
" Mba Sus bikinin es teh dong !! Sukur sukur ditemenin bolu pandan sama brownies " kata Deniel yang pagi itu sudah duduk di toko milik air .
" Ya tuan !! "
Wanita yang sudah pernah bekerja dengan Deniel cukup lama itu segera ke dapur untuk menyiapkan pesanan laki laki tampan itu .
Air yang melihat asistennya membuat es teh pagi pagi seperti ini sudah hafal siapa pemesannya .
" Deniel lagi di depan mbak !? "
" lya bu , biasa .. minta es teh sama bolu "
Air segera berjalan ke depan di mana Deniel sedang duduk . Dia ingin membicarakan tentang konsep kafe yang masih mereka garap . Ternyata tidak semudah yang ia pikir membuat sebuah kafe dengan sebuah konsep .
Senyum Deniel mengembang melihat bayi lucu dalam gendongan Air . Dia memang sudah jatuh hati pada Janu sejak pertama ia melihatnya . Begitu pun dengan Janu , bayi gembul itu langsung mengulurkan tangannya ketika melihat Deniel di depannya .
" Woooiii ... my boy !! Tambah gembul aja sih !! Sini sama Papa Deniel "
" Ckk , mulai .. "
Air berdecak kesal ketika Deniel menyebut dirinya sendiri sebagai papa dari putranya . Bukan apa apa tapi jika Bumi disitu pasti akan menjadi ribut . Dua pria itu memang suka sekali berseteru .
" Dua minggu lagi aku akan mulai merenovasi kafenya . Setelah selesai kita akan belanja untuk interior dan eksteriornya "
" Tapi pinjamanku pasti akan sangat membengkak . Pasti butuh biaya sangat besar untuk merealisasikan semuanya "
" Jangan seperti orang susah , black cardmu bahkan bisa membeli Jakarta ! Aku yang akan mengurus semua , jangan pikirkan tentang anggaran semua masih bisa aku atasi "
" Bercandamu tidak lucu !! Aku tahu kau menjual mobilmu . Aku harap itu tidak ada hubungannya dengan usaha kita "
" Heiii ... aku cukup kaya jika hanya untuk membuat sebuah kafe . Aku menjualnya karena hanya ingin ganti mobil baru . Bukan jatuh miskin ! "
" Om Deniel sombong ya De " ujar Air pada putranya yang ternyata sudah menghancurkan brownies milik Deniel . Tangan mungilnya ternyata sudah meremat roti di depannya hingga tak berbentuk .
Roti itu sebagian sudah masuk ke mulut bayi gembul itu . Dan hal itu malah membuat Deniel tergelak . Dia mengambil alih bayi itu setelah Air susah membersihkan mulutnya yang belepotan coklat .
" Adipraja maju pesat setelah dipegang oleh suamimu . Apa kau tahu ? Bumi dinobatkan sebagai pengusaha muda yang paling berpengaruh tahun ini "
Air bukan tidak tahu kehebatan black card yang ia miliki . Tapi ia ingin membangun usahanya dengan penghasilannya sendiri . Dia ingin belajar berbisnis tanpa campur tangan keuangan dari suaminya .
" Bu , dari tadi ponsel ibu berbunyi . Sepertinya bapak yang menelpon " salah satu waiter memberitahukan Air bahwa ada telpon untuknya .
" Oke mamah .. " Deniel bersuara mirip anak kecil dengan menggerakkan dua tangan Janu . Deniel memang suka memasukkan makanan apapun ke dalam mulut Janu , lagipula bayi gembul itu memang suka sekali memakan apapun yang dia lihat .
Hari sudah mulai siang , toko semakin lama semakin ramai . Deniel akhirnya bangkit dan membawa Janu , dia ingin membawa bayi gembul itu ke ruko sebelah tempatnya biasa istirahat . Suasana yang ramai membuat Janu tidak nyaman .
" Main sama papa Deniel yuk ! Kita telpon Tante Val ... eh Mama Val ya , siapa tahu bisa nemenin kita "
Tak henti hentinya Janu tertawa karena Deniel menciumi perut buncitnya .
" Berhenti ... kau bawa kemana anak itu ? "
Langkah Deniel terhenti ketika mendengar suara berat seorang laki laki yang sepertinya sedang memperingatinya . Dia menoleh ke arah suara itu dan seorang laki laki tinggi besar berpakaian hitam sedang menatapnya tajam .
" Kau berbicara denganku !? "
" Jangan lancang membawanya , dia bukan anakmu !! Berikan dia padaku atau aku akan membuatmu tak akan pernah bisa melihat hari esok lagi !! " Terra menatap tajam pria yang sudah berani menyentuh putra dari wanita impiannya .
Bukannya takut Deniel malah tertawa mendengar kata kata penuh ancaman dari Terra .
" Aku papanya , memang kenapa jika aku membawanya hahh !? ltu tidak ada urusannya denganmu "
Tangan Terra terkepal , jika saja Janu tidak berada di gendongan Deniel dapat dipastikan ia akan baku hantam dengan pria yang terlihat lebih muda darinya itu .
Pria muda itu mengaku sebagai ayah dari bayi itu , yang berarti pemuda itu mengumumkan bahwa ia juga menyukai Aira . Wanita yang sudah ia klaim sebagai calon istrinya .
Terra merangsek maju ingin merebut Janu dari tangan Deniel tapi badannya terhuyung ke belakang ketika seseorang menarik tubuhnya ke belakang . Dia melihat seorang laki laki memegang bahunya dengan cukup kencang .
" Siapa kau , beraninya menyentuhku !! "
" Aku papa dari bayi yang ingin kau ambil , jangan berani sekalipun menyentuhnya !! Dia putra kami ! Kau lihat ?? Dia sudah ketakutan karenamu "
Deniel ingin tertawa dalam hati ketika Varo juga mengaku sebagai papa dari bayi gembul yang ia gendong . Padahal biasanya laki laki itu yang tak suka jika ia menyebut dirinya sebagai papa dari Janu .
Varo dan Terra sudah saling berhadapan , sedang Deniel terlihat sangat menikmati suasana itu .
" Janu sebentar lagi kamu akan melihat dan belajar bertarung dari papa Varo . Jika papa Varo menang maka Papa Deniel janji akan mentraktirnya es teh bikinan mama "
Tapi suasana tegang itu seketika buyar ketika suara lembut Air terdengar dari dalam toko .
" Apa yang sedang kalian lakukan di luar sana ! "