Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
74


" Kamu marah ? "


" Marah kenapa ? Karena kontrak seumur hidup itu ? Nggak lah ! Daripada kelamaan lihat ulet keket itu terus di depan gue "


Deniel tersenyum geli melihat dokter yang biasanya cerewet dan ceplas ceplos itu dari tadi hanya diam . Rasanya lucu jika melihat Val anteng seperti itu .


" Maaf ya , sepertinya kau harus terbiasa menghadapi wanita wanita seperti tadi jika kau sedang jalan denganku "


" Nyantai aja .. kek di pantai ! Gue cuma risih lihat perilaku mereka , murahan banget !! Sama kaya out fit yang nempel ditubuh mereka . KW semua !! " ujarnya dengan menatap malas pria yang sudah menyelesaikan makannya itu .


" Elo nggak makan !? " tanya Deniel yang melihat Val belum menyentuh kembali makanannya setelah tadi kedatangan tante tante yang pernah memakai jasanya .


" Dah males , ntar pulang kita nyari seblak aja . Yang level sepuluh !! "


" Ya udah sini " Deniel menggeser piring yang ada di depan Vallery .


" Jangan .. itu tadi udah gue makan dikit . Pesen lagi aja kalau elo masih laper "


" Ckk .. daripada mubadzir , dosa " Deniel tetap saja menyantap spaghety yang tadi di pesan oleh Val .


Entah kenapa tapi Deniel merasakan pasta milik Val yang ia makan sekarang jauh lebih nikmat daripada yang pertama ia makan tadi .


" Gimana perasaan elo tadi ketika itu Tante Tante ulet keket nempel nempel sama elo ? "


" Enak sih "


" Ckk .. serius gue !! "


" Lhohh memang enak rasanya , anget anget gimana gitu . Tapi kan yang penting gue nggak tergoda ! "


" Bohong .. "


" Modelan kendor kaya gitu nggak bakal bikin gue on . Dulu gue masih gila , masih penasaran gimana rasanya making out sama wanita keriput kaya tadi "


" Keriput apanya , wajah masih kenceng gitu "


" Wajah mah bisa oplas neng !! Dalamnya tetap keriput semua "


Vsllery tertawa terbahak mendengar kata kata Deniel yang dirasanya sangat konyol .


" Pernah dapat yang virgin !? "


" Mana ada virgin pakai jasa gue !! "


" Terus elo paling lama bisa main dengan modelan kayak apa ? "


" Kayak elo ... "


" Ckk .. " Vallery melempar sebuah tisu ke arah Deniel .


" Gue harus jujur , itu yang elo bilang kemarin kan ! Gue memang suka cewek model kayak elo . Cantik , cerewet , badan sedeng lah.. nggak berlebihan . Tipis enggak tebel juga enggak ! Terus pintar , gue suka sama cewek yang bisa menggunakan otaknya daripada cuma ngandelin badan "


Mungkin Val dapat menyangkal lewat mulutnya tapi hatinya bertalu mendengar semua pujian pria di depannya . Padahal sudah jauh jauh hari dia membentengi dirinya sendiri , dia sudah berkata pada dirinya sendiri agar tidak terjatuh dalam pesona pria cassanova seperti pria di depannya ini .


" Gue juga tau elo nggak akan suka sama gue Dokter cantik kaya elo pasti banyak yang ngantri "


" lyalah .. pasien pasien gue tiap hari ngantri " kilah Val .


" Kenapa elo nggak jijik sama gue !? Nggak takut pergi pergi sama gue ? "


" Takut sih , makannya gue selalu ajak elo keluar di tempat tempat seperti ini . Biar elo nggak macem macem "


Deniel hanya terkekeh , padahal jika iya mereka ada di tempat sepi bahkan kalau di kamar pun Vallery tidak perlu takut padanya . Pemegang sabuk hitam taekwondo itu kemarin sudah menghajarnya habis habisan .


" Nggak inget elo udah bantai gue kemarin !? "


" Tapi gue tetep aja takut , kalau cuma berdua sama elo rasanya badan gue panas dingin . Gue takut sama tatapan mata elo ke gue . Gue takut pada setiap detil bahasa tubuh elo . Karena ketika gue mencoba untuk menikmatinya ... semakin lama gue semakin nyaman sama elo . Entah , tapi gue seneng ada disisi elo ! "


" Mukanya nggak usah dibikin gitu gitu amat . Mau muntah rasanya lihat elo senyum senyum kayak gitu " pekik Val yang melihat Deniel malah tersenyum lebar ketika mendengarkan kata katanya .


" Perasaan elo melek tapi kenapa udah ngigau gitu sih !? Yuk pulang , udah kenyang banget gue . Elo yang nyetir ya ! Gue kalau kenyang bawaannya ngantuk soalnya" kata Deniel sambil melemparkan kunci mobil ke arah Val .


" Nggak mau !! enak aja gue jadi supir "


Mereka akhirnya keluar dari mall itu ke basement area parkir . Mereka tidak menyadari ada sepasang mata di balik kemudi yang menatap mereka dengan tajam . Ada kebencian yang jelas terlihat di balik tatapannya .


BBRRUUMMMM ...


" Awasss ... !! "


Deniel menarik tubuh Val ke dalam pelukannya karena ada mobil dari arah belakang yang melaju sangat cepat , sepertinya sang pengemudi memang sengaja ingin menabrak mereka .


Terbukti walau mereka sudah berjalan dipinggir tetap saja sang pengemudi memepet mereka .


" Bangs*t !!! "


Deniel mengumpat sang pengendara mobil . Jika tidak bersama Vallery mungkin ia akan mengejarnya apapun caranya . Tapi sepertinya wanita dalam pelukannya itu sedang ketakutan .


" Val ... kau baik baik saja !? "


Vallery menengadahkan wajahnya untuk melihat pria yang saat ini masih memeluknya .


" Tidak , aku tidak sedang baik baik saja "


" Kita ke rumah sakit " Deniel langsung membopong tubuh Val menuju ke mobilnya .


Dia tampak sangat khawatir ketika dokter cantik itu mengatakan bahwa tidak sedang baik baik saja .


Sementara Vallery sedang merutuki dirinya sendiri , sepertinya usahanya gagal. Dia gagal membentengi perasaannya . Vallery semakin menenggelamkan kepalanya di dada Deniel . Dengan sangat lirih ia berkata ...


" l love you ... "