Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
117


BRRAAKKKK ...


" Siapa yang menjadi milikmu ? Kau tahu siapa namanya ? Kau tahu kisah hidupnya ? Apa kau mengenal keluarganya ? Kapan kau mengenalnya ? "


Alex hanya menghela nafas melihat pria tua di depannya yang masih mampu memecahkan meja kaca tebal di depannya . Putranya memang sudah melebihi batasnya , wajar jika pria sesabar Alfian bisa murka .


" Tapi dia milikku !! "


" Hanya pria bodoh yang berpikir sepertimu . Kau terlalu mudah menberikan hatimu . Kau menyebut Narra sebagai jal*ng , tapi kaulah jal*ng itu !! Pria yang memberikan jiwa dan raga untuk wanita yang bahkan tidak mengenalnya . Dan setelah itu apa ?? Kau akan membuangnya sama seperti kau membuang Narra ? Lihat ayahmu , dia melakukan apa saja untukmu . Dan lihat balasan yang dia dapat darimu !! Hingga di masa tuanya ia masih sibuk untuk melindungimu "


" Aku tidak butuh dilindungi siapapun " sanggah Terra tetap saja kukuh pada pendiriannya .


" Jika bukan karena ayahmu , melenyapkan dirimu adalah hal yang sangat mudah bagiku . Tapi kami sama sama seorang ayah dari seorang putra . Kami ingin kebahagiaan untuk kalian "


" Omong kosong !! " Terra merangsek maju ingin menyerang Alfian .


BUGGHHH ....


Tapi tubuhnya disambut sebuah pukulan keras dari Bumi . Mata Bumi terpejam , memorinya mundur saat beberapa tahun yang lalu saat ia melindungi papanya dari seorang penjahat yang sangat dibencinya .


Nafas Bumi sudah tidak beraturan lagi , matanya menggelap sepertinya kemarahan sudah menguasai hati dan pikirannya . Dua pria itu mempunyai kemampuan bela diri yang sama sama mumpuni .


Reynand maupun Bumi sudah dididik dengan keras sedari kecil . Mereka diajari bertarung dengan tangan kosong ataupun menggunakan senjata . Mereka juga sudah tidak asing dengan senjata api jenis apapun .


Begitupun Terra , dia mulai mengenal bela diri sejak Barnett Brown memberi sang ayah orang orang yang mumpuni untuk menjaga mereka . Sedikit demi sedikit Terra belajar bagaimana bertarung untuk membela diri .


" Jangan berani kau sentuh papaku !!! "


DUUGGHH ..


Terra berhasil menyarangkan pukulannya tepat di rahang kanan Bumi , tapi pukulan itu tampaknya tidak begitu berpangaruh pada pria yang ia benci itu .


Bumi memang sengaja membiarkan pria gila di depannya untuk memukulnya , dia hanya ingin mengukur kekuatan lawannya . Bumi menyeringai dengan satu ujung jari menyentuh rahangnya .


" Hanya ini yang kau mampu !? Hanya dengan ini kau akan melawanku !?? "


Pertarungan sengit sudah di mulai , mereka menggunakan teknik memukul dan menendang . Sedang para pengawal masing masing kubu hanya diam ditempatnya .


Alfian tak mengijinkan para pengawalnya ikut campur , begitupun Alex yang mengerti dengan cara pikir Alfian . Bagaimanapun gilanya putranya tapi Terra sama sekali bukan tandingan Bumi .


" Tuan besar ... " lirih Adam yang melihat ada yang tidak beres dengan sahabatnya .


Alfian hanya mengangguk , dia mengerti Adam khawatir jika Bumi akan mengulang masa gelap itu . Tapi jauh di lubuk hatinya Alfian yakin Aira sudah membawa perubahan besar pada putranya . Bumi tidak akan terjerumus lagi pada masa kelamnya .


" Jauhi istriku !! Kau dengar !! Jika sekali saja aku mendengar kau masih mencoba menemuinya aku pastikan aku membunuhmu saat itu juga !! "


Bumi mencekal kerah kemeja Terra dan memepetkan tubuh pria itu di tembok .


" Kenapa ? Karena aku tak pantas untuknya ? Berkacalah tuan Bumi ... Kau pun sudah pernah menyiksanya dengan kejam , kau buat neraka untuknya ! Kau ingat !? Apa kau pantas untuknya hahhh !?"


" ltu bukan urusanmu bajing*an !! "


Bumi membabi buta memukul semua bagian tubuh Terra , dia tak suka jika di ingatkan kembali semua dosa yang pernah ia perbuat pada anak dan istrinya . ltu amat sangat menyiksanya .


Adam kembali menyebut nama tuan besarnya ketika melihat Terra sudah terkulai tak berdaya di bawah kuasa Bumi yang masih dengan hebat melayangkan pukulan pukulannya .


" Cukup nak .. biarkan dia hidup " Alex berkata tanpa melihat ke arah putranya .


Dia sengaja membiarkan hal itu terjadi agar putranya tersadar dari mimpi mimpinya untuk mendapatkan Aira . Jika tidak seperti itu Terra akan terus saja berpikir bahwa dirinyalah satu satunya pemilik dari wanita yang sudah menjadi menantu keluarga Adipraja .


" B ... kita pulang . Urusan kita sudah selesai di sini " Adam mencoba menghentikan aksi brutal sahabat sekaligus atasannya .


" Urusanku selesai jika pria brengsek ini sudah mati !! "


Alfian menghela nafasnya , Bumi Attala Adipraja adalah mesin pembunuh yang sempurna . Oleh karena itu dulu ia menyerahkan tampu kuasanya pada anak pertamanya karena Reynand selalu bisa mengutamakan logika daripada emosinya .


" B ... tadi istrimu mengirim pesan padaku , dia bertanya apakan kau dalam keadaan baik baik saja . Apa perlu aku katakan padanya bahwa suaminya sedang ingin membunuh pemuja rahasianya !? "


Sukses !! Adam sukses menghentikan kegilaan Bumi hanya dengan menggunakan nama istri atasannya itu . Bumi bangkit dan berjalan menjauhi tubuh Terra yang tergeletak di lantai .


Sebelum pergi dari ruangan itu Alfian mendekat dsn menepuk bahu Alex yang masih saja termangu . Alfian bisa merasakan kegundahan hati Alex , pria itu pasti serba salah .


Karena jika kali ini dia membela Terra , berarti dia menjatuhkan anaknya ke lubang kehancuran yang lebih dalam . Tapi ia juga tak tega melihat anaknya yang sudah berada di antara hidup dan mati di atas lantai .


" Saya kagum pada anda tuan Alex , anda adalah pria yang kuat !! Dan anda adalah ayah yang terbaik bagi putramu "


Ketika Alfian , Adam dsn beberapa orangnya sudah keluar menyusul Bumi yang tadi sudah terlebih dulu keluar dari ruangan tadi , mereka di buat jengah dengan percakapan Bumi yang pasti menelpon sang istri .


" Ya sayang .. fix yang merah saja ! Kamu sudah sering memakai warna hitam sayang "


~ Hayooo apa itu merah sama hitam .. siapa yang tahu cuunngg !!! Yang jelas bukan warna kerokan ya ! Terus dukung emak ya 🙏🙏 ~


"