Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
27


Pagi pagi sekali sebelum matahari menampakkan sinarnya Air sudah bersiap siap pergi dari apartemen suaminya . Tadi malam ia sudah berhasil menemukan rumah sewa murah yang di dapat dari bantuan seorang teman .


Kebetulan rumah itu milik orang yang pernah dibantunya saat ia masih menjadi istri Reynand dulu . Air bisa membayar sewanya setengah dahulu dan sisanya bisa dicicil setelah ia tinggal di sana .


Dengan susah payah ia menyeret kopernya menuju lobby apartemen . Ketika dia sedang menunggu taksi ada sebuah mobil mewah warna merah berhenti di depannya . Air terkejut ketika sang pemilik mobil menurunkan kacanya , Deniel .


" Hei selamat pagi Air , kau mau pergi kemana pagi pagi seperti ini . Udara masih menusuk tulang seperti ini , kasihan Janu bisa bisa dia pilek nanti "


" Ehmmm .. selamat pagi juga . ltu , aku hanya ingin membawa baju bajuku ke laundry . Kalau siang panas ! " jawabnya sekenanya , Air terlalu gugup saat ini .


Deniel turun dari mobil menghampirinya , pria muda itu terlihat tertawa kecil mendengar penuturan dari Air .


" Baiklah ... apapun katamu . Aku akan mengantarmu . Dan kali ini aku tidak ingin mendengar penolakan "


Deniel meletakkan koper Air di bagasi mobil dan membuka pintu depannya . Tapi Air masih terpaku pada tempatnya .


" Masuklah ! Dan ini ... "


Deniel menyodorkan sebuah botol kecil padanya .


" Apa ini !? "


" ltu cuma botol berisi serbuk cabai . Bawalah jika kau khawatir aku punya niat jahat padamu . Kau bisa menyemprotnya ke arah mataku jika aku berkelakuan aneh aneh . Sekarang cepat masuk "


Air terpaksa menuruti Deniel , ia duduk di kursi depan dengan mendekap Janu . Deniel benar udara pagi ini memang terasa dingin sekali .


" Kamu darimana pagi pagi begini ? " tanya Air untuk memecah keheningan .


" Tadi Varo memintaku untuk menjemputnya dari Bandara . Dia sudah pulang dari Surabaya dini hari tadi . Aku ingin pulang setelah drop dia di apartemennya , tapi kebetulan aku melihatmu di pinggir jalan "


" Ehmm .. aku ... "


" Itu urusanmu .. tak perlu menjelaskan apapun . Aku tak bertanya soal kenapa kau pagi pagi begini sudah ada di pinggir jalan " Deniel hanya ingin menghargai privasi Air .


" Tadi malam aku sudah dapat rumah kontrak , mahal jika aku harus menyewa apartemen terus " Air mencoba mencari alasan yang tepat mengenai kepergiannya karena tak mungkin ia bilang habis di usir oleh suaminya sendiri .


" Kenapa harus cari rumah sewa ? Bukankah kemarin kita sudah sepakat untuk membuat toko ? " tanya Deniel .


' Aku tidak enak sama kamu , lagian kan belum ada proses untuk permohonan pinjam uang di bank tempatmu bekerja "


" Tapi .. "


" Tidak ada tapi , jarak ruko juga tidak terlalu jauh dengan supermarket Varo jadi kamu masih bisa menyuplai kue kue kamu kesana " Deniel tak bisa membiarkan Air dan Janu hidup di lingkungan yang ia belum tahu keadaannya .


Entah , tapi dia merasa punya tanggung jawab jika terjadi apa apa pada dua orang disampingnya .


Mereka sampai di sebuah area parkir sebuah kawasan ruko yang terlihat mewah . Ada sekitar lima ruko yang berjejer dengan Mading masing ruko mempunyai bentuk bangunan yang berbeda . Semua terlihat unik dan mewah .


Lima bangunan itu adalah milik Deniel , dulu ia buat karena menolong beberapa teman yang ingin membuka usaha sendiri .


" Kau suka ? " tanya Deniel ketika sudah ada di dalam salah satu ruko miliknya .


" Suka banget , ini beneran punya kamu ? "


" Bukan , tapi aku sudah terlanjur menyewanya selama dua puluh tahun " jawab Deniel sekenanya . Dia tak ingin Air curiga jika sebenarnya ia seorang kaya raya. .


Ruko itu memang sangat cocok untuk ia buat sebagai toko roti karena ada ruang dapur yang cukup luas di lantai bawah . Dia benar , dulu Deniel memang membuat itu untuk temannya yang mempunyai usaha roti .


Deniel membantu Air membawa kopernya menuju lantai atas . Di lantai atas pun Air tak henti hentinya memandang dengan penuh kekaguman . Deniel benar benar memperhatikan setiap detil ruangan tempat mereka berdiri sekarang .


Cat warna soft membuat ruangan itu serasa hangat , dia pasti akan sangat betah disini .


" Kau istirahatlah dulu .. ada lemari pendingin di bawah . Di sana ada beberapa bahan makanan yang bisa kau buat untuk sarapan nanti . Kita bicarakan ini nanti lagi . Yang penting kau sudah ada di tempat yang aman sekarang . Aku pulang dulu , tapi nanti siang aku kesini lagi "


" Iya ... terima kasih Deniel . Terima kasih kau sudah sangat baik padaku . Padahal kita belum lama saling mengenal "


Deniel hanya terkekeh mendengar penuturan Air yang menurutnya lucu .


" Tak perlu mengenalmu lama untuk mengetahui bahwa kamu adalah wanita sekaligus ibu yang baik "


Setelah Deniel pergi Air mulai membereskan barang barangnya mumpung Janu masih pulas . Air tahu benar sebentar lagi pasti putranya akan bangun kehausan .


Walau sedikit lelah senyum mengembang di sudut bibirnya , Air sudah tidak sabar untuk memulai usahanya . Air meraih ponselnya ketika ada panggilan dari seseorang .


" Dewa ?? " gunanya ketika tahu sang adik yang sedang menelponnya .


~ Tuh Mas Bum .. orang lain saja sudah bisa tahu mbak Air wanita baik walau baru beberapakali bertemu . Lahh kamu ? Ganteng ganteng rabun🤣🤣🤣 ! Jangan lupa jempolnya guyyss ... vote and comen juga ~