
Bumi , Adam dan Jerry dan Dewa terlihat berada di depan ruangan UGD , wajah wajah tampan itu terlihat pias . Adam dan Jerry tak henti hentinya menguatkan sahabatnya . Sedang Dewa tenggelam dalam diamnya .
Dokter mengatakan bahwa kondisi Janu kritis , karena dia sempat kehilangan banyak darah . Beruntung Dewa mempunyai golongan darah yang sama dengan Janu hingga tadi bisa langsung tertolong .
Adam sempat bercerita pada Bumi tentang peristiwa penembakan tadi siang . Cerita berawal dari para penjaga yang melihat Putra membawa senjata tajam mendekat ke arah nyonya muda mereka .
Tidak ingin membuat Aira panik maka mereka dengan diam menyeret Putra ke arah area parkir . Tapi kejadian tak terduga kemudian terjadi , melihat Bumi berada di dalam mobilnya Putra berontak dan berlari keluar .
Para penjaga terpaksa menembak kakinya sebanyak dua kali karena ternyata pria parubaya itu menyembunyikan senjata di balik bajunya . Dan naasnya mereka lupa memasang peredam.di senjata yang digunakan untuk menembak Putra .
Melihat Bumi keluar dari mobil , dalam kesakitannya Putra menembaknya dengan asal . Dan peluru itu malah mengenai bayi malang yang sedang Bumi gendong .
Putra memendam dendam karena Alfian ataupun Bumi tidak kunjung membebaskan putrinya . Dia mengira dua orang tersebut sengaja membuat ataupun melihat putrinya menderita . Putra sama sekali belum mengetahui kebenaran bahwa putrinya saat ini sedang mengandung .
Jika saja saat ini putranya tidak dalam keadaan seperti ini maka dipastikan dia sendiri yang akan menghabisi pria tua itu . Pikirannya kalut akan bagaimana keadaan sang istri dan keadaan Janu .
Dan bagaimana nanti saat ia bertemu dengan istrinya . Bagaimana ia bisa mempertanggung jawabkan hal ini , ia bahkan tak bisa menjaga putra pertamanya . Dia berpikir terlalu gegabah hingga tidak memikirkan tentang keselamatan Janu .
" Mas , Om Alfian kirim pesan kalau Mbak Aira ngotot pengen kesini mau lihat Janu . Apa di ijinkan sama Mas !? "
" Besok pagi saja Wa , sudah ada kita berempat yang tungguin Dede . Kalau ada apa apa kita pasti kasih kabar kok "
" Iya Mas , tapi Dewa nggak yakin kalau Mbak Aira mau nurut "
Bumi hanya mengangguk dengan menghembuskan nafasnya kasar . Karena kecerobohannya semua menjadi seperti ini .
" Dam !! Tua Bangka itu di mana sekarang !? "
" Udah di bawa pihak yang berwajib , kejadian itu kan ada di tempat umum . Jadi polisi langsung datang . Kenapa !? "
Bumi tak menjawab tapi tatapan matanya menjelaskan semuanya .
" Jangan kotori tanganmu dengan orang tidak berguna macam dia ! Sekarang elo nggak sendiri , udah punya anak bini . Jangan lakukan hal hal yang bisa membahayakan keluarga elo "
Adam tahu apa yang ada di pikiran Bumi saat ini , pasti sahabatnya itu ingin sekali membantai pria bernama Putra itu . Sebenarnya dengan mudah ia bisa saja membawa Putra ke markas Adipraja .
Markas sekarang di gunakan untuk rumah singgah para gelandangan . Rumah singgah itu diolah oleh Bumi langsung . Ada dua bangunan sebenarnya , satu untuk tempat tinggal para gelandangan dan satunya untuk tempat istirahat jika Bumi ataupun keluarga Adipraja yang lain ingin singgah di sana
" Mas ... "
" Ya Wa , ada apa ?
" Mbak Aira berkeras untuk ke sini , dia dalam perjalanan "
Bumi hanya mengangguk , nyatanya Janu adalah segalanya bagi sang istri . Seorang ibu pasti ingin selalu di samping putranya apalagi dengan keadaan Janu seperti ini .
" Nggak usah ngegas kalau bini elo datang kesini , jangan marah marah ! Dia kesini karena mengkhawatirkan putra kalian " ujar Jerry yang di balas dengan tatapan sinis dari para sahabatnya .
" Yahhh salah ngomong gue " Jerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal .
Ketenangan mereka dikejutkan oleh suara seorang wanita .
" Dimana putraku ... Dewa di mana Janu ?? "
Semua bangkit ketika melihat dua orang wanita dan beberapa penjaga mendekati mereka . Rita tampak berjalan mengiring menantunya karena ia khawatir dengan keadaan Air yang dari tadi tidak berhenti menangis .
Bumi melangkah maju ketika melihat istrinya berjalan ke arah mereka . Tapi hatinya mencelos ketika Air malah berjalan ke arah Dewa dan memeluknya .
Dewa pun tak kalah kaget ketika Aira malah datang padanya , padahal Bumi sudah menyambutnya . Netranya melihat ke arah kakak iparnya , dan ia melihat Bumi hanya mengangguk pelan . Tapi Dewa bisa melihat sedikit rasa kecewa terselip di sana .
" Janu mana Wa ... Embak ingin gendong dia , dia pasti ingin bersama Embak . Antarkan aku padanya "
Dewa menepuk lembut punggung kakaknya ketika Air mulai menangis pilu .
" Kita berdoa saja Mbak , Janu anak yang kuat dia pasti bisa melewati hal ini ! Jangan seperti ini , Embak harus kuat demi dia "
" Tapi dia putraku ... "
" Dewa tau Mbak , tenang ya ... kita di sini bersama untuk mendoakan yang terbaik buat Janu "