
" Nay ... "
Suara bariton itu berhasil membangunkan dia dari lamunannya . Nayya tersenyum ketika melihat pria yang datang ke kamar rawat adiknya .
" Kak Adam ... "
Pria itu yang semalam mengurus dia dan adiknya , bahkan untuk mempersingkat waktu Adam menggunakan heli untuk membawa Seno .
Adam berjalan ke arah Seno yang masih belum sadarkan diri . Dia mengelus lembut dahi anak itu .
" Jam berapa operasinya !? "
" Sebentar lagi Kak "
" Kau sudah makan !? "
Nayya mengangguk dan tersenyum , walau bertampang arogan dan sering berkata pedas tapi dia bisa merasakan Adam adalah pria yang hangat . Pria itu sangat teliti hingga hal sekecil apapun .
" Kau tidak pandai berbohong "
" Tapi Nayya tidak bisa makan kalau Seno masih dalam keadaan seperti itu "
" Kau menjaganya sendiri di sini . Jika kau tumbang kau pikir siapa lagi yang bisa menjaga adikmu !? "
Nayya menunduk , tak terasa air matanya menetes . Adam benar mereka tidak punya siap siapa lagi dalam hidup mereka . Dia tak bisa membayangkan jika harus kehilangan adik satu satunya .
Adam menghela nafas panjang , sepertinya ada kata katanya uang membuat gadis itu bersedih . Dia merutuki mulutnya yang selalu saja berkata pedas pada semua orang .
" Maafkan Kakak , tapi jangan menangis ! Aku tidak suka melihat wanita menangis di depanku ... "
Tak berapa lama ada beberapa perawat yang membawa Seno menuju ruang operasi . Dan Adam tetap menemani Nayya karena merasa gadis itu perlu seseorang disampingnya . Keadaan ini pasti terasa berat untuk gadis yang masih belia sepertinya .
" Operasinya pasti masih lama . Kakak temani kamu makan dulu di kantin ! "
" Tapi ... "
" Jangan membantah Nay .. setidaknya isi perutmu agar kau tidak sakit "
" lya .. "
Mereka akhirnya pergi ke kantin rumah sakit untuk sekedar membeli makanan . Setelah makan seiris kue dan segelas teh hangat mereka kembali lagi ke depan ruang operasi .
" Tidak "
" Apa aku merepotkanmu "
" Sedikit "
Adam ingin tertawa ketika melihat bibir gadis itu sudah mengerucut . Pantas jika Jerry tergila gila dengan gadis disampingnya . Gadis itu benar benar masih murni , seperti batu permata yang belum di asah .
" Saat seperti ini apa kau merindukannya ? " tanya Adam .
" Siapa !? "
" Ckk ... calon suamimu "
" Dia terlalu tinggi Kak , aku tidak bisa menggapainya ! Suatu saat Kak Jerry pasti bisa mendapat wanita yang terbaik , karena dia juga orang baik "
" Dia sudah menyakitimu "
" Ini cuma luka kecil , seiring berjalannya waktu pasti akan sembuh "
Nayya menahan air mata yang kembali menggenang di sudut matanya . Dia tak bisa menyembunyikan jika hatinya masih sakit ketika mengingat perlakuan Jerry padanya .
" Jerry pria yang baik , cintanya padamu membuat pikirannya menjadi gila hingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah . Dia pasti menyesal telah menyakitimu "
" Bagiku cinta adalah hubungan kepercayaan Kak , dari awal aku sadar hubungan ini terlalu cepat untuk kami . Siap tidak siap ... cepat atau lambat semua ini pasti terjadi "
Walaupun masih lugu Nayya adalah gadis yang kuat , pantang menyerah dan selalu berpikiran positif . Adam bisa melihat tidak ada dendam ataupun sakit hati di hati gadis itu walaupun sahabatnya sudah sangat menyakitinya .
*
Sementara itu Jerry sekali lagi kecewa karena mendengar Nayya dan adiknya sudah pergi untuk mendapat pelayanan yang lebih baik . Pamannya juga tidak tahu di rumah sakit mana Nayya memindahkan pengobatan adiknya .
Pikirannya kacau saat ini , dia tidak bisa membayangkan gadisnya menghadapi semua ini sendirian . Uang seratus juta yang di pinjam darinya pun tidak jadi di bawa , padahal biaya pengobatan adiknya pasti sangat mahal .
Di saat Nayya membutuhkan sandaran dia malah melemparnya jauh dari sisinya . Berkali kali Jerry berteriak dan memukul setirnya karena kecewa pada dirinya sendiri .
Dia rindu gadisnya , jika saja tahu keberadaannya dia pasti akan berlari dan memeluknya . Tapi Jerry tahu mungkin Tuhan sedang menghukumnya , sakit yang dia rasa saat ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang sudah dia berikan pada gadis yang sangat ia cintai .