
Di kediaman Adipraja
Suasana kediaman Adipraja sedikit berbeda kali ini . Rumah yang biasa sepi menjadi sedikit ramai karena ada beberapa persiapan yang bertujuan untuk menyambut kepulangan sang tuan rumah .
" Air ... lbu pulang dulu , besok ibu kesini lagi pas mertuamu datang . Jam berapa mereka sampai kesini !? "
" Sekitar jam empat sore Bu " Bumi membantu isterinya menjawab pertanyaan mertuanya .
" Sayang ... aku antar ibu dulu ke rumah " pamit Bumi pada isterinya .
" Ngga usah Nak , tadi Air udah telpon Dewa suruh jemput ibu kok . Katanya mau kesini bersama nak Deniel . Janu biar sama ibu dulu saja , takutnya isterimu besok sibuk di sini "
" Terimakasih Bu " Air menciumi bayinya sebelum ibunya membawanya pergi .
" Ya sudah saya antar ibu ke depan saja kalau begitu "
Setelah mengantar ibu dan putranya , Bumi segera mencari istrinya . Bukan bermaksud mencuri dengar , tapi tadi ia memang tak sengaja mendengar percakapan antara mertua dan istrinya .
Air minta tolong ibunya untuk membawa Janu menginap semalam karena malam ini dia berencana untuk menyerahkan dirinya pada suaminya . Saat pertama mendengar Bu Sri terlihat sedikit terkejut tapi setelah Air memberi penjelasan kemudian ia terlihat mengerti .
Tidak mudah menyerahkan diri saat pernikahan mereka terjadi tiba tiba seperti ini . Mereka butuh waktu dulu untuk saling mengenal dan lebih mendalami karakter masing masing .
Benar saja , terdengar suara air di kamar mandi yang terletak di kamar pribadinya . Bumi tersenyum lebar mungkin saat ini sang istri sedang mempersiapkan dirinya sebaik mungkin .
KLEKK ...
Bumi membuka kamar mandi karena sudah terlalu tidak sabar untuk memulai sesuatu yang dari kemarin selalu urung dilakukan . Bumi menghela nafas tanpa menghilangkan senyum disudut bibirnya . Dia melihat Air sedang berendam di bath up dengan mata terpejam .
Bumi melangkah masuk dan melucuti pakaiannya sendiri dengan menyisakan satu satunya penghalang di area bawahnya . Air yang menyadari kehadiran seseorang di dekatnya segera membuka matanya .
Betapa terkejutnya dia melihat sang suami yang hampir telanjang di depannya . Air memalingkan muka dengan wajah yang sepenuhnya memerah . Tapi Bumi berjongkok dengan tangannya yang terulur menahan dagu istrinya .
" Tatap aku , jangan berpaling sayang ... "
Air menuruti suaminya untuk berpaling ke arah suaminya . Tapi matanya masih saja terpejam , ia tidak berani untuk membuka matanya .
" Sayang ... " lirih Bumi yang masih melihat Air memejamkan matanya .
" Malu Mas ... "
" Biasakan ... biasakan untuk melihatnya "
" Biasakan juga untuk menyentuhnya .. "
Jika bisa Air ingin menghilang saat itu juga saat Bumi yang sudah polos sempurna ikut masuk ke bath up bersamanya . Pria halalnya itu duduk di belakangnya dan memijat punggung polosnya .
" Maaassss ... euugghh "
Air sudah tak karuan ketika bibir suaminya menyusuri sekitar leher dan tengkuknya . Dua tangan suaminya pun sudah memijat lembut dua bukit kembar yang tadi sempat ia tutup menggunakan kedua tangannya .
Air kembali tak bisa mengendalikan dirinya saat satu tangan suaminya sudah bermain di bawah sana . Ia tak bisa lagi menyembunyikan suara suara indahnya . Bumi meraih wajahnya menyamping dan dilum*tnya bibir istrinya .
Bumi tersenyum puas melihat tubuh istrinya yang bergetar hebat ketika mengalami pelepasan pertamanya . Dipeluknya tubuh yang masih di selimuti oleh busa sabun itu .
" Mass ... "
" Bilas dulu yuk sayang , mau di gendong !? "
Air segera menggeleng cepat , ia masih saja malu untuk memperlihatkan seluruh tubuhnya pada Bumi .
" Aku sudah menyentuh semuanya , kenapa harus malu ? "
Air tepaksa menuruti suaminya yang menuntunnya ke bawah guyuran shower yang dingin . Bumi memakai bathrobe nya dan ia dengan telaten mengelap seluruh tubuh istrinya menggunakan handuk .
Setelah selesai mengelap ia melempar handuk itu asal dan langsung membopong tubuh polos istrinya menuju ranjangnya . Air mencubit dada suaminya yang sangat jahil .
" Mas Bumi ngga adil , kenapa Air jadi ngga pakai baju begini sih " jeritnya meronta .
Bumi menurunkannya perlahan di atas ranjang dengan senyum smirknya . Dia juga membuka bathrobe yang ia kenakan hingga mereka sudah sama sama polos sekarang .
" Aku sudah membuat ini menjadi adil sayang ... "
" Masss .. emmpptthh "
Bumi membungkam istrinya dengan bibirnya , mereka saling menyentuh saling memuaskan dan berusaha mencapai puncak bersama sama . Air pun perlahan bisa mengimbangi liarnya sang suami .
Mereka mengarungi malam ini dengan penuh gelora . Bumi tidak pernah mempermasalahkan jika ini bukan yang pertama untuk istrinya . Dari awal dia sudah bisa menerima sang istri apa adanya .
Karena sejatinya cinta bukan tentang yang pertama atau bukan . Tapi tentang rasa saling memiliki , saling melengkapi dan saling mengerti .
Bumi memang mengawali rumah tangganya dengan tidak begitu baik tapi ia berjanji untuk seterusnya akan menjaga dan membahagiakan anak dan istrinya hingga akhir nanti .