Menikahi Janda Kakakku

Menikahi Janda Kakakku
132


Mereka sangat menikmati waktunya saat ini , menyantap menu sederhana disebuah saung yang masih berada di tengah kota Jakarta . Berbagai macam hidangan tersaji di depan mereka .


" Yakin habis nih ?? "


Bumi menatap semua hidangan yang ada di depannya , tidak biasanya Air memesan makanan sebanyak ini .


" Butuh banyak tenaga untuk menghadapi orang orang yang menyebalkan di sekitar kita Mas "


' Kamu lagi marahan sama siapa ? "


" Makan dulu Mas , yang lain urusan nanti "


Air masih saja melayani sang suami dengan baik . Sebenarnya niat awalnya adalah hanya untuk keluar untuk mencari tempat yang tepat untuk berbicara . Dia ingin menyelesaikan semua masalahnya bukan di depan Janu atau keluarga Adipraja yang lain .


Air tidak suka dengan ketidakjujuran sang suami , apapun alasannya ia ingin semua terlihat transparan dalam biduk pernikahannya .


Dan yang paling menyebalkan bagi Air adalah Bumi sepertinya tidak mengerti dengan kekecewaan di hatinya Pria itu terlihat sangat menikmati makanan di depan mereka .


" Sayang ... "


" Eh ... iya Mas "


Air tersentak dari lamunannya , dia melihat Bumi sudah menyelesaikan makannya .


" Di habisin dulu makanannya , melamunnya nanti "


" Apa sih Mas ! "


Bagaimana ia bisa makan jika ada banyak pertanyaan yang ada di hatinya . Tapi ia tetap mencoba menyuapkan apa yang sudah ada dipiring ke mulutnya .


" Ada yang mau kamu tanyakan sayang !? " tanya Bumi yang sudah melihat istrinya menyelesaikan makannya .


" Bertanyalah mumpung Mas memberimu kesempatan untuk bertanya . Karena kadang ada hal hal yang memang tidak bisa Mas ceritakan ! Bukan karena aku tidak jujur ataupun terbuka , tapi karena tugas utamaku yang harus menjaga anak dan istri sekaligus penerus Adipraja "


Aira mengambil selembar tisu dan menyapu ujung bibir sang suami yang terlihat sedikit berminyak .


" Apa sih yang Terra lakukan hingga Mas terlihat begitu sangat khawatir padaku ? Aku selama ini sudah mengalah dengan menuruti keinginan Mas yang melarangku pergi kemanapun . Walau aku tak pernah tahu alasannya . Karena kewajibanku adalah mengikuti semua kata kata dari suamiku . Tapi ini sudah hampir satu bulan Mas , aku capek dengan semua aturan yang Mas buat "


Bumi menghela nafas mendengar penjelasan panjang sang istri . Tapi dia tetap serius untuk mendengarkan semua isi hati istri tercintanya . Sebenarnya dia sedikit kaget karena tak menyangka Aira sudah tahu mengenai Terra .


" Aku adalah istri Mas , apa salah jika aku mau kamu selalu terbuka padaku ? Apa Mas tidak percaya padaku ?! "


Bumi merengkuh pinggang istrinya dengan hanya menggunakan satu tangannya . Dia menarik pinggang itu hingga tubuh mereka merapat .


Bumi membawa kepala Air agar bersandar di dadanya . Sedangkan dia sendiri bersandar pada salah satu tiang saung . Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya .


" Mas hanya tidak mau kamu menjadi ketakutan jika tahu seperti apa Terra sebenarnya "


" Memang dia seperti apa !? Dia baik kok Mas sama aku "


" Dia psikopat gila yang sudah tergila gila padamu , dia terobsesi untuk memilikimu dan Janu ! Aku dan Papa tak bisa membiarkannya , itu alasan kenapa kami terlihat sangat over protektif menjaga kalian . Kalian adalah prioritas kami . Kalian adalah segalanya bagi Mas "


" Masa sih Mas , pantes dari awal Deniel terlihat sangat memusuhinya "


" Kok jadi Deniel sih Yank !! "


Aira mengeratkan tangannya yang melingkar pada perut suaminya , ia lupa jika Bumi tidak akan suka jika ia menyebut nama pria lain jika sedang berdua seperti ini .


" Maaf ... terus apa yang sudah Mas lakukan pada pria gila itu !? "


" Nggak Mas apa apain , cuma sedikit peringatan agar dia tak lagi muncul di depan kita "


" Ooooo ... "


Ketika mereka sedang menikmati waktu ada dua wanita dan dua orang pria yang terdengar menyapa Aira .


" Aira !! Kamu bener Aira kan ... "


Bumi dan istrinya spontan menoleh , terlihat dua wanita dengan penampilan cukup mencolok berjalan mendekati mereka . Sedang pasangannya berjalan di belakang mereka . Dua pria itu masih lengkap mengenakan setelan kerjanya .


Air melepaskan kedua tangannya yang masih melingkar di perut sang suami . Dan berniat untuk sedikit menggeser duduknya karena merasa posisi mereka saat ini masih sedikit intim . Dan tentu saja Bumi tidak membiarkannya , satu tangannya tetap saja merengkuh kuat pinggang istrinya .


" Mas .. "


Bumi menjawab dengan menggeleng pelan , seakan meminta sang istri untuk tetap disisinya .


" Helen ... Ratu !? "


" lya ini kami , boleh kami bergabung disini ?! Kami juga baru saja selesai makan siang "


Bumi terpaksa menyalami ke empat orang di depannya . Entah kenapa tapi dari awal dia sudah tidak suka dengan mereka .