
Pagi itu Bumi benar benar menepati janjinya , ia mengantarkan sang istri pergi ke tokonya . Sedang Janu belum ia ijinkan untuk ikut ke toko dan dengan senang hati kakek dan neneknya mengasuhnya di rumah .
" Sayang Mas tinggal sebentar ya , Mas ada urusan sedikit sama Adam . Nanti jam makan siang Mas ke sini lagi '
" Iya , kalau memang sibuk banget Mas bisa kesini sore saja . Sekalian kita pulang '
' Kita lihat saja nanti . Ya udah kamu hati hati ya "
" Harusnya Air yang bilang gitu , Mas hati hati ya ! Aira sayang sama Mas " Air mengecup kedua pipi suaminya , begitupun Bumi .
Aira langsung bergegas masuk ke toko rotinya ketika suaminya sudah melesat dengan mobilnya , dan tampaknya tokonya sudah mulai ramai pembeli . Di sudut toko sudah ada laki laki muda yang sedang menikmati es teh manis bersama seiris brownies .
Deniel , Air memang sempat mengirim pesan pada Deniel semalam . Ada sesuatu yang ia bicarakan menyangkut perlakuan sang suami yang tiba tiba tidak mengijinkannya untuk aktif di toko .
" Tumben pawangnya nggak ikut masuk " kata Deniel yang melihat Air berjalan mendekati mejanya .
" Ckk .. kalau dia ikut juga kamu juga bakal langsung pergi " jawab Air langsung duduk di depan pria muda yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu .
" lyalah ... males berdebat sama bucin akut kayak dia "
" Sudah kau selidiki ? "
" Apa yang mau di selidiki kalau aku tidak tahu persis apa masalahnya . Kamu kan cuma bilang pawang kamu tiba tiba over protektif . Buat aku sih itu sudah nggak aneh lagi kalau pawang kamu kayak gitu "
" Setelah di lihat lihat dari laporan , aku kehilangan pelanggan yang biasa pesan cheese cake . Namanya Terra ... "
" Pelanggan yang songong waktu itu ?! Yang tidak suka jika Janu bermain bersamaku ? "
" Ya dia ... dia tidak lagi kesini bersamaan dengan Mas Bumi yang melarangku untuk pergi ke toko "
" Ok .. akan aku selidiki . Aku harap kau berhati hati dengan orang itu , sepertinya dia bukan orang baik "
" Tapi besok aku sudah tidak bisa kesini lagi , ehmmm ... "
Air tertawa karena menyadari kebodohannya sendiri . Beberapa hari tinggal di rumah ternyata membuatnya telat mikir .
" Kamu kapan nikah sama Dokter Val !? "
" Besok aku akan membawanya ke Beijing , setelah itu aku akan menikahinya "
" Beijing !? "
" Rumahku ... Jangan memasang wajah heran seperti itu . Memang kenapa kalau rumahku ada di sana !? "
" Tapi ... "
" Ibuku asli orang lndonesia keturunan Tionghoa dan ayahku lnggris . Mereka menetap di Beijing . Ada yang aneh !? "
Air tertawa pelan , ia tidak menyangka jika Deniel mempunyai silsilah yang cukup rumit . Pantas saja jika wajah pria muda itu terlihat blaster lndo .
Kemarin malam saat makan bersama , Deniel membahas banyak hal dengan Dilla . Sudah lama Barnett dan istrinya ingin mengunjungi putranya di lndonesia tapi mereka khawatir jika si pembangkang itu akan kabur lagi .
Barnett cukup tenang jika Deniel ada di lndonesia karena Varo pasti akan menjaganya . Setelah dipaksa Deniel akhirnya mau video call dengan kedua orang tuanya .
Dan perubahan sikap Deniel yang terlihat mulai melunak membuat Barnett sangat bahagia . Bagi dia putranya adalah segalanya baginya . Dan Vallery berperan penting dengan perubahan itu .
Sedikit demi sedikit gadis itu bisa meruntuhkan ego Deniel yang tak pernah mau memaafkan ayahnya . Seperti Deniel yang menjerumuskan dirinya sendiri sebagai pelayan hasrat para wanita , Barnett pun tak akan luput dari kata khilaf .
Dan semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua . Jika Deniel mendapat kesempatan kedua untuk menjadi manusia yang lebih baik maka ayahnya pun berhak mendapatkan hal yang sama .
Dilla juga yang menyarankan agar keponakannya membawa calon istrinya untuk di kenalkan dengan seluruh keluarga Brown di Beijing . Dilla yakin Barnett dan Hesti ( istrinya ) akan sangat berbahagia mendengar rencana pernikahan itu .
Tanpa mereka semua tahu bahwa Barnet , Hesti maupun Kevin sudah berencana datang ke Jakarta untuk memberi kejutan pada Deniel . Yaitu saat hari ulang tahunnya .