannya . Matanya menatap tajam pada Gilang yang masih saja duduk tak bergeming di depannya .


" Baik ... aku pergi ! Tapi aku tidak akan berhenti sampai di sini !! Aku akan merebut mereka darimu apapun caranya "


" Kita lihat saja .... "


Perlahan Adam melepaskan rengkuhannya ketika Gilang sudah pergi menjauh dari mereka .


" Kita pulang saja Mas , aku sudah tak ingin makan lagi "


Adam tersenyum dan mengangguk , dia kemudian menggendong Gema dan menuntun istrinya menuju ke arah mobil . Tapi sebelum mereka sampai suara seperti petasan yang nyaring mengejutkan mereka .


Adam mempercepat langkahnya karena dia tahu suara itu bukan suara petasan atau semacamnya . Dia sangat tahu suara itu adalah suara tembakan dari senjata api . Sampai di mobil ia langsung melesatkan mobil menuju ke arah mansionnya .


" Jagoan ... Ayah titip ibumu sebentar , ada hal yang tiba tiba harus Ayah kerjakan ! Sayang aku harus pergi sebentar , suruh maid membuat makanan yang tadi kau inginkan . Jangan sampai perutmu kosong ! Aku tidak mau melihatmu sakit lagi . Aku cuma pergi sebentar "


Adam pergi setelah menurunkan dan memastikan anak dan istrinya masuk ke mansion . Dia yakin tembakan tadi adalah tembakan dari orang suruhan Gilang yang dibayar untuk melenyapkannya .


Adam juga yakin orang orangnya melakukan sweeping dengan baik , nyatanya suara tembakan itu tidak membuat keributan ditempat yang tadi mereka datangi . Orang orangnya memang sangat terlatih untuk mengantisipasi hal hal seperti itu .


Adam mengambil ponselnya dan menelpon seseorang .


" Jangan sentuh Gilang , dia bagiianku !! Kalian selesaikan saja satunya .. aku tidak peduli "


Tak berapa lama Adam sampai disebuah perbukitan yang jauh dari rumah penduduk . Dia berhenti di depan sebuah gudang tua yang lumayan besar . Tempat itu terlihat sudah rapuh dan sangat gelap .


Ada beberapa orang yang menyambutnya , mereka yang membawanya ke sebuah ruangan yang terdapat dalam gudang tua itu . Ruangan itu cukup terang sehingga ia dapat dengan jelas melihat laki laki tambun yang sudah terbaring dengan bersimbah darah dan Gilang yang duduk disebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat tali .


Sesuai perintahnya , Gilang terlihat masih utuh walaupun ada darah di sudut bibirnya . Kemungkinan besar dia melawan saat orang orangnya membawanya secara paksa .


Gilang menatapnya tajam seakan ingin mengatakan sesuatu kepadanya . Mulutnya yang tertutup lakban membuatnya tidak bisa berkata apa apa .


" Lepaskan ikatannya ... dan buka penutup mulutnya ! Aku ingin mendengar kesombongannya lagi karena setelah ini kupastikan ia tidak bisa menyombongkan dirinya lagi . Akan kubuat kau sejajar dengan tanah yang kau pijak "


" Kau pikir siapa dirimu hahh !! " Gilang segera menghambur ke arah Adam setelah ikatannya di buka .


Bibirnya menyeringai ketika berhasil menyarangkan satu pukulan di rahang lawannya . Gilang merasa kemenangan ada di pihaknya .


" Hanya itu kemampuanmu tuan Gilang Perkasa !? "


Dan sekali lagi Adam membiarkan Gilang memukulnya dengan keras tapi tubuhnya tak bergeming sedikitpun ketika menerima pukulan itu .


Adam menatap tajam salah satu orangnya yang terlihat maju akan membantu dirinya .


" Aku peringatkan sekali lagi , jangan ada yang melangkah maju sedikitpun ketika aku menghadapi bedeb*h ini "


Adam tampak menggerakkan tangannya seakan melemaskan persendiannya , dan dia membuka kemeja yang dipakainya .


Tak lama kemudian terdengar teriak kesakitan dan lolongan permintaan tolong . Adam benar benar menyalurkan kemarahannya saat ini . Tanpa ampun dia menghajar pria sombong yang sudah membuat istrinya menangis .


" Bawa mereka ke rumah sakit ... " tunjuk Adam pada dua tubuh penuh darah itu setelah selesai menyalurkan kemarahannya .


Setelah itu dia mengambil ponsel dan menelpon seseorang .


" Apapun caranya beli semua saham Perkasa Group atas nama Gema Aksa Adipraja !!! "


Bukan tanpa alasan Adam memberi perintah itu , cepat atau lambat perusahaan Perkasa Group akan jatuh karena sudah di ambang kebangkrutan .


Dia ingin membangun kembali usaha itu untuk putra satu satunya , Gema Aksa Adipraja sekaligus untuk mengembangkan sayap kerajaan bisnis Adipraja di bidang kuliner . Karena sudah menjadi tugasnya sebagai salah satu pilar Adipraja untuk mengembangkan bisnis mereka .